Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Selasa, 19 Oktober 2021, 09:17 WIB
Last Updated 2021-10-19T02:19:58Z
ArtikelPendidikanStrategi Pembelajaran

Prinsip-prinsip Keterampilan Bertanya dalam Pembelajaran

Prinsip-prinsip Keterampilan Bertanya dalam Pembelajaran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembelajaran adalah proses, cara, perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Dalam pembelajaran seorang guru harus menguasai keterampilan yaitu keterampilan dasar mengajar. Keterampilan dasar mengajar adalah kemampuan atau keterampilan yang bersifat khusus yang harus dimiliki oleh seorang guru agar dapat melaksanakan pengajaran secara efektif, efisien dan profesional.


Keterampilan dasar mengajar yang harus dikuasai dan dimiliki oleh seorang guru ada delapan. Delapan keterampilan dasar mengajar yaitu keterampilan bertanya, keterampilan memberikan penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup pelajaran, keterampilan membimbing diskusi, keterampilan mengelola kelas, dan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan.

 

Keterampilan dasar mengajar sangat penting dan berpengaruh dalam pembelajaran. Namun yang terjadi saat ini banyak guru yang mengabaikan keterampilan dasar mengajar dan memilih menggunakan pola tradisional. Padahal delapan keterampilan dasar mengajar sangat berperan dalam menentukan kualitas pembelajaran.

 

Delapan keterampilan dasar mengajar bersifat wajib dipahami oleh seorang guru, tetapi tidak hanya dipahami namun wajib juga dikuasai. Dalam makalah ini penulis hanya fokus membahas mengenai keterampilan dasar mengajar bertanya.


Pengertian Keterampilan Bertanya


Keterampilan bertanya adalah suatu pengajaran itu sendiri, sebab pada umumnya guru dalam pengajarannya selalu melibatkan atau menggunakan tanya jawab. Keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang digunakan untuk mendapatkan jawaban atau balikan dari orang lain. (Supriyadi, 2013: 158)

Keterampilan bertanya adalah kemampuan yang dimiliki seorang guru dalam melakukan tanya jawab supaya berjalan lancar dan kodusif. Keterampilan bertanya harus dilakukan dengan berbagai variasi supaya saat melakukan tanya jawab siswa tidak merasa bosan.

Keterampilan bertanya dibedakan atas keterampilan dasar mengajar tingkat dasar dan keterampilan dasar mengajar tingkat lanjut. Keterampilan dasar mengajar tingkat dasar mempunyai komponen dasar yang diterapkan dalam mengajukan pertanyaan. Sedangkan keterampilan dasar mengajar tingkat lanjut merupakan lanjutan dari keterampilan dasar mengajar tingkat dasar dan berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa, meningkatkan partisipasi siswa, dan mendorong siswa agar mengambil inisiatif sendiri. (Saud, 2009: 62)

 

Tujuan Pertanyaan


Pertanyaan yang diajukan guru kepada siswa memiliki tujuan, tujuannya adalah:

  1. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadapsuatu masalah yang sedang dibicarakan.
  2. Memusatkan perhatian siswa pada suatu masalah yang dibahas.
  3. Mendiagnosis kesulitan-kesulitan yang menghambat siswa dalam belajar.
  4. Mengembangkan cara belajar siswa aktif.
  5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengasimilasikan informasi.
  6. Mendorong siswa mengemukakan pendapat dalam diskusi.
  7. Menguji dan mengukur hasil belajar. (Saud, 2009: 62)

 

Prinsip-prinsip Keterampilan Bertanya


  1. Kehangatan dan antusias. Peningkatan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, guru perlu menunjukkan sikap baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban dari siswa. Sikap dan gaya guru termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, dan posisi badan menampakkan ada tidaknya kehangatan dan keantusiasannya.
  2. Kebiasaan yang perlu dihindari, 1) Jangan mengulag-ulang petanyaan apabila siswa tidak mampu menjawabnya. 2) Jangan mengulag-ulang jawaban siswa. 3) Jangan menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan sebelum siswa memperoleh kesempatan untuk menjawabnya. 4) Usahakan agar siswa tidak menjawab pertanyaan secara serempak, karena guru tidak mengetahui dengan pasti siapa yang menjawab dengan benar dan siapa yang salah. 5) Menentukan siswa yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan, oleh karena itu pertanyaan hendaknya ditujukan lebih dulu kepada seluruh siswa baru kemudian guru menunjuk salah seorang untuk menjawab. 6) Guru terkadang mengajukan pertanyaan yang sifatnya ganda, menghendaki beberapa jawaban atau kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa. (Suwarna, 2005: 76)


Komponen Keterampilan Bertanya


Keterampilan dasar mengajar bertanya memiliki komponen sebagai berikut:

Komponen keterampilan dasar mengajar bertanya tingkat dasar

  1. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat. Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh siswa sesuai dengan taraf perkembangannya.
  2. Pemberian acuan. Sebelum memberikan pertanyaan, terkadang guru perlu memberikan acuan berupa pertanyaan yang berisi informasi yang releven dengan jawaban yang diharapkan dari siswa.
  3. Pemindahan giliran. Ada saatnya satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari seorang siswa, karena jawaban belum benar atau belum memadai. Untuk itu guru dapat menggunakan teknik pemindahan pemindahan giliran. Mula-mula guru mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, kemudian memilih salah seorang siswa untuk menjawab dengan cara menyebut namanya atau dengan menunjuk siswa itu.
  4. Untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya di dalam pelajaran, guru perlu menyebarkan giliran untuk menjawab pertanyaan acak. Ia hendaknya berusaha agar siswa mendapat giliran secara merata.
  5. Pemberikan waktu berpikir. Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru perlu memberi waktu beberapa detik untuk berpikir sebelum menunjuk salah seorang siswa untuk menjawabnya.
  6. Pemberian tuntunan. Bila seorang siswa memberikan jawaban salah atau tidak dapat menjawab guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu, agar ia dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.

 

Komponen keterampilan dasar mengajar bertanya tingkat lanjut

 

  1. Pengubahan tuntunan tingkat kognisi dalam menjawab pertanyaan. Pertanyaan yang dikemukakan oleh guru dapat mengandung proses mental yang berbeda-beda dari proses mental yang rendah sampai proses mental yang tinggi. Oleh karena itu, dalam mengajukan pertanyaan hendaknya guru berusaha mengubah tuntunan tingkat kognisi dalam menjawab pertanyaan dari tingkat yang paling rendah, yaitu evaluasi ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, dan sintesis.
  2. Pengaturan urutan pertanyaan. Untuk mengembangkan tingkat kognisi dari yang lebih rendah ke lebih tinggi dan kompleks, hendaknya guru dapat mengatur urutan pertanyaan yang diajukan siswa. Misalnya guru mengajukan pertanyaan ingatan, setelah itu pertanyaan pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
  3. Penggunaan pertanyaan pelacak. Jika jawaban yang diberikan oleh siswa dinilai benar oleh guru tetapi masih dapat ditingkatkan menjadi sempurna, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pelacak kepada siswa tersebut.
  4. Peningkatan terjadinya interaksi. Agar siswa lebih terlihat secara pribadi dan lebih bertanggung jawab atas kemajuan dan hasil diskusi, hendaknya guru mengurangi atau menghilangkan peranan sebagai penanya sentral dengan cara mencegah pertanyaan dijawab oleh seorang siswa. Jika siswa mengajukan pertanyaan guru tidak segera menjawab tetapi melontarkan kembali kepada siswa lainnya. (Suwarna, 2005: 73)

 

Jenis-jenis Pertanyaan

Terdapat beberapa cara untuk menggolongkan jenis-jenis pertanyaan. Dalam hal ini, penggolongan terdiri atas jenis-jenis pertanyaan menurut maksudnya, jenis-jenis pertanyaan menurut Taksonomi Bloom, dan jenis-jenis pertanyaan menurut luas sempitnya pertanyaan.

 

Jenis-Jenis Pertanyaan menurut Maksudnya

  1. Pertanyaan Permintaan (Compliance Question). Pertanyaan yang mengharapkan agar siswa mematuhi perintah yang diucapkan dalam bentuk pertanyaan. Contoh: Amir, maukah kamu menutupkan jendela yang di sebelah sana?
  2. Pertanyaan Retoris (Rhetorical Question). Pertanyaan yang tidak menghendaki jawaban, melainkan akan dijawab sendiri oleh guru. Hal itu diucapkan karena merupakan teknik penyampaian informasi kepada siswa. Contoh: Mengapa beriman kepada malaikat akan berdampak positif bagi kehidupan kita sehari-hari? Karena, dengan mengingat adanya malaikat kita akan menyadari bahwa kehidupan di dunia ini ternyata ada yang mengawasi setiap perbuatan kita.
  3. Pertanyaan Mengarahkan/Menuntun (Prompting Question). Pertanyaan yang diajukan untuk memberi arah kepada murid dalam proses berpikirnya. Apabila siswa tidak menjawab pertanyaan atau salah, hendaknya guru mengajukan pertanyaan lanjutan yang akan mengarahkan/menuntun proses berpikir siswa dan akhirnya dapat menemukan jawaban dari pertanyaan yang pertama diberikan.
  4. Pertanyaan Menggali (Probing Question). Pertanyaan yang akan mendorong siswa untuk lebih mendalami jawabannya terhadap pertanyaan sebelumnya. Dengan pertanyaan menggali, siswa didorong untuk meningkatkan kualitas ataupun kuantitas jawaban yang telah diberikan pada pertanyaan sebelumnya.

 

Jenis-Jenis Pertanyaan menurut Taksonomi Bloom

  1. Pertanyaan Pengetahuan (Precall Question atau Legde Question). Pertanyaan yang mengharapkan jawaban sifatnya hafalan atau ingatan terhadap apa yang telah dipelajari siswa. Kata-kata yang sering digunakan dalam menyusun pertanyaan pengetahuan adalah apa, dimana, kapan, siapa, atau sebutkan. Contoh: Apa nama ibukota negara Indonesia?
  2. Pertanyaan Pemahaman (Comprehension Question). Pertanyaan ini menuntut siswa untuk menjawab pertanyaan dengan jalan mengorganisasi informasi-informasi yang pernah diterimanya dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang sering digunakan untuk menyusun pemahaman adalah jelaskan/uraikan dengan kata-katamu sendiri, bandingkan. Contoh: Jelaskan dengan kata-katamu sendiri tentang pertumbuhan dan perkembangan!
  3. Pertanyaan Penerapan (Aplication Question). Pertanyaan yang menuntut siswa untuk memberikan jawaban tunggal dengan cara menerapkan pengetahuan, informasi, aturan-aturan, kriteria, dan lain-lain yang pernah diterimanya pada suatu kasus atau kejadian sesungguhnya. Contoh: Tunjukkan bukti bahwa islam sangat memperhatikan kebersihan!
  4. Pertanyaan Analisis (Analysis Question). Pertanyaan yang menuntut siswa untuk menemukan jawaban dengan cara mengidentifikasikan motif masalah, mencari bukti-bukti atau kejadian-kejadian yang menunjang suatu kesimpulan, dan menarik kesimpulan berdasarkan informasi-informasi yang ada. Contoh: Setelah kita membicarakan rantai makanan pada hewan, kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari rantai makanan tersebut?
  5. Pertanyaan Sintesis (Synthesis Question). Ciri dari pertanyaan ini jawabannya yang benar dan tidak tunggal, melainkan lebih dari satu dan menghendaki siswa untuk mengembangkan potensi serta daya kreasinya. Pertanyaan sintesis menuntut siswa untuk membuat ramalan/prediksi, memecahkan masalah berdasarkan imajinasi, dan mencari komunikasi. Contoh: Apa yang terjadi jika seorang manusia tidak memiliki agama?
  6. Pertanyaan Evaluasi (Evaluation Question). Pertanyaan semacam ini menghendaki siswa untuk menjawabnya dengan cara memberikan penilaian atau pendapatnya terhadap suatu isu. Contoh: Bagaimana penilaianmu tentang politik di Indonesia?

 

Jenis-Jenis Pertanyaan menurut Luas Sempitnya Sasaran

 

Pertanyaan Sempit (Narrow Question)

 

Pertanyaan ini membutuhkan jawaban yang tertutup (covergent) yang biasanya kunci jawabannya telah tersedia.

  • Pertanyaan sempit informasi langsung. Pertanyaan ini menuntut siswa untuk mengingat atau menghafal informasi yang ada. Contoh: Sebutkan dampak positif bersifat jujur!
  • Pertanyaan sempit memusat. Pertanyaan ini menuntut siswa agar mengembangkan ide atau jawabannya dengan menuntunnya melalui petunjuk tertentu. Pertanyaan ini bermanfaat bila guru menghendaki siswa membedakan, mengasosiasikan, dan menjelaskan. Contoh: Dengan cara bagaimana agar konsep gotong royong dapat dengan mudah dimengerti oleh siswa?

 

Pertanyaan Luas (Broad Question)

 

Ciri pertanyaan ini adalah jawabannya yang memungkinkan lebih dari satu, sebab pertanyaan ini belum mempunyai jawaban yang spesifik sehingga masih bersifat terbuka.

  • Pertanyaan luas terbuka (open end question). Pertanyaan ini memberi kesempatan kepada murid untuk mencari jawabannya menurut cara dan gayanya masing-masing. Contoh: Bagaimana cara menanggulangi banjir?
  • Pertanyaan luas menilai (valuing question). Pertanyaan ini meminta siswa untuk mengadakan penilaian terhadap aspek kognitif maupun sikap. Pertanyaan ini lebih efektif bila guru menghendaki siswa untuk merumuskan pendapat, menentukan sikap, tukar menukar pendapat/perasaan terhadap suatu isu. Contoh: Bagaimana pendapatmu tentang jalannya pertandingan futsal tadi? (Supriyadi, 2013: 159)


Penutup

Dari pembahasan di atas, penulis menyimpulkan keterampilan bertanya adalah keterampilan yang dimiliki seorang guru untuk mendapatkan jawaban atau umpan balik dari pertanyaan yang di berikan. Keterampilan bertanya harus dilakukan bervariasi supaya siswa tidak merasa bosan. Keterampilan bertanya memiliki tujuan yang sangat penting bagi siswa. Selain memiliki tujuan, keterampilan bertanya juga memiliki prinsip-prinsip yang harus diterapkan saat kegiatan tanya jawab. Keterampilan bertanya juga memiliki komponen-komponen tersendiri serta jenis-jenis pertanyaan yang bervariasi yang dapat diterapkan seorang guru kepada siswanya.

Seorang guru harus memiliki keterampilan bertanya karena bertanya merupakan kegiatan yang efektif dalam pembelajaran untuk mendorong daya berpikir siswa. Saat melakukan kegiatan bertanya seorang guru juga dapat memotivasi dan membuat siswa menjadi lebih aktif saat pembelajaran. Bertanya juga merupakan salah satu teknik untuk melatih daya ingat dan melatih fokus siswa. Selain itu, proses evaluasi, penilaian, pengukuran dan pengujian bisa dilakukan melalui pertanyaan.

 

Referensi

  • Supriyadi. 2013. Strategi Belajar & Mengajar. Yogyakarta: Jaya Ilmu.
  • Udin Syaefudin Saud. 2009. Pengembangan Profesi Guru. Bandung: Alfabeta.
  • Suwarna, dkk. 2005. Pengajaran Mikro. Yogyakarta: Tiara Wacana.