Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Senin, 11 Oktober 2021, 09:09 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:49:13Z
ArtikelMetode PembelajaranPendidikan

Pengertian, Perencanaan, dan Langkah-langkah Metode Sosiodrama

Pengertian, Perencanaan, dan Langkah-langkah Metode Sosiodrama

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Kata strategi mula-mula dipakai oleh kalangan militer dan diartikan sebagai seni dalam merancang peperangan. Sedang dalam dunia pendidikan strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran. Bila strategi telah ditentukan maka agar dapat mencapai suatu tujuan memerlukan cara atau metode dalam menerapkan sebuah strategi tersebut. Banyak sekali metode pembelajaran disekolah yang bisa digunakan untuk mencapai tujuan salah satunya adalah metode Sosiodrama dan Bermain Peran.

Pengertian Metode Sosiodrama / Bermain Peran

 
Metode Sosiodrama adalah metode pembelajaran dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial, sedangkan bermain peran menekankan kenyataan dimana anak didik diikutsertakan dalam permainan peran didalam mendemonstrasikan masalah-masalah sosial.
 
Metode ini sebagai prinsip dasarnya telah diuraikan didalam Al-Qur’an di mana banyak kita jumpai macam-macam drama dari darama cinta segitiga sampai drama cinta sejati. Misalnya drama Habil dan Qabil, Yusuf dan Zulaikha, Adam dan Hawa, dan sebagainya.
 
Dalam metode sosiodrama dan bermain peran, anak didik bisa memerankan tingkah laku tokoh secara bebas sesuai dengan imajinasi mereka, selain itu mereka akan lebih menghayati pelajaran yang diberikan. Unsur yang menonjol dari metode sosiodrama dan bermain peran adalah unsur hubungan kemasyarakatan, seperti berperan sebagai pahlawan, petani, dokter, guru, dan sebagainya.
 
Metode sosiodrama dan bermain peran bisa diterapkan pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak sampai jenjang sekolah menengah atas. Dalam melaksanakan metode sosiodrama dan bermain peran pada jenjang kelas rendah tidak perlu disusun suatu cerita secara khusus, guru cukup menggambarkan isi cerita secara garis besar, kemudian kepada anak didik ditentukan peran-peran yang ada dalam cerita tersebut. Sedaangkan pada kelas yang lebih tinggi, perlu disusun berdasarkan beberapa pertimbangan seperti :
  1. Menentukan topik
  2. Menyusun kalimat-kalimat yang tepat
  3. Menentukan pemeran
  4. Mempelajari tugas masing-masing selanjutnya melaksanakan permainan.
 
Langkah-langkah tersebut dalam pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan tujuan serta jenis permainan. Kesuksessan metode sosiodrama dan bermain peran sangat tergantung pada kualitas permainan yang dirancang oleh sang sutradara alias guru mata pelajaran. Disamping itu sangan tergantung juga pada persepsi anak didik terhadap peran yng dimainkan dalam situasi yang nyata.
 
Situasi suatu masalah diperagakan secara singkat, dengan tekanan utama pada karakter atau sifat, kemudian diikuti diskusi dengan masalah yang baru diperagakannya, setelah itu ditentukan secara pasti situasi masalah, mengatur para pelaku, peragaan situasi, menghentikan permainan pada saat mencapai klimaks, menganalisa dan membahas peran tersebut serta mengevaluasi hasilnya. Permainan peran ini bertujuan untuk memecahkan bersama sama, disamping itu juga anak dapat memperoleh kesempatan untuk merasakan bagaimana perasaan orang lain.

Langkah-langkah menggunakan metode sosiodrama dan bermain peran

 
  1. Bila metode sosiodrama baru ditetapkan dalam pengajaran, maka hendaknya guru menerangkannya terlebih dahulu tehnik pelaksanaannya.
  2. Guru berupaya memperkenalkan permasalahan kepada anak didik, agar mereka dapat mempelajari dan menghayati tugas yang mereka perankan dan menggambarkan permasalahan dengan jelas disertai dengan contoh.
  3. Guru menyediakan suatu cerita kemudian dibacakan di depan kelas berulangkali, bila arah cerita sudah dipahami baru karya itu bisa dipentaskan.
  4. Memilih pemain, guru dan anak didik membahas karakter dari setiap pemain dan menentukan siapa yang akan memainkannya. Dalam hal ini guru dapat memilih anak didik disesuaikan dengan peran yang akan dibutuhkan.
  5. Menata panggung, dalam hal ini guru dan anak didik dapat menentukan dimana dan bagaimana peran itu dimainkan, apa saja kebutuhan yang diperlukan. Penataan panggung ini dapat dilakukan secara sederhana atau kompleks, penataan sederhana adalah hanya membahas skenarionya saja yang menggambarkan urutan permainan peran, sedang secara kompleks meliputi aksesoris lain seperti kostum, dekorasi, tempat dan lain-lain.
  6. Menyiapkan pengamat. Guru menunjuk beberapa orang anak didik untuk menjadi pengamat, namun demikian pengamat disini harus terlibat aktif dalam permainan tersebut.
  7. Pementasan. Drama atau permainan peran dilaksanakan secara spontan. Jika drama dan permainan peran sudah terlalu jauh melenceng dari alur cerita, guru dapat menghentikannya dan segera masuk ke langkah berikutnya.
  8. Guru bersama anak didik bersama-sama mendiskusikan, mengevaluasi drama dan permainan peran sehingga pada pementasaan yang kedua akan lebih baik. Karena para anak didik sudah menemukan peran yang sesuai dengan skenario yang telah disusun gurunya.
  9. Langkah berikutnya diskusi dan evaluasi kedua. Dalam pembahasan diskusi dan evaluasi lebih diarahkan pada realitas, karena pada saat drama dan permainan peran dilakukan, banyak peranan yang barangkali melampaui batas kenyataan, misalnya seorang anak didik memerankan peran sebaagai pembeli, ia membeli barang dengan harga yang tidak realitis.
  10. Yang terakhir, anak didik diajak berbagi pengalaman tentang tema drama dan permainan peran yang telah dilakukan dan dilanjutkan dengan membuat kesimpulan. Misalnya anak didik akan berbagi pengalaman tentang bagaimana ia dimarahi habis-habisan oleh ayahnya, kemudian guru membahas bagaimana sebaiknya anak didik menghadapi situasi tersebut.
 

Kelebihan dan kekurangan metode sosiodrama / bermain peran

 
Kelebihan dari metode sosiodrama dan bermain peran:
  1. Melatih anak untuk mendramatiskan sesuatu serta melatih keberanian.\
  2. Metode ini dapat menarik perhatian anak didik sehingga suasana kelas menjadi hidup.
  3. Anak-anak dapat menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.
  4. Anak dilatih untuk menyusun pikirannya teratur.
 
Kelemahan:
  1. Metode ini memerlukan waktu yang cukup banyak.
  2. Memerlukan persiapan yang teliti dan matang.
  3. Kadang-kadang anak didik tidak mau mendramatisasikan suatu adegan karena malu.
  4. Kita tidak dapat mengambil kesimpulan apa-apa apabila pelaksanaan dramatisasi itu gagal.

Penutup

 
Metode Sosiodrama adalah metode pembelajaran dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam hubungan sosial, sedangkan bermain peran menekankan kenyataan dimana anak didik diikutsertakan dalam permainan peran didalam mendemonstrasikan masalah-masalah sosial.
 
Sebagaimana dapat kita maklumi bahwa mengajar merupakan usaha yang sangat kompleks, sehingga sulit untuk menentukan tentang bagaimana mengajar yang baik itu. Mengingat belajar adalah proses bagi anak didik untuk membangun pemahaman, maka aktivitas pembelajaran hendaknya memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan hal secara lancar dan termotivasi dengan cara melibatkan anak didik secara langsung, oleh sebab itu kemampuan pendidik dalam menciptakan intraksi juga diperlukan.
 
Dalam metode sosiodrama dan bermain peran, anak didik bisa memerankan tingkah laku tokoh secara bebas sesuai dengan imajinasi mereka, selain itu mereka akan lebih menghayati pelajaran yang diberikan. Unsur yang menonjol dari metode sosiodrama dan bermain peran adalah unsur hubungan kemasyarakatan, seperti berperan sebagai pahlawan, petani, dokter, guru, dan sebagainya. Tinggal bagaimana kita akan memilih metode apa yang tepat untuk membantu anak didik itu mencapai tujuan.
 

Referensi

 
  • Ahmadi, Abu dan Joko Tri Prasetya, 2005. Strategi pembelajaran UntuK Fakultas Tarbiyah. Bandung:Pustaka Setia.
  • Budiyanto, Mangun dan Syamsul Kurniawan, 2012. Strategi dan Metode Pembelajaran Dalam Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta : Griya Santri.