Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Jumat, 08 Oktober 2021, 23:13 WIB
Last Updated 2021-10-10T14:22:04Z
ArtikelInovasi PendidikanPendidikan

Strategi Inovasi Pendidikan

Strategi Inovasi Pendidikan
 
Istilah inovasi dalam organisasi pertama kali diperkenalkan Schumpeter pada tahun 1934. Inovasi dipandang sebagai kreasi dan implementasi ‘kombinasi baru’. Istilah kombinasi baru ini merujuk pada produk, jasa, proses kerja, pasar, kebijakan dan sistem baru. Dalam inovasi dapat diciptakan nilai tambah, baik pada organisasi, pemengang saham, maupun masyarakat luas. Oleh karenanya sebagian besar definisi dari inovasi meliputi pengembangan dan implementasi sesuatu yang baru (dalam de Jong dan den Hartog, 2003) sedangkan istilah ‘baru’ dijelaskan Adair (1996) bukan berarti original tetapi lebih ke newness (kebaruan). Arti kebaruan ini, diperjelas oleh pendapat Schumpeter bahwa inovasi adalah mengkreasikan dan mengimplementasikan sesuatu menjadi kombinasi. Dengan inovasi maka seseorang dapat menambahkan nilai dari produk, pelayanan, proses kerja, pemasaran, sistem pengiriman, dan kebijakan, tidak hanya bagi perusahaan tapi juga stakeholder dan masyarakat (dalam de Jong dan Den Hartog, 2003).

Dalam perkembangan organisasi dari waktu ke waktu di berbagai Negara memunculkan kesepakatan bahwa sumber daya manusia merupakan aspek yang sangat penting, karena konstribusi sumber daya manusia dinilai sangat signifikan dalam pencapaian tujuan organisasi. Dalam rangka pencapaian tujuan organisasi melalui pengelolaan SDM yang dimiliki secara tepat dan relevan dalam aktivitas yang berkenaan dengan manajemen SDM menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari suatu organisasi. 

Strategi Inovasi Pendidikan

Salah satu faktor yang ikut menentukan efektivitas pelaksanaan program perubahan sosial adalah ketepatan penggunaan strategi, tetapi memilih strategi yang tepat bukan pekerjaan yang mudah.
Pada kesempatan ini akan dibahas 4 macam strategi inovasi pendidikan yaitu: 

1. Strategi Fasilitatif (fasilitative strategies)

 
Pelaksanaan program perubahan sosial dengan menggunakan strategi fasilitatif artinya untuk mencapai tujuan perubahan sosial yang telah ditentukan, diutamakan penyediaan fasilitas dengan maksud agar program perubahan sosial akan berjalan dengan mudah dan lancar.
Srategi fasilitatif ini akan dapat dilaksanakan dengan tepat jika diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 

a) Strategi fasilitatif dapat digunakan dengan tepat jika sasaran perubahan (klien)
  • Mengenal masalah yang dihadapi serta menyadari perlunya mencari target perubahan (tujuan).
  • Merasa perlu adanya perubahan dan perbaikan.
  • Bersedia menerima bantuan dari luar dirinya.
  •  Memiliki kemampuan untuk berpartisipasi dalam usaha merubah atau memperbaiki dirinya.
 
b) Sebaiknya strategi fasilitatif dilaksanakan dengan disertai program menimbulkan kesadaran para klien atas tersedianya fasilitas atau tenaga bantuan yang diperlukan.
 
c) Strategi fasilitatif tepat juga digunakan sebagai konpensasi motivasi yang rendah terhadap usaha perubahan sosial.
 
d) Menyediakan berbagai fasilitas akan sangat bermanfaat bagi usaha perbaikan sosial jika klien menghendaki berbagai macam kebutuhan untuk memenuhi tuntutan perubahan yang sesuai diharapkan.
 
e) Penggunaan strategi fasilitatif dapat juga dengan cara menciptakan peran yang baru dalam masyarakat. Jika ternyata peran yang sudah ada di masyarakat tidak sesuai dengan penggunaan sumber atau fasilitas yang diperlukan.
 
f) Usaha perubahan dengan menyediakan berbagai fasilitas akan lebih lancar pelaksanaannya jika pusat kegiatan organisasi pelaksana perubahan sosial, berada dilokasi tempat tinggal sasaran (klien).
 
g) Strategi fasilitatif dengan menyediakan dana serta tenaga akan sangat diperlukan jika klien tidak dapat melanjutkan usaha perubahan sosial karena kekurangan sumber dana dan tenaga.
 
h) Perbedaan sub bagian dalam klien akan menyebabkan perbedaan fasilitas yang diperlukan untuk pekenaan perubahan tertentu pada waktu tertentu.
 
i) Staregi fasilitatif kurang efektif jika :
  • Digunakan pada kondisi sasaran perubahan yang sangat kurang untuk menentang adanya perubahan sosial.
  • Perubahan diharapkan berjalan dengan cepat, serta tidak sikap terbuka dari klien untuk menerima perubahan.
 
Strategi fasilitatif digunakan untuk memperbaharui bidang pendidikan. Dengan adanya kurikulum baru dengan pendekatan keterampilan proses maka perlu ada perubahan dan pembaharuan kegiatan belajar mengajar. Jika untuk keperluan tersebut digunakan pendekatan fasilitatif berarti mengutamakan program pembaharuan itu dengan menyediakan berbagai macam fasilitas dan sarana yang diperlukan.
 
Tetapi fasilitas dan sarana itu tudak akan banyak bermanfaat dan menunjang perubahan jika para guru atau pelaksana pendidikan sebagai sasaran perubahan tidak memahami masalah pendidikan yang dihadapi, tidak merasa perlu adanya perubahan pada dirinya, tidak perlu atau tidak bersedia menerima bantuan dari luar atau dari yang lain, tidak memiliki kemampuan untuk berpartisipasi dalam usaha pembaharuan. 
 
Dengan demikian sarana dan fasilitas akan hanya sia-sia. Oleh karena sebaiknya klien (sasaran perubahan) akan perlunya perubahan serta perlunya memanfaatkan semaksimal mungkin fasilitas dan bantuan tenaga yang disediakan. Demikian pula seandainya dalam pembaharuan kurikulum tersebut disediakan berbagai macam fasilitas media intruksional dengan maksud agar pelaksanaan kurikulum baru dengan pendekatan keterampilan proses dapat lancar, tetapi ternyata para guru sebagai sasaran perubahan belum memiliki kemampuan untuk menggunakan media, maka perlu diusahakan adanya kemampuan atau peranan yang baru yaitu sebagai pengelola atau sebagai pemakai media intruksional. Apalagi jika fasilitas disediakan sedangkan sebagian besar sasaran perubahan adanya perubahan menolak adanya pembaharuan, maka jelas bahwa fasilitas itu akan sia-sia. 

2. Strategi Pendidikan (re-educative strategies)

 
Perubahan sosial didefinisikan sebagai pendidikan atau pengajaran kembali (re-education) (Zaltman, Duncan, 1977: 111). Pendidikan juga dipakai sebagai strategi untuk mencapai tujuan perubahan social. Dengan menggunakan strategi pendidikan berarti untuk mengadakan perubahan sosial dengan cara menyampailkan fakta dengan maksud orang akan menggunakan fakta atau informasi itu untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan.
 
Dengan dasar pemikiran bahwa manusia akan mampu untuk membedakan fakta serta memilihnya guna mengatur tingkah lakunya apabila fakta itu ditunjukkan kepadanya. Zaltman menggunakan istilah “re-education” dengan alasan bahwa dengan strategi ini mungkin seseorang harus belajar lagi tentang sesuatu yang dilupakan yang sebenarnya telah dipelajarinya sebelum mempelajari tingkah laku atau sikap yang baru. Dengan menggunakan srategi pendidikan berarti tidak menutup kemungkinan untuk digunakannya strategi yang lain dengan keperluan.

Hal-hal yang harus perlu dipertimbangkan dalam penggunaan strategi pendidikan agar dapat berlangsung secara efektif. 

1. Strategi pendidikan akan dapat digunakan secara tepat dalam kondisi dan situasi sbb:
  • Apabila perubahan sosial yang diinginkan, tidak harus terjadi dalam waktu yang singkat (tidak ingin segera berubah)
  • Apabila sasaran perubahan (klien) belum memiliki keterampilan atau pengetahuan tertentu yang diperlukan untuk melaksanakan program perubahan sosial.
  • Apabila menurut perkiraan akan terjadi penolakan yang kuat oleh klien terhadap perubahan yang diharapkan.
  • Apabila dikehendaki perubahan yang sifatnya mendasar dari pola tingkah laku yang sudah ada ke tingkah laku yang baru.
  • Apabila alasan atau latar belakang perlunya perubahan telah diketahui dan dimengerti atas dasar sudut pandang klien sendiri, serta diperlukan adanya control dari klien. 

 

2. Strategi Pendidikan untuk melaksanakan program perubahan akan efektif jika:
  • Digunakan untuk menanamkan prinsip-prinsip yang perlu dikuasai untuk digunakan sebagai dasar tindakan selanjutnya dengan tujuan perubahan social yang akan dicapai.
  • Disertai dengan keterlibatan berbagai pihak misalnya dengan adanya sumbangan, dana, donator, serta berbagai penunjang yang lain.
  • Digunakan untuk menjaga agar klien tidak menolak perubahan atau kembali ke keadaan sebelumnya.
  • Digunakan untuk menanamkan pengertian tentang hubungan antara gejala dan masalah, menyadarkan adanya masalah dan memantapkan bahwa masalah yang dihadapi dapat dipecahkan dengan adanya perubahan. 

 

3. Strategi pendidikan akan kurfang efektif jika:
  • Tidak tersedia sumber yang cukup untuk menunjang kegiatan pendidikan
  • Digunakan dengan tanpa dilengkapi dengan strategi yang lain. 

 

3. Strategi Bujukan (persuasive strategies)

 
Program perubahan social dengan menggunakan strategi bujukan, artinya untuk mencapai tujuan perubahan social dengan cara membujuk (merayu) agar sasaran perubahan (klien), mau mengikuti perubahan sosial yang direncanakan. Sasaran perubahan diajak untuk mengikuti perubahan dengan cara memberikan alasan, mendorong atau mengajak untuk mengikuti contoh yang diberikan. 

Srategi bujukan dapat berhasil berdasarkan alasan yang rasional, pemberian fakta yang akurat, tetapi mungkin juga justru dengan fakta yang salah sama sekali (rayuan gombal).Tentu saja yang terakhir ini hasilnya tidak akan tahan lama bahkan untuk selanjutnya akan merugikan. Strategi bujukan biasa digunakan untuk kampanye atau reklame pemasaran hasil perusahaan. Demikian pula sering terjadi dalam komunikasi antar individu di masyarakat, walaupun kadang-kadang disadari bahwa dia melakukan atau menggunakan strategi bujukan. 

Untuk berhasilnya penggunaan strategi bujukan perlu mempertimbangkan hal-hal sbb: 

1. Srategi bujukan tepat digunakan bila klien (sasaran perubahan):
  • Tidak berpartisipasi dalam proses perubahan sosial.
  • Berada pada tahap evaliasi atau legimitasindalam proses pengambilan keputusan untuk menerima atau menerima atau menolak perubahan sosial.
  • Diajak untuk mengalokasikan sumber penunjang perubahan dari suatu kegiatan atau program ke kegiatan atau program yang lain. 

 

2. Srategi bujukan tepat digunakan jika:
  • Masalah dianggap kurang kurang penting atau jika cara pemecahan masalah kurfang efektif.
  • Pelaksanaan program perubahan tidak memiliki alat kontrol secara langsung terhadap klien.
  • Sebenarnya perubahan sosial sangat bermanfaat tetapi menganggap mengandung suatu resiko yang dapat menimbulkan perpecahan.
  • Perubahan tidak dapat dicobakan, sukar dimengerti, dan tidak dapat diamati kemanfaatannya secara langsung.
  • Dimanfaatkan untuk melawan penolakan terhadap perubahan pada saat awal diperkenalkannya perubahan social yang diharapkan. 

 

4. Strategi Paksaan (power strategies)

Pelaksanaan program perubahan sosial dengan menggunakan strategi paksaan,artinya dengan cara memaksa klien(sasaran perubahan) untuk mencapai tujuan perubahan. Apa yang dipaksa merupakan bentuk dari hasil target yang diharapkan.Kemampuan untuk melaksanakan paksaan tergantung daripada hubungan kontrol antara pelaksanaan perubahan sasaran (klien). jadi ukuran hasilnya target perubahan tergantung dari kepuasan pelaksanaan perubahan.Sedangkan kekuatan paksaan artinya sejauh mana pelaksanaan perubahan dapat memaksa klein tergantung daripada tingkat ketergantungan klien dengan pelaksanaan perubahan.
 
Kekuatan paksaan juga dipengaruhi berbagai faktor antara lain: ketatnya pengawasan yang dilakukan pelaksanaan perubahan terhadap klien. Tersedianya berbagai alternatf untuk mencapai tujuan perubahan,dan juga tergantung tersedianya dana (biaya) untuk menunjang pelaksanaan program,misalnya untuk memberi hadiah kepada klien yang berhasil,atau menghukum yang tidak mau dipaksa.
 

Penggunaan strategi paksaan perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
  1. Strategi paksaan dapat digunakan apabila partisipasiklien terhadap proses perubahan sosial rendah dan tidak mau meningkatkan partisipasinya.
  2. Strategi paksaan juga tepat digunakan apabila klien tidak mau merasa perlu untuk berubah atau tidak menyadari perlunya perubahan sosial.
  3. Strategi paksaan tidak efektif jika klien tidak memiliki sarana penunjang untuk mengusahakan perubahan dan pelaksanaan perubahan juga tidak mampu mengadakannya.
  4. Strategi paksaan tepat digunakan jika perubahan sosial yang yang diharapkan harus terwujud dalam waktu yang singkat. Artinya tujuan perubahan harus segera tercapai.
  5. Strategi paksaan juga tepat dipakai untuk menghadapi usaha penolakan terhadap perubahan sosial atau untuk cepat mengadakan perubahan sosial sebelum usaha penolakan terhadapnya bergerak.
  6. Strategi paksaan dapat digunakan jika klien sukar untuk mau menerima perubahan sosial artinya sukar dipengaruhi.
  7. Strategi paksaan dapat juga digunakan untuk menjamin keamanan percobaan perubahan sosial yang telah direncana. 

 

Dalam pelaksanaan program perubahan sosial sering juga dipakai kombinasi antara berbagai macam strategi, disesuaikan dengan tahap pelaksanaan program serta kondissi dan situasi klien pada berlangsungnya proses pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak perubahan sosial.

Petunjuk Penerapan Strategi Inovasi Pendidikan

 
Dalam buku yang ditulis oleh J. Loyd Trum dan William Geogiades yang berjudul “ How to Your School ” (1978) diuraikan tentang petunjuk penerapan inovasi pada suatu sekolah. Uraian ini akan membantu jika mengalami kesukaran untuk menentukan teknik dan strategi mana yang paling tepat untuk memperbaiki sekolah. Misalnya untuk menjawab pertanyaan antara lain : perubahan apa yang tepat untuk meningkatkan mutu sekolah kita? inovasi yang mana paling tepat untuk diimplementasikan? dataapasaja yang diperlukan untuk menunjukkan pengaruh inovasi terhadap program sekolah, siswa, guru, administrator, dan orang tua serta warga masyarakat yang dilayaninya?
Petunjuk penerapan inovasi pada suatu sekolah dapat diuraikan sebagai berikut : 

(1) Buatlah rumusan yang jelas tentang inovasi yang akan diterapkan.
 
Apa yang diperlukan sehingga perlu ada perubahan? Adakah hal-hal lain yang ikut menunjang penerapan inovasi? Untuk mempermudah perumusan tentang kebutuhan dan inovasi yang akan diterapkan, disarankan menggunakan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
  • Mengatur sistem kepenasehatan siswa?
  • Mengubah cara kerja konselor?
  • Mengumpulkan data untuk digunakan sebagai bahan mendiagnosa dirinya sendiri ( self-diagnosis) oleh siswa, guru, dan supervisor yang memperhatikan bagaimana kelompok menggunakan waktu, dalam kegiatan apa saja, dimana kegiatan dilakukan, dengan siapa dilakukan, dan apa hasilnya, dengan tujuan agar dapat mengadakan rediagnosa untuk mencapai perubahan yang konstruktif?
  • Mengembangkan pembagian tugas dan dewan guru dalam menunjang kelancaran program sekolah ( Kejelasan tugas wakil kepala sekolah bidang pengajaran, kesiswaan, sarana, dan sebagainya)?
  • Mengembangkan sistem pengelolaan sekolah agar program sekolah dapat berjalan secara efektif di bawah pimpinan kepala sekolah?
  • Membagi wewenang dan tanggung jawab kepala sekolah kepada para guru, sehingga semua merasa ikut bertanggung jawab atas baik dan buruknya sekolah?
  • Mengusahakan lebih produktif lagi dalam hal mendayagunakan waktu, uang, fasilitas, personal dan berbagai macam sumber lain? 

 

Berikut ini ada beberapa pertanyaan penuntun untuk mempermudah anda membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan mutu sekolah:
  • Apakah Anda secara pribadi menggunakan cara pendekatan komunikasi dua arah untuk memberikan motivasi kepada guru, siswa, orang tua murid, warga masyarakat, dan juga pegawai kantor (tata usaha) untuk mencari cara yang tepat guna meningkatkan efektivitas proses belajar mengajar?
  • Apakah anda dengan rekan-rekan telah mempertimbangkan sejumlah besar alternative dari segala macam aspek persekolahan yang mungkin perlu dilengkapi atau disempurnakan?
  • Adakah kebutuhan siswa, guru, dan orang diluar sekolah yang saat ini belum dilayani oleh program sekolah?
  • Data apa yang telah dimiliki atau mungkin akan segera diperoleh yang akan membantu untuk memberikan motivasi perlu adanya inovasi?
  • Bagaiaman Anda akan menentukan inovasi yang mungkin dapat diterapkan dan mudah menanganinya sesuai dengan situasi sekolah?
  • Langkah positif yang mana yang dapat dilakukan untuk menekan oposisi (perlawanan) yang selalu muncul dalam berbagai macam bentuk dan tingkatan jika anda mengadakan perubahan atau inovasi?
  • Bagaimana Anda akan bersikap dalam situasi yang tidak dapat diatasi atau merupakan dilemma dan sukar diselasaikan?
  • Maukah Anda secara pribadi menerima beban tanggung jawab untuk bekerja sama dengan orang lain dalam usaha menerapkan inovasi di sekolah dimana Anda bekerja. 

 

(2) Gunakan metode atau cara yang memberi kesempatan untuk berpartisipasi secara aktif dalam usaha merubah pribadi maupun sekolah.
 
Sebenarnya inovasi disekolah dengan mudah diterapkan jika para kepala sekolah, guru, siswa, dan warga sekolah lainnya mau untuk melakukann inovasi yang dihapakan. Merubah sekolah sebenarnya merubah orang yang ada disekolah. Berikut ini akan diuraikan tentang bagaimana guru dan kepala sekolah yang akan mengadakan pembaharuan atau menerapkan inovasi. 
  1. Tujuan diadakannya inovasi perlu dimengerti dan diterima oleh guru, siswa, serta orang tua dan juga masyarakat harus dikemukakan dengan jelas mengapa perlu ada inovasi. Demikian pula tujuan inovasi hendaknya dapat dirumuskan dengan jelas baik pengetahuan, keterampilan atau sikap.
  2. Motivasi positif harus digunakan untuk memberikan rangsangan agar mau menerima inovasi
  3. Harus diusahakan agar individu ikut berpartisipasidalam mengambil keputusan inovasi. Guru, siswa, maupun orang tua siswa diberi kesempatan ikut berperan dalam mengambil keputusan menerima atau menolak inovasi.
  4. Perlu direncanakan tentang evaluasi keberhasilan program inovasi. Kejelasantujuan dan cara menilai keberhasilan penerapan inovasi, merupakan motivasi yang kuat untuk menyempurnakan pelaksanaan inovasi. 

 

(3) Gunakan berbagai macam alternative pilihan (option) untuk mempermudah penerapan inovasi
 
Hal ini dikemukakan berdasarkan pemikiran bahwa yang menerapkan inovasi baik guru maupun siswa memiliki perbedaan individual. Jika suatu menghendaki keseragaman untuk semua orang tertentu akan mengalamin kesukaran. Tetapi makin banyak memberikan peluang untuk memilih berarti akan makin memberikan peluang untuk mengambil bagian sesuai minat dan kemampuannya. Misalnya inovasi kurikulum akan mudah diterapkan jika memberikan berbagai alternatif tentang pemilihan mata pelajaran, ada yang wajib ada yang pilihan. Demikian pula cara menilai atau penggunaan metode, makin banyak pilihan yang disediakan guru makin mendapat kesempatan untuk melaksanakan sesuai dengan kemampuan dan situasi kondisi setempat.
 

(4) Gunakan data atau informasi yang sudah ada untuk bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan dan penerapan inovasi
 
Sebelum memulai merumuskan ide inovasi perlu diketahui dulu dengan berdasarkan data yang akurat tentang kondisi dan situasi yang ada di sekolah. Kemudian mencoba mencari masalah apa yang sebenarnya dihadapi sekolah itu? Apakah dengan inovasi kurikulum, metode mengajar, penggunaaan media, evaluasi, dan sebagainya benar – benar akan memecahkan permasalahan?
 
Berdasarkan permasalahan yang dihadapi dan kemungkinan memecahkannya, kemudian dibuatkan urutan prioritas mana yang harus diusahakan lebih dulu. Demikian pula untuk melancarkan pelaksanaan inovasi, perlu menggunakan data hasil penelitian dan informasi dari berbagai sumber yang dapat dipercaya. Misalnya dari penelitian diperoleh kesimpulan bahwa ada hubungan yang positif antara tingkat kesejahteraaan dan penerimaan inovasi. 
 

(5) Gunakan tambahan data untuk mempermudah fasilitas terjadinya penerapan inovasi.
perubahan atau inovasi disekolah memerlukan perspektif yang sangat luas. Berbagai data dari berbagai bidang dan sudut pandang perlu didaya gunakan. Misalnya untuk mengadakan perubahan tentang cara belajar siswa perlu diketahui tentang data hasil penilaian setiap siswa untuk setiap bidang studi, dan juga tentang kemampuan setiap siswa secara keseluruhan dibandingkan dengan kemampuan teman yang lain.
 
Data – data lain yang biasa diperlukan dalam penerapan inovasi di sekolah, antara lain :
  • Pemahaman dan partisipasi individu terhadap program yang ada
  • Pengertian tentang program yang baru
  • Tingkat kemajuan tentang program baru
  • Analisis kemudahan dan kesukaran untuk mencapai tujuan
  • Penilaian terhadap bahan media instruksional yang diprokduksi sekolah
  • Jumlah dan macamdiagnotik tes dari siswa
  • Jumlah penampilan (performance) siswa berdasarkan instrument yang telah dibakukan
  • Perubahan isi kurikulum dan organisasi kurikulum
  • Pandangan para ahli tentang hasil pengamatannya terhadap program baru.
Perlu diperhatikan juga hubungan inovasi dengan lembaga – lembaga di luar sekolah yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan. Perubahan atau inovasi di sekolah dapat menimbulkan pertanyaan atau mungkin mendapat tantangan dari berbagai pihak, misalnya pemerintah daerah, universitas, organisasi guru, dan sebagainya. Maka sebelum mengadakan inovasi badan atau lembaga di luar sekolah yang ada hubungannya dengan aturan atau pengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan perlu dihubungi dan diberi penjelasan lebih dahulu. 
 

(6) Gunakan kemanfaatan dari pengalaman sekolah atau lembaga yang lain.
Pengalaman sekolah yang telah menerapkan inovasi dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan pelaksanaan inovasi di sekolah. meskipun penentuan apa yang harus berdasarkan kondisi dan situasi di sekolah sendiri. ada sepuluh hal yang dapat dipakai untuk melancarkan penerapan inovasi di sekolah sebagai berikut :
  • Gunakan guru penasehat. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, dan setiap kelompok memiliki guru penasehat tersendiri. Guru penasehat akan membantu siswa dalam melaksanakan program belajarnya.
  • Sediakan pilihan (option). Dalam pengelolaan program belajar perlu disediakan berbagai macam pilihan baik mengenai mata pelajaran yang harus di ambil ataupun cara belajarnya. makin banyak pilihan berarti makin melayani adanya perbedaan individual anak.
  • mengembangkan material ( bahan media). Sebagai konsekuensi dengan adanya pilihan cara belajar perlu dikembangkan berbagai macam media instruksional.
  • Merevisi kurikulum dengan menggunakan mini courses (kursus singkat). dalam pelaksanaan revisi kurikulum digunakan dengan kursus dalam berbagai aspek kurikulum. Kursus singkat tentang penilaian, cara membuat persiapan, cara menyusun tes, dan sebagainya.
  • Membuat tempat belajar yang lebih baik dalam gedung yang ada. Agar siswa dapat belajar degan tenang perlu disediakan tempat-tempat belajar khusus dalam gedung yang ada. Misalnya dibuatkan ruang tempat belajar sendiri, tempat belajar kelompok, dan sebagainya.
  • Buatlah jadual yang fleksibel. Tidak harus semua kegiatan dengan jadual jam yang sama. Untuk pelajaran yang banyak menggunakan latihan/praktek perlu waktu yang lebih lama dari pelajaran yang hanya dengan ceramah, dan sebagianya.
  • Ditingkatkan penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Banyak keadaan atau alam yang ada di sekitar dapat didayagunakan sebagai sumber belajar. Siswa diberi tugas untuk mengamati dan mengadakan wawancara dengan warga masyarakat dalam melakukan kegiatan belajar.
  • Diadakan penilaian program penerapan inovasi.
  • Diadakan penilaian dan pelaporan hasil belajar siswa. dengan laporan dapat diketahui sejauh mana hasil penerapan inovasi terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.
  • Dibuat team supervise. untuk mengawasi kegiatan dibuat team yang tiap anggota bertugas untuk mengawasi bidang tertentu, keamanan, ketertiban, kebersihan, dan sebagainya. Kepala sekolah dapat mencurahkan pengawasan pada kegiatan belajar menngajar. 

 

(7) Berbuatlah secara positif untuk mendapatkan kepercayaan
 
Dunia pendidikan sangat berat menghadapi tantangan perubahan jaman. Dunia komersial menghabiskan jutaan dolar untuk merubah kebiasaan masyarakat, dan dikalangan politik menghabiskan sejumlah besar uang untuk menjaga kestabilan kekuasaan dan pemerintahan, tetapi di dunia pendidikan sukar untuk memperoleh dana guna mengadakan pembaharuan. Namun demikian pimpinan pendidkan harus melakukan langkah atau mensukseskan usahanya yaitu :
  • Kepala sekolah harus benar-benar memahami apa yang perlu dilakukan untuk perbaikan sekolahnya.
  • Kepala sekolah harus menghayati kenyataan bahwa inovasi memang perlu diadakan untuk perbaikan.
  • Kepala sekolah harus yakin bahwa memang sekolah ini tepat untuk menerapkan inovasi. inovasi dapat dilakukan disekolah ini.
  • Kepala sekolah harus banyak mencurahkan waktu dan tenaganya baik untuk kegiatan di sekolah, di luar sekolah, dan si masyarakat yang memerlukan tenaganya, guna menjalin hubungan yang akrab dengan segala pihak, agar mau mengerti dan memberikan bantuan untuk kelancaran program inovasi. Tidak mungkin inovasi akan berhasil jika kepala sekolah hanya duduk di kantornya, tanpa mau berbuat dengan cepat dan tepat sesuai dengan keperluan. 

 

(8) Menerima tanggungjawab pribadi
 
Anda perlu mendapatkan tempat dan juga peranan kepala sekolah anda dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan dengan sangat cepat. Kepala sekolah, guru, dan siswa akan menjumpai tantangan yang sangat kompleks pada tingkat dimana mereka bekerja atau belajar. Tujuannya ialah bukan menciptakan kesukaran dalam hidup, walaupun itu juga perlu dan memang merupakan kenyataan, tetapi tujuan yang hendaknya dikejar ialah mencapai kepuasan yang diperoleh karena telah berbuat sesuatu yang sifatnya konstruktif yang membantu membangun dunia indah di masa kini dan masa yang akan datang. 
 

(9) Usahakan adanya pengorganisasian kegiatan yang memungkinkan terjadinya kepemimpinan yang efektif.
 
Problem yang dihadapi oleh kepala sekolah sangat kompleks. Perlunya kepemimpinan yang mantap dan konsisten dewasa ini sangat terasa karena kepala sekolah selalu dikepung oleh berbagai macam tantangan. Baik dari pemerintah berupa intruksi atau peraturan-peraturan yang dilaksanakan, dari organisasi guru berupa saran perbaikan, dari kelompok masyarakat atau persatuan orang tua siswa berupa peningkatan kualitas hasil pendidikan di sekolah, atau mungkin juga dari berbagai yayasan pendidikan. Namun demikian banyak juga kepala sekolah yang tetap bersikap positif dan mampu melaksanakan kepemimpinan yang produktif, disela-sela berbagai macam tantangan dan permasalahan yang harus dipecahkan.
 
Agar kepala sekolah dapat melaksanakan program inovasi dengan efektif dalam menghadapi berbagain macam tantangan tersebut, perlu digunakan system pengorganisasian yang tepat. Berdasarkan pengalaman para pelaksana “ Model Schools Project” di AS disarankan digunakannya “ Team Manajemen Pengawasan” (Supervisory- Manajement= S-M Team). Ada dua elemen dasar dalam team S-M untuk meningkatkan kepemimpinan sekolah. Pertama, peranan kepemimpinan harus disebarluaskan melalui perluasan konsep team manajemen pengawasan. Kedua, team S-M harus menggunakan pendekatan partisipatif dalam membina hubungan dengan segenap personal di sekolah maupun dengan warga masyarakat.
 
Untuk sekolah yang kecil atau stuktur organisasinya tanpa ada bagian-bagian, maka semua guru atau personel sekolah ikut setakan dalam pembuatan perencanaan, pembuatan keputusan serta menilai perkembangan serta bagian program pendidikan. Pada sekolah yang besar pejabat bagian pendidikan bekerja sama dengan S-M untuk menunjukkan minat guru serta memperhatikan fungsi manajemen-pengawasan pada semua pihak. Kegiatan untuk meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar, dilakukan oleh semua personel sekolah sesuai dengan bidang garapannya masing-masing. 


(10) Mencari jawaban atas beberapa pertanyaan dasar tentang inovasi di sekolah
 
Tujuan utama inovasi di sekolah ialah untuk meningkatkan kualitas sekolah. Tanda-tanda sekolah yang kualitasnya baik antara lain proses belajar mengajar efektif, prestasi hasil belajar siswa tinggi, para guru mempunyai waktu cukup banyak serta kondisi yang baik melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya, kepala sekolah menggunakan sebagian besar waktunya bekerja lebih akrab dengan siswa dan guru serta selalu memperoleh balikan guna meningkatkan kualitas sekolah. Setiap yang bekerja di sekolah melakukan tugasnya sesuai dengan minat dan kemampuannya untuk mengembangkan karirnya.
 
Inovasi atau perubahan di sekolah harusnya untuk meningkatkan kualiats sekolah, tetapi sering terjadi perubahan sekolah diadakan dengan tujuan yang tidak benar yaitu untuk membantu kelompok orang tertentu dengan biaya atas nama sekolah. Kejadian seperti itu harus dihindari jangan sampai terjadi, karena akan sangat merugikan nama sekolah. Inovasi diadakan untuk kemajuan sekolah.
 

Penutup

 
Salah satu faktor yang ikut menentukan efektivitas pelaksanaan program perubahan sosial adalah ketepatan penggunaan strategi, tetapi biasanya sukar menentukan bahwa suatu strategi ada pendidikan, bujukan, fasilitatif, atau paksaan (power) karena pada kenyataannya tidak ada batasan yang jelas untuk membeda-bedakan stategi tersebut. Namun demikian jika pelaksanaan program perubahan sosial memahami berbagai macam strategi mana yang diutamakan untuk mencapai suatu tujuan perubahan sosial tertentu, walaupaun sebenarnya ia akan mengkombinasikan berbagai macam strategi. 
 
Petunjuk penerapan inovasi pada suatu sekolah akan membantu jika mengalami kesukaran untuk menentukan teknik dan strategi mana yang paling tepat untuk memperbaikai sekolah. Misalnya untuk menjawab pertanyaan antara lain:
  • Perubahan apa yang tepat untuk meningkatkan mutu sekolah kita?
  • Inovasi amana yang tepat untuk diimplementasiakan?
  • Data apa yang diperlukan untuk menunjukkan pengaruh inovasi terhadap program sekolah, siswa, guru, administrasi, dan orang tua serta warga masyarakat yang dilayaninya?