Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Sabtu, 09 Oktober 2021, 21:40 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:27:33Z
ArtikelInovasi PendidikanPendidikan

Proses Keputusan Inovasi

Proses Keputusan Inovasi
Perkembangan teknologi dan informasi yang cepat dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan, merupakan suatu upaya untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan pembaharuan- pembaharuan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektifitas.

Kata inovasi sering diterjemahkan segala hal yang baru atau pembaharuan dan kadang kadang juga dipakai untuk menyatakan peneluan, karena hal yang baru itu penemuan. Timbulnya inovasi dalam pendidikan disebabkan oleh adanya persoalan dan tantangan yang perlu dipecahkan dengan pemikiran baru yang mendalam dan progresif. 

Pada hakikatnya yang menjadi sasaran menerima dan menerapkan inovasi adalah individu atau pribadi sebagai sistem sosial (warga masyarakat). Pemahaman tentang proses inovasi yang berorientasi pada individu tetap merupakan dasar untuk memahami proses dalam organisasi. Salah satu elemen difusi yang dikemukan rogers adalah “waktu”. Waktu adalah elemen yang penting dalam proses difusi karena waktu merupakan aspek utama dalam proses komunikasi.

Pengertian Proses Keputusan Inovasi

 
Proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui (dialami) individu (unit pengambil keputusan yang lain), mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya.

Ciri pokok keputusan inovasi adalah dengan adanya ketidak tentuan tengtang suatu inovasi, proses pengambilan keputusan mau tidak mau menggunakan sesuatu yang mungkin lebih bersih, lebih hemat, lebih tahan lama, tetapi juga mungkin berbahaya. Untuk sampai pada keputusan yang tepat menerima atau menolak suatu inovasi perlu informasi, dengan kejelasan informasi akan mengurangi ketidak tentuan dan berani mengambil keputusan.
 

Model Proses Keputusan Inovasi

 
Menurut Roger, proses keptusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yaitu tahap pengetahuan, tahapan bujukan, tahapan keputusan, tahap implementasi dan tahap konfirmasi.

1. Tahap Pengetahuan (knowledge)

 
Proses keputusan inovasi dimulai dengan tahap pengetahuan yaitu tahap pada saat seseorang menyadari adanya suatu inovasi dan ingin tahu bagaimana fungsi inovasi tersebut. Pengertian menyadari dalam hal ini bukan memahami tetapi membuka diri untuk mengetahui inovasi. 

Seseorang menyadari atau membuka diri terhadap suatu inovasi tentu dilakukan secara aktif bukan secara pasif. Misalnya seorang anak melihat ada buku baru tentang ilmu alam yang lengkap kemudian anak tersebut tertarik untuk membelinya, maka anak tersebut sudah mulai melakukan proses keputusan inovasi pada tahap pengetahuan, sedangkan anak yang lainnya walau mengetahui ada buku baru tersebut dia tidak memiliki keingintahuan untuk mempelajarinya, maka pada anak tersebut belum terjadi proses keputusan inovasi.
 
Seseorang menyadari perlunya mengetahui inovasi biasanya tentu berdasarkan pengamatan tentang inovasi itu sesuai dengan kebutuhan, minat atau mungkin juga kepercayaannya. Adanya inovasi menumbuhkan kebutuhan seseorang yang merasa butuh, tetapi juga mungkin terjadi karena seseorang butuh sesuatu maka untuk memenuhinya diadakan inovasi.
 

2. Tahap Bujukan (Persuation)

 
Pada tahap persuasi dalam proses keputusan-inovasi, individu membentuk sikap yang mendukung atau tidak mendukung terhadap inovasi. Pada tahap persuasi individu menjadi secara lebih psikologi terlibat dengan inovasi; dia secara aktif mencari informasi mengenai gagasan baru. Persepsi selektif penting untuk menentukan prilaku individu pada tahap persuasi, dimana persepsi umum inovasi pada tahap ini dikembangkan.
 
Sifat-sifat yang ditanggapi dari suatu inovasi sebagai manfaat relatifnya, kekompakannya, dan kekomplekannya terutama penting pada tahap ini . Pada tahap persuasi, individu secara khusus termotivasi untuk mencari informasi inovasi-evaluasi, yang merupakan pengurangan dalam ketidakpastian mengenai konsekuensi-konsekuensi yang diharapkan dari inovasi. Hasil dari tahap persuasi yang utama ialah adanya penentuan menyenangi atau tidak menyenangi inovasi. 
 
Diharapkan hasil tahap persuasi akan mengarahkan proses keputusan inovasi atau dengan kata lain ada kecenderungan kesesuaian antara menyenangi inovasi dan menerapkan inovasi.. Namun perlu dieketahui bahwa sebenarnya antara sikap dan aktivitas masih ada jarak. Orang menyenangi inovasi belum tentu ia menerapkan inovasi. Ada jarak atau kesenjangan antara pengetahuan-sikap, dan penerapan. 
 
Misalnya seorang anak tahu cara memakai motor tetapi ia tidak pernah menggunakan motornya karena beberapa hal : ia takut akan keramaian jalan, ia takut mengalami kecelakaan lalu lintas. Maka dari itu perlu adanya bantuan pemecahan masalah.
 

3. Tahap Keputusan (Decision)

 
Tahap keputusan dalam proses keputusan-inovasi terjadi ketika individu (atau unit pembuatan keputusan lainnya) terlibat dalam aktifitas-aktifitas yang menuntun pada pilihan untuk mengambil atau menolak inovasi. Adopsi/pengambilan adalah keputusan untuk menggunakan penuh inovasi sebagai rangkaian terbaik tindakan. Penolakan adalah keputusan untuk tidak mengambil inovasi. Penting untuk diingat bahwa proses keputusan-inovasi dapat secara logis menuntun pada keputusan penolakan seperti juga keputusan untuk mengambil. Kenyataannya, setiap tahap dalam proses adalah titik penolakan potensial. 

Ada dua macam penolakan inovasi yaitu : ( a) penolakan aktif artinya penolakan inovasi setelah melalui mempertimbangkan untuk menerima inovasi atau mungkin sudah mencoba lebih dahulu, tetapi keputusan terakhir menolak inovasi, dan ( b ) penolakan pasif artinya penolakan inovasi dengan tanpa pertimbangan sama sekali.
 
Dalam pelaksanaan difusi inovasi antara : pengetahuan , persuasi, dan keputusan inovasi sering berjalan bersamaan. Satu dengan yuang lainnya saling berkaitan. Bahkan untuk jenis inovasi tertentu dapat terjadi urutan : pengetahuan-keputusan inovasi-baru persuasi.
 

4. Tahap Implementasi (Implementasi)

 
Tahap implementasi dari proses keputusan inovasi akan terjadi apabila seseorang menerapkan inovasi itu sendiri. Pada tahap ini berlangsung keaktifan, baik secara mental maupun perbuatan. Keputusan penerima gagasan atau ide baru dibuktikan dalam praktik. Pada umumnya implementasi mengikuti hasil keputusan inovasi, namun bisa juga terjadi karena sesuatu hal sudah memutuskan untuk menerima inovasi tanpa diikuti implementasi. Hal ini biasanya terjadi karena fasilitas penerapan yang tidak tersedia. 

Tahap implementasi bisa berlangsung sangat lama, tergantung dari keadaan inovasi itu sendiri. Pada umumnya suatu tanda bahwa taraf implementasi akan berakhir jika penerapan inovasi itu sendiri sudah menjadi sesuatu yang bersifat rutin, dengan kata lain sudah bukan sesuatu yang baru lagi. Hal-hal yang memungkinkan terjadinya re-invesi antara inovasi yang sangat kompleks dan sukar dimengerti, penerima inovasi kurang dapat memahami inovasi karena sukar untuk menerima agen pembaharu, inovasi yang memungkinkan berbagai kemungkinan komunikasi, apabila inovasi diterapkan untuk memecahkan masalah yang sangat luas, kebanggan akan inovasi yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu juga dapat menimbulkan reinvesi. 

5. Tahap Konfirmasi (Confirmation)

 
Dalam tahap konfirmasi ini seseorang mencari penguatan terhadap keputusan yang telah diambilnya, dan ia dapat menarik kembali keputusannya jika memang diperoleh informasi yang bertentangan dengan informasi semula.tahap konfirmasi ini sebenarnya berlangsung secara berkelanjutan sejak terjadi keputusan menerima atau menolak inovasi yang berlangsung dalam waktu yang tak terbatas. Selama dalam konfirmasi seseorang berusaha menghindari terjadinya disonasi paling tidak berusaha menguranginya. 

Dalam hubungannya dengan difusi inovasi, usaha mengurangi disonansi dapat terjadi :
  • Apabila seseorang menyadari akan ssesuatu kebutuhan dan berusaha mencari sesuatu untuk memenuhi kebutuhan misalnya dengan mencari informasi tentang inovasi hal ini pada terjadi tahap pengetahuan dalam proses keputusan inovasi.
  • Apabila seseorang tahu tentang inovasi dan telah bersikap menyenagi inovasi, tersebut tetapi belum menetapkan keputusan untuk menerima inovasi. Maka ia akan berusaha untuk menerimanya, guna mengurangi adanya disonansi antara apa yang disenangi dan diyakini dengn apa yang dilakukan. Hal ini terjadi pada tahap keputusan inovasi, dan tahap implementasi dalam proses keputusan inovasi.
  • Setelah seseorang menetapkan menerima dan menerapkan inovasi, kemudian diajaka unuk menolaknya. Maka disonansi ini dapat dikurangi dengan cara tidak melanjutkan penerimaan dan penerapan inovasi ( discontinuing ). Ada kemungkinan lagi seseorang telah menetapkan untuk menolak inovasi, kemudian diajak menerimanya. Maka usaha mengurangi disonansi dengan cara menerima inovasi ( mengubah keputusan semula ). Perubahan ini terjadi ( tidak meneruskan inovasi atau mengikuti inovasi terlambat pada tahap konfirmasi ).
 
Ketiga cara mengurangi disonansi tersebut, berkaitan dengan perubahan tingkah laku seseorang sehingga antara sikap, perasaan, pikiran, perbuatan sangat erat hubungannya bahkan sukar dipisahkan karena yang satu mempengaruhi yang lain. Sehingga dalam kenyataannya kadang-kadang sukar orang akan mengubah keputusan yang sudah terlanjur mapan dan disenangi, walaupun secara rasional diketahui adanya kelemahannya.
 

Tipe Keputusan Inovasi

 
Menurut (Ibrahim, 1988), ada beberapa tipe keputusan inovasi:
 

1. Keputusan inovasi opsional

Yaitu pemilihan menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang ditentukan oleh individu atau seseorang secara mandiri tanpa tergantung atau terpengaruh dorongan anggota system social yang lain. Meskipun dalam hal ini individu mengambil keputusan itu berdasarkan norma system sosial atau hasil komunikasi interpersonal dengan anggota system social yang lain. Jadi hakikat pengertian keputusan inovasi opsional ialah individu yang berperan sebagai pengambil keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi. 

2. Keputusan inovasi kolektif

Yaitu pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang dibuat secara bersama-sama berdasarkan kesepakatan antar anggota sistem sosial. Semua anggota sistem sosial harus mentaati keputusan bersama yang telah dibuatnya. 

3. Keputusan inovasi otoritas

Yaitu pemilihan untuk menerima atau menolak inovasi, berdasarkan keputusan yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempunyai kedudukan, status, wewenang atau kemampuan yang lebih tinggi dari pada anggota yang lain dalam suatu sistem sosial. Para anggota sistem social tersebut tidak mempunyai pengaruh atau peranan dalam membuat keputusan inovasi, melainkan hanya melaksanakan apa yang telah diputuskan oleh unit pengambil keputusan. 

4. Keputusan inovasi kontingensi (contingent)

Yaitu pemilihan menerima atau menolak suatu inovasi, baru dapat dilakukan hanya setelah ada keputusan inovasi yang mendahuluinya. Ciri pokok dari keputusan inovasi kontingen ialah digunakannya dua atau lebih keputusan inovasi secara bergantian untuk menangani suatu difusi inovasi, terserah yang mana yang akan digunakan dapat keputusan opsional, kolektif atau otoritas.


Penutup

Proses keputusan inovasi ialah proses yang dilalui (dialami) individu (unit pengambil keputusan yang lain), mulai dari pertama tahu adanya inovasi, kemudian dilanjutkan dengan keputusan setuju terhadap inovasi, penetapan keputusan menerima atau menolak inovasi, implementasi inovasi, dan konfirmasi terhadap keputusan inovasi yang telah diambilnya. 

Menurut Roger, proses keptusan inovasi terdiri dari 5 tahap, yaitu tahap pengetahuan, tahapan bujukan, tahapan keputusan, tahap implementasi dan tahap konfirmasi.
 
Tipe keputusan inovasi ada empat yaitu : keputusan inovasi opsional, keputusan inovasi kolektif, keputusan inovasi otoritas, keputusan inovasi kontingensi (contingent). 

 
Referensi:
  • Udin Syaefudin . 2011 . Inovasi Pendidikan . Bandung : Alfabeta.
  • Altus Baruati. 2013. Proses Keputusan Inovasi. 
  • Jajang Bayu Kelana. 2013. Proses Keputusan Inovasi.