Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Senin, 11 Oktober 2021, 08:45 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:48:04Z
ArtikelMetode PembelajaranPendidikan

Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Metode Pemberian Tugas

Pengertian, Tujuan, dan Manfaat Metode Pemberian Tugas

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin pesat, maka semakin kompleks pula pelajaran yang harus disampaikan kepada siswa. Dalam hal inipun guru harus mampu dan dituntut untuk dapat menggunakan metode pembelajaran secara baik, sesuai dengan tujuan, bahan pelajaran, alat bantu dan evaluasi yang telah ditetapkan.
 
Metode pembelajaran merupakan salah satu alat untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan dan merupakan salah satu komponen yang harus dikuasai oleh guru, karena dengan menguasai metode pembelajaran, guru dapat mengkomunikasikan bahan pelajaran dengan baik dan terciptanya proses belajar mengajar yang efektif. Proses pembelajaran adalah suatu aspek dari lungkungan sekolah yang diorganisasi.
 
Lingkungan ini diatur dan diawasi sedemikian rupa sehingga proses pembelajaran terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Metode pembelajaran turut menentukan sejauhmana lingkungan menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan belajar yang baik adalah apabila bersifat menantang dan merangsang siswa belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan serta mencapai tujuan yang diharapkan.
 
Kualitas belajar siswa dapat dicapai dengan menggunakan metode pembelajaran yang efektif, karena metode pembelajaran merupakan salah satu factor yang mendukung terhadap keberhasilan siswa disamping faktor-faktor lainnya, seperti bahan pelajaran, perlengkapan pelajaran, kondisi belajar dan sebagainya.
 
Untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar siswa, guru dapat memberikan berbagai tugas secara bervariasi, aktivitas yang dilakukan oleh siswa selama duduk di bangku kelas hendaknya tidak hanya terpaku kepada mendengarkan ucapan guru saja, tetapi ia harus aktif mengembangkan informasi yang diterimanya dari guru.
 
Tugas yang diberikan biasanya aplikasi (penerangan) konsep-konsep atau teori-teori yang diberikan oleh guru. Dengan cara seperti ini pemahaman siswa tentang pelajaran yang diberikan semakin matang. Proses berfikir siswa didalam menyelesaikan pengajaran akan lebih baik dibandingkan hanya mendengarkan ceramah saja. Berangkat dari pemikiran tersebut, maka penulis menetapkan kajian metode pembelajaran dan memfokuskan pada metode pemberian tugas.
Karena metode pemberian tugas ini merupakan salah satu metode yang dapat mengembangkan tujuh keterampilan proses siswa. 
 

Pengertian Metode Pembelajaran

Proses pembelajaran harus menciptakan suasana yang dapat membina serta mengembangkan kreativitas, Karen adengan mengembangkan kreativitas berarti menimbulkan perasaan dihargai serta mendorong keberanian menciptakan gagasan kreatif bagi anak (Rusyan, 1996). Untuk menciptakan susana tersebut maka diperlukan suatu cara yang disebut metode.
 
Metode merupakan suatu tata cara untuk melakukan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Dan dalam proses pembelajaran berarti menggunakan metode pembelajaran yang tujuannnya erat dengan pelaksanaan proses bealajar mengajar. Secara lebih lanjut, berikut akan dipaparkan beberapa pengertian metode pembelajaran.
 
Menurut Nursid Sumaatmadja (Supriatna, 2007), metode pembelajaran adalah cara yang fungsinya merupakan suatu alat untuk mencapai tujuan.
 
Sedangkan menurut S. Hamid Hasan (Supriatna, 2007), metode pengajaran adalah suatu cara yang digunakan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa dalam belajar. Dari dua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa metode pengajaran ialah suatu cara yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran agar siswa dapat belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan optimal.
 
Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat dua hal yang turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar, yaitu pengaturan proses belajar mengajar dan pengajaran itu sendiri. Kedua hal itu saling ketergantungan. Keberhasilan pengajaran dalam arti tercapainya tujuan-tujuan sangat bergantung pada pengaturan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar yang baik dapat menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran. 
 
Metode pembelajaran dapat menciptakan siswa belajar dengan baik dalam suasana yang wajar tanpa tekanan, dalam kondisi yang merangsang untuk belajar. Metode pembelajaran yang baik dapat memberikan bantuan dan bimbingan bagi siswa yang mendapat berbagai kesulitan belajar serta memberikan dorongan untuk memahami bahan pengajaran dalam berbagai kegiatan belajar, karena dalam kegiatan belajar siswa memerlukan sesuatu yang memungkinkan siswa berkomunikasi secara baik dengan guru, dengan teman, maupun dengan lingkungan sekitarnya. Kebutuhan akan bimbingan, bantuan dan perhatian guru bisa dilaksanakan dengan menggunakan metode pembelajaran yang efektif. Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru sangat beragam.
 
Diantaranya metode ceramah, Tanya jawab, diskusi, pemberian tugas, eksperimen, demonstrasi, kerja kelompok, proyek, dan sebagainya.Dalam menggunakan metode pembelajaran, guru harus pintar dalam memilih mana yang terbaik.Karena tidak semua metode sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan.
 
Djamarah, Syaiful Bahri (2005:229-231) dalam bukunya Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif Suatu Pendekatan Teoretis Prikologis, mengemukakan bahwa dasar pertimbangan pemilihan metode mengajar adalah:
  1. Berpedoman pada tujuan
  2. Perbedaan individual anak didik
  3. Kemampuan guru
  4. Sifat bahan pelajaran
  5. Situasi kelas
  6. Kelengkapan fasilitas
  7. Kelebihan dan kelemahan metode
 
Diketahui pula bahwa dalam metode mengajar mempunyai hubungan yang erat dengan keterampilan proses dalam bentuk kemampuan mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, dan mengkomunikasikan. Dari empat metode, yaitu pemberian tugas, eksperimen, proyek, dan diskusi dapat dikembangkan tujuh (seluruh) keterampilan proses.
 
Dalam metode karyawisata dapat dikembangkan enam jenis keterampilan proses, kecuali meramalkan tidak termasuk didalamnya. Yang dikembangkan dari Tanya jawab dan demonstrasi adalah lima jenis keterampilan proses, yaitu kemampuan mengamati, menggolongkan, menafsirkan, menerapkan, dan mengkomunikasikan. Lain halnya dengan metode bermain peran/sosiodrama dan bercerita, didalamnya dapat dikembangkan empat jenis ketersmpilan proses yaitu kemempuan mengamati, menafsirkan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.
 
Dua jenis keterampilan proses lainnya, yaitu mengamati dan mengkomunikasikan dapat dikembangkan dalam metode ceramah. Sedangkan metode latihan dapat dikembangkan tiga macam keterampilan proses, yaitu kemampuan mengamati, menerapkan, dan mengkomunikasikan. Diketahui bahwa metode pemberian tugas adalah metode yang terbanyak menampilkan segi-segi keterampilan proses. Begitu juga dengan metode diskusi, eksperimen, dan proyek. Keempat metode tersebut sama-sama menampilkan tujuh macam kemampuan dalam keterampilan proses. Sedangkan metode ceramah adalah metode yang paling sedikit menampilkan segi-segi keterampilan proses. Karenanya, metode ceramah yang sering digunakan guru dalam mengajar di kelas perlu dibatasi pemakaiannya. 
 

Pengertian Metode Pemberian Tugas

 
Metode pemberian tugas dapat diartikan sebagai suatu format interaksi belajar mengajar yang ditandai dengan adanya satu tugas atau lebih tugas yang diberikan oleh guru, dimana penyelesaian tugas-tugas tersebut dapat dilakukan secara perseorangan atau secara kelompok sesuai dengan perintahnya. (Moedjiono dan Dimyati, 1992/1993).
 
Sedangkan Supriatna, Nana, dkk (2007:200) mengemukakan bahwa metode penugasan (pemberian tugas) adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan laporan sebagai hasil dari tugas yang dikerjakannya. Metode ini mengacu pada penerapan unsure-unsur “learning by doing”.
 
Dari dua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa metode pemberian tugas adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dengan cara guru memberikan tugas tertentu agar diselesaikan siswa sebagai salah satu bentuk kegiatan belajarnya, baik secara individu atau kelompok dan adanya laporan sebagai hasil dari tugas tersebut tanpa terikat dengan tempat.
 
Hal-hal yang hendaknya diketahui oleh guru dalam menggunakan metode pemberian tugas adalah sebagai berikut:
  1. Tugas dapat ditunjukan kepada siswa secara perseorangan, kelompok, atau kelas.
  2. Tugas dapat diselesaikan atau dilaksanakan dilingkungan sekolah (dalam kelas atau luar kelas) dan diluar sekolah.
  3. Tugas dapat berorientasi pada satu bidang studi ataupun berupa integrasi beberapa bidang studi (unit).
  4. Tugas dapat ditujukan untuk meninjau kembali pelajaran yang baru, mengingat pelajaran yang telah diberikan, menyelesaikan latihan-latihan pelajaran, mengumpulkan informasi atau data yang diperlukan untuk memecahkan masalah serta tujuan yang lain.
  5. Metode pemberian tugas adalah sebagai komponen pengajaran di kelas jenjang dasar (elementary) atau sekolah dasar (Rosenshine dalam Supriatna, Nana, dkk, 2007:201). Namun demikian untuk menerapkan metode pemberian tugas secara efektif, guru hendaknya mempertimbangkan jumlah siswa, kemampuan siswa, dan jenis-jenis tugas yang diberikan.

 

Tujuan Metode Pemberian Tugas

 
Tujuan dari penggunaan metode penugasan adalah untuk merangsang anak untuk aktif belajar baik secara individual maupun kelompok. (Sumantri, 1998/1999) :
 
a. Jenis-jenis tugas
Davies (Moedjiono dan Dimyati, 1992/1993), mengemukakan bahwa beberapa tugas merupakan kegiatan akademis atau intelektual, sedangkan lainnya terutama berhubungan dengan keterampilan fisik. Selain itu, tugas seringkali merupakan kegiatan akademis/intelektual dan keterampilan fisik sekaligus.
 
Davies lebih lanjut mengutarakan bahwa untuk dapat mengemukakan tentang apa yang sebenarnya akan diajarkan (melalui sejumlah tugas), maka seorang guru memerlukan analisis tugas yang benar. Analisis tugas dilakukan dengan tujuan:
  • Menerangkan tugas yang harus dipelajari siswa.
  • Mengisolasi tingkah laku yang diperlukan.
  • Mengidentifikasikan kondisi dimana tingkah laku terjadi.
  • Menetapkan suatu criteria untuk tingkah laku atau penampilan yang dapat diterima.
 
Berdasarkan pendapat Dsvies dan Gage & Berliner, dapat dipisahkan jenis-jenis tugas berikut ini :
  • Tugas latihan.
  • Tugas membaca/mempelajari buku tertentu.
  • Tugas unit/proyek.
  • Studi eksperimen.
  • Tugas praktis.

Sedangkan Rusyan, A. Tabrani (1996:14) mengemukakan bahwa metode pemberian tugas dapat dilakukan dengan cara:
  • Membuat rangkuman.
  • Membuat makalah/paper.
  • Menjawab pertanyaan atau menyelesaikan soal-soal tertentu.
  • Mengadakan observasi atau wawancara.
  • Mengadakan latihan.
  • Mendemonstrasikan sesuatu.
  • Menyelesaikan pekerjaan tertentu.
 

Syarat-Syarat Tugas

 
Penerapan metode pemberian tugas akan memberikan hasil optimal jika pada saat guru memberikan tugas memperhatikan syarat atau prinsip pemberian tugas. Kepedulian terhadap syarat-syarat pemberian tugas juga didasarkan pada adanya perbedaan karakteristik siswa, karakteristik bidang studi, dan karakteristik tujuan. Adapun syarat-syarat pemberian tugas diantaranya sebagai berikut:
  • Kejelasan dan ketegasan tugas.
  • Penjelasan mengenai kesulitan-kesulitan yang mungkin dihadapi.
  • Diskusi tugas antara guru-siswa.
  • Kesesuaian tugas dengan kemampuan dan minat siswa.
  • Kebermaknaan tugas bagi siswa

 

Kelebihan dan Kekurangan Metode Pemberian Tugas

1. Kelebihan Metode Pemberian Tugas. Kelebihan dari metode pemberian tugas adalah:
  • Relevan dengan prinsip cara belajar siswa aktif (CBSA).
  • Merangsang siswa belajar lebih banyak, baik dekat dengan guru maupun pada saat jauh dari guru di dalam sekolah maupun di luar sekolah.
  • Mengembangkan sifat kemandirian pada diri siswa.
  • Lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari dari guru, lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajarai.
  • Membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengolah sendiri informasi dan komunikasi.
  • Pengetahuan yang siswa peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama.
  • Merangsang kegairahan belajar siswa karena dapat dilakukan dengan bervariasi.
  • Membina tanggung jawab dan disiplin siswa.
  • Mengembangkan kreativitas siswa.
 
2. Kekurangan Metode Pemberian Tugas. Kekurangan metode pemberian tugas adalah:
  • Sulit mengontrol siswa apakah belajar sendiri atau dikerjakan orang lain.
  • Sulit memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.
  • Tugas yang monoton dapat membosankan siswa.
  • Tugas yang banyak dan sering dapat membuat beba dan keluhan siswa.
  • Tugas kelompok dikerjakan oleh orang tertentu atau siswa yang rajin dan pintar.
  • Kurang adanya balikan bagi guru.

Prosedur Pemakaian Metode Pemberian Tugas

 
Bellack dan kawan-kawan (Moedjiono dan Dimyati, 1992/1993), mengemukakan adanya rangkaian kegiatan yang diulang secara terus menerus dalam pemakaian metode pemberian tugas. Rangkaian kegiatan yang digambarkan oleh Bellack dan kawan-kawan tersebut adalah:
  • Guru menggambarkan secara singkat tentang topik atau isu yang didiskusikan.
  • Guru meminta suatu respons atau jawaban dari siswa tentang suatu pertanyaan/permasalahan.
  • Seorang siswa merespons atau menjawab pertanyaan/permasalahan.
  • Guru menanggapi jawaban-jawaban siswa.
 
Langkah-langkah dalam pemakaian metode pemberian tugas adalah sebgaai berikut:
1) Fase pemberian tugas(persiapan).
  • Merumuskan masalah (scope and sequenes) dengan jelas.
  • Mengemukakan tujuan pelaksanaan tugas.
  • Menentukan jenis tugas (kelompok/individu).
  • Memberikan penjelasan atau pengarahan sebelum pengarahan tugas.
  • Memberikan petunjuk/sumber yang dapat membantu pekerjaan siswa.
  • Menentukan limit waktu pelaksanaan.
 
2) Fase pelaksanaan tugas.
  • Mengadakan bimbingan/pengawasan dalam pelaksanaan tugas.
  • Memberikan motivasi/dorongan sehingga anak mau bekerja.
  • Memberikan pelayanan kebutuhan.
  • Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri, tidak menyuruh orang lain.
  • Dianjurkan agar siswa menctat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik.

3) Fase pertanggungjawaban tugas.
  • Pelaporan secara lisan/tulisan, tindakan/demonstrasi.
  • Melaksanakan penilaian hasil pelaksanaan tugas.
  • Melaksanakan penilaian proses dan hasil pelaksanaan.
  • Mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat diselesaikan oleh siswa selama pelaksanaan tugas.
 

Contoh Penerapan Metode Pemberian Tugas dalam Pengajaran IPA

 
Dalam proses pengajaran IPA, semua upaya yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan pengajarannya merupakan rangkaian proses yang menentukan pencapaian hasil pengajaran, termasuk pemilihan metode yang tepat untuk setiap pertemuan. IPA sebagai bagian dari ilmu yang ada, merupakan ilmu yang sarat dengan dengan fakta sehingga pengajarannya menuntut kemampuan pengetahuan dari guru, disamping keterampilan pengajaran lainnya.
 
Penerapan metode pemberian tugas dalam proses pengajaran IPA, umumnya dimaksudkan untuk melatih siswa agar mereka dapat aktif mengikuti sajian pokok bahasan yang telah diberikan, baik di dalam kelas maupun di tempat lain yang representatif untuk kegiatan belajarnya. Tugas yang diberikan kepada siswa dapat dilakukan dengan berbagai bentuk seperti daftar pertanyaan mengenai suatu pokok bahasan tertentu, suatu perintah yang harus dibahas melalui diskusi atau perlu dicari uraiannya dalam buku pelajaran yang lain. Dapat juga berupa tugas tertulis atau tugas lisan yang lain, mengumpulkan sesuatu, membuat sesuatu, mengadakan observasi, eksperimen dan berbagai bentuk tugas lainnya. Kesemuanya itu bertujuan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses belajar mengajar.
 
Perlu dipahami bagi seorang guru bahwa waktu belajar siswa di sekolah sangat terbatas untuk menyajikan sejumlah materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sehingga untuk mengatasi hal tersebut guru perlu memberikan tugas-tugas kepada siswa diluar jam pelajaran, baik secara perorangan maupun kelompok. Dalam hubungan ini, guru sangat diharapkan agar setelah memberikan tugas kepada siswa supaya dicek atau diperiksa pada pertemuan berikutnya apakah sudah dikerjakan oleh siswa atau tidak.Kesan model pengajaran seperti ini memberikan manfaat yang banyak bagi siswa, terutama dalam meningkatkan aktivitas dan motivasi belajarnya.
 
Teknik pemberian tugas atau resitasi biasanya digunakan dengan tujuan agar siswa memiliki hasil belajar yang lebih mantap, karena siswa melaksanakan latihan-latihan selama mengerjakan tugas. Dari proses seperti itu, siswa dalam mempelajari sesuatu dapat lebih terintegrasi akibat pendalaman dan pengalaman siswa yang berbeda-beda pada saat menghadapi masalah atau situasi yang baru. Disamping itu, siswa juga dididik untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, aktivitas dan rasa tanggung jawab serta kemampuan siswa untuk memanfaatkan waktu belajar secara efektif dengan mengisi kegiatan yang berguna dan konstruktif.
 
Bagi seorang guru dalam menerapkan metode pemberian tugas tersebut diharapkan memperjelas sasaran atau tujuan yang ingin dicapai kepada siswa.Demikian halnya dengan tugas sendiri, jangan sampai tidak dipahami tidak dengan jelas oleh siswa tentang tugas yang harus dikerjakan.
Dalam penggunaan teknik pemberian tugas atau resitasi, siswa memiliki kesempatan yang besar untuk membandingkan antara hasil pekerjaannya dengan hasil pekerjaan orang lain. Ia juga dapat mempelajari dan mendalami hasil uraian orang lain. Kesemuanya itu dapat memperluas cakrawala berfikir siswa, meningkatkan pengetahuan dan menambah pengalaman berharga bagi siswa. Sebagai petunjuk dalam penerapan metode pemberian tugas Roestiyah N.K (1989) mengemukakan perlunya memperhatikan langkah-langkah berikut:
  1. Merumuskan tujuan khusus dari tugas yang diberikan.
  2. Pertimbangkan betul-betul apakah pemilihan teknik pemberian tugas itu telah tepat untuk mencapai tujuan yang anda rumuskan.
  3. Anda perlu merumuskan tugas-tugas dengan jelas dan mudah dimengerti.
 
Dalam menerapkan metode pemberian tugas seperti dikemukakan di atas, guru hendaknya memahami bahwa suatu tugas yang diberikan kepada siswa minimal harus selalu disesuaikan dengan kondisi obyektif proses belajar mengajar yang dihadapi, sehingga tugas yang diberikan itu betul-betul bermakna dan dapat menunjang efektifitas pengajaran. Berbicara lebih jauh mengenai penerapan metode pemberian tugas, seringkali diterjemahkan oleh sebahagian orang hanya terkait dengan pekerjaan rumah yang diberikan kepada siswa.
 
Akan tetapi sebenarnya metode ini harus dipahami lebih luas dari pekerjaan rumah karena siswa dalam melakukan aktivitas belajarnya tidak mutlak harus dilakukan di rumah, melainkan dapat dilaksanakan di sekolah, di laboratorium atau di tempat-tempat lainnya yang memungkinkan untuk menyelesaikan tugas. Sehubungan dengan ini Nana Sudjana (1989) mengemukakan bahwa; Tugas dan resitasi tidak sama dengan pekerjaan rumah, tetapi jauh lebih luas dari itu. Tugas bisa dilaksanakan di rumah, di sekolah, di perpustakaan, dan tempat lain. Tugas dan resitasi merangsang anak untuk aktif belajar diberikan secara individual atau dengan kelompok.
 
Penguasaan itu tidak harus selalu didiktekan oleh guru melainkan dapat berasal dari perencanaan kelompok, sehingga kelompok dapat membagi tugas kepada anggotanya secara baik menurut minat dan kemampuannya.Jelasnya bahwa penguasaan yang diberikan kepada siswa harus selalu dirumuskan dengan seksama agar tugas itu tidak terlalu memberatkan siswa dan juga tidak membosankan.Ini tidak berarti bahwa tugas itu tidak boleh sukar.Bahkan senantiasa diharapkan menciptakan suatu kondisi yang memungkinkan pemberian tugas yang menantang buat siswa.
 
Menurut Sutomo (1993) bahwa metode pemberian tugas dapat digunakan apabila :
  1. Suatu pokok bahasan tertentu membutuhkan latihan atau pemecahan yang lebih banyak di luar jam pelajaran yang melibatkan beberapa sumber belajar.
  2. Ruang lingkup bahan pengajaran terlalu luas, sedangkan waktunya terbatas. Untuk itu guru perlu memberikan tugas.
  3. Suatu pekerjaan yang menyita waktu banyak, sehingga tidak mungkin dapat diselesaikan hanya melalui jam pelajaran di sekolah.
  4. Apabila guru berhalangan untuk melaksanakan pengajaran, sedangkan tugas yang harus disampaikan kepada murid sangat banyak. Untuk itu pemberian tugas perlu diberikan melalui bimbingan guru lain yang menguasai bahan pengajaran yang dipegang oleh guru yang berhalangan tadi.
 
Beberapa jenis tugas penugasan dianggap sudah ditunaikan apabila siswa telah mengerjakannya. Di sini tidak diperlukan standar minimum. Akan tetapi jika suatu keterampilan tertentu ingin dikembangkan, maka tolok ukur penilaian perlu ditentukan dan disampaikan kepada siswa, sehingga mereka berkesempatan untuk mempraktekkan keterampilan itu dengan memuaskan.
 
Demikian pula jika penugasan itu berupa laporan atau makalah yang harus dipersiapkan, para siswa sedapat mungkin sering diberitahu apa saja target atau sasaran yang diharapkan dari mereka atau dari tugas yang diberikan, sehingga mereka memiliki cukup pedoman dalam bekerja menyelesaikan tugas-tugasnya.
 
Mengingat pentingnya metode pemberian tugas dalam proses belajar, sehingga dalam mencermati hal itu kalangan ahli pendidikan banyak memberikan petunjuk dan penekanan khusus yang berkaitan dengan jenis dan metode pemberian tugas kepada siswa. Kesemuanya berorientasi pada pencapaian hasil belajar yang lebih baik.Sehubungan dengan itu Tim Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya (1993) menegaskan bahwa “tugas yang harus dilakukan siswa perlu jelas.Ini berarti bahwa guru, dalam memberikan tugas, harus menjelaskan aspek-aspek yang perlu dipelajari siswa, agar siswa tidak merasa bingung apa yang harus dipentingkan jika aspek-aspek yang diperhatikan sudah jelas, maka perhatian siswa waktu belajar akan lebih dipusatkan pada aspek-aspek yang dipentingkan itu”.
 
Khusus dalam pengajaran IPA, metode pemberian tugas memegang peranan yang penting untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan siswa terhadap materi pelajaran.Dengan pemahaman seperti itu diharapkan siswa memiliki motivasi untuk belajar IPA secara maksimal, agar siswa mampu menghubungkan pemahaman IPA-nya dengan perkembangan yang ada.

Penutup

 
Metode pembelajaran adalah suatu cara penyajian pembelajaran. Metode pembelajaran merupakan salah satu factor terpenting yang mempengaruhi proses pembelajaran, karena menentukan bagaimana hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
 
Metode pembelajaran yang baik adalah metode yang dapat menciptakan suasana yang baik dan kondisi yang dapat merangsang siswa untuk belajar.Kualitas belajar siswa dapat dicapai dengan menggunakan metode pembelajaran yang efektif.Tidak ada satupun metode pembelajaran yang baik dan sempurna.Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.Oleh karena itu, metode yang paling baik adalah metode yang cocok, relevan dengan materi, dan sesuai tujuan pembelajaran.
 

Referensi

  • Djamarah, S. B. (2005). Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif Suatu Pendekatan
  • Teoretis Psikologis. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
  • Moedjiono dan Dimyati, M. (1992/1993).Strategi Belajar Mengajar . Jakarta: Depdikbud Dirjen
  • Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan.
  • Rusyan, A. (1996). Metode Pembelajaran. Jakarta: PT Amanah Duta.
  • Sumantri, M. d. (1998/1999). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud Dirjen Pendidikan
  • Tinggi Proyek PGSD