Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Minggu, 10 Oktober 2021, 21:43 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:38:26Z
ArtikelTeori Belajar

Pengertian dan Aplikasi Teori Pembelajaran Behaviorisme

Pengertian dan Aplikasi Teori Pembelajaran Behaviorisme

Belajar dan pembelajaran merupakan topik yang tetap menarik ketika mengkaji ilmu-ilmu perilaku. Bagaiman sebenernya proses belajar itu dapat berlangsung dan bagaimana pembelajaran seharusnya dilakukan, ini merupakan hal yang menarik bagi pendidik, guru, orang tua, konselor, dan orang-orang yang bergerak dalam pengelolaan perilaku. Jika belajar merupakan suatu kegiatan yang bersifat rumit dan kompleks, maka pembelajaran menjadi lebih kompleks dan rumit karena tujuan pembelajaran adalah untuk memacu (merangsang) dan memicu (menumbuhkan) terjadi kegiatan belajar. Dengan demikian, hasil belajar merupakan tujuan dan pembelajaran dari sarana untuk mencapai tujuan tersebut.
 
Belajar merupakan suatu proses usaha sadar yang dilakukan oleh individu untuk suatu perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak memiliki sikap menjadi bersikap benar, dari tidak terampil menjadi terampil melakukan sesuatu. Belajar tidak hanya sekedar memetakan pengetahuan atau informasi yang disampaikan. Namun bagaimana melibatkan individu secara aktif membuat atau pun merevisi hasil belajar yang diterimanya menjadi suatu pengalamaan yang bermanfaat bagi pribadinya.
 
Pembelajaran merupakan suatu sistim yang membantu individu belajar dan berinteraksi dengan sumber belajar dan lingkungan. Teori adalah seperangkat azaz yang tersusun tentang kejadian-kejadian tertentu dalam dunia nyata. Teori merupakan seperangkat preposisi yang didalamnya memuat tentang ide, konsep, prosedur dan prinsip yang terdiri dari satu atau lebih variable yang saling berhubungan satu sama lainnya dan dapat dipelajari, dianalisis dan diuji serta dibuktikan kebenarannya. Dari dua pendapat diatas Teori adalah seperangkat azaz tentang kejadian-kejadian yang didalamnnya memuat ide, konsep, prosedur dan prinsip yang dapat dipelajari, dianalisis dan diuji kebenarannya.
 
Teori belajar adalah suatu teori yang di dalamnya terdapat tata cara pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan di kelas maupun di luar kelas. Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandang psikologi belajar.
 

Teori Belajar yang Berpijak pada Pandangan Behaviorisme

Teori belajar selalu bertolak dari sudut pandang psikologi belajar. Dalam teori psikologi belajar, terdapat tiga aliran besar yaitu: psikologi behaviorisme, psikologi kognitif, dan psikologi humanistik. Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu (apaun yang dilakukan, verbal dan non verbal, yang dapat diobservasi secara langsung) dengan menggunakan metode pelatihan, pembiasan, dan pengalaman. Pandangan ini menekankan bahwa perilaku harus dijelaskan dengan pengalaman-pengalaman yang terobservasi, bukan oleh proses mental. Jadi, peristiwa belajar berarti untuk melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai oleh individu. 
 
Ciri teori ini mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, yang bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentinganya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar, mementingkan peranan kemampan dan hasil belajar yang diperoleh adalah berupa prilaku yang dapat dimati (observable). Santrock (2008) memandag individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan, pengalaman, dan latihan akan membentuk perilaku mereka. Tokoh penting dalam teori belajar behaviorisme secara teoretik antara lain: Pavlov, Skinner, E.L. Thorndike, dan E.R Guthrie.
 

a. Teori behaviorisme menurut Thorndike

 
teori belajar Thorndike dikenal dengan istilah Koneksionisme (connectionism), merupaakan rumpun yang paling awal dari teori beavioristik, Teori ini memandang bahwa yang menjadi dasar terjadinya belajar adalah adanya asosiasi atau menghubungkan anatara kesan indra (stimulus) dengan dorongan yang muncul untuk bertindak (respons) yang disebut dengan connecting. Menurut teori ini tingkah laku manusia tidak lain dari suatu hubungan stimulus-respons. Siapa yang menguasai stimulus-respons sebanyak-banyaknya ialah orang yang pandai dan berhasil dalam belajar. Pembentukan hubungan stimulus-respons dilakukan melalui ulangan-ulangan.
 
Thorndike (1874-1949), dengan eksperimennya belajar pada binatang yang juga berlaku bagi manusia yang disebut Thorndike dengan trial and error. Thorndike menghasilkan belajar Connectionism karena belajar merupakan proses pembentukan koneksi-koneksi atara stimulus dan respons Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indra. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atua gerakan/tindakan. Thorndike mengemukakan tiga prinsip atau hukum dalam belajar, yaitu:
  • Hukum Kesiapan (Law of readiness), kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu stimulus yang dihadapi sehingga reaksi tersebut menjadi memuaskan.
  • Jika individu siap melakukan tindakan, maka melakukan tindakan itu akan menimbulkan kepuasan. Contoh : Peserta didik yang merasa sangat siap menghadapi ujian denga belajar keras, maka mengikuti ujia merupakan suatu tindakan yang menyenangkan karena dapat mengerjakan dengan benar.
  • Jika individu siap melakukan tindakan, maka tidak melakukan tindakan akan menimbulkan kekesalan.
  • Jika individu tidak siap melakukan tindakan, maka melakuka tindakan akan menimbulkan kekesalan.

Jadi dalam melakukan suatu perbuatan (belajar) akan dicapai hasil yang memuaskan apabila individu siap menerima dan melakukan sesuatau dengan tidak ada hambatan.
  • Hukum Latihan (Law of exercise), Prinsip dalam hukum latidan ini adalah tingkat frekuensi untuk mempraktikan (seringnya menggunakan hubungan stimulus-respons), sehingga hubungan tersebut seakin kuat. Hukum ini mengenai istilah law of use dan law of desuse.
  • Makin sering hubunga stimulus dan respon dilakukan maka akan makin kuat koneksinya (law of use).
  • Jika hubungan antara stimulus dan respons dihentikan untuk periode tertentu, maka koneksinya akan melemah (law of dis-use).
  • Hukum Akibat (Law of effect), suatu tindakan atau tingkah laku yang mengakibatkan suatu keadaan yang menyenangkan (cocok dengan tuntutan situasi) akan diulangi, diingat, dan dipeljari dengan sebaik-baiknya. Suatu tindakan atau tingkah laku yang mengakibatkan suatu keadaan tidak menyenangkan (tidak cocok dengan tuntutan situasi) akan dihilangkan atau dilupakan. tingkah laku ini terjadi secara otomatis.


b. Teori Behaviorisme menurut Skinner

B.F. Skinner terkenal dengan teori Pengkondisian operan (operant conditioning), yaitu suatu bentuk pembelajaran dimana konsekuensi perilaku menghasilkan berbagai kemungkinan terjadinya perilaku tersebut. Penggunakaan frekuensi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk mengubah perilaku itulah yang disebut dengan pengondisian operan ( Slavin, 1996). Prinsip teori skinner ini adalah hukum akibat, penguatan, dan konsekuensi. 

1. Penguatan (reinforcement)

Penguatan adalah suatu konsekuensi yang meningkatkan peluang terjadinya suatu perilaku. Menurut skinner, untuk memperkuat perilaku atau menegaskan perilaku diperlukan penguatan (reirforcement). Ada dua jenis penguatan, yaitu: penguatan positif dan penguatan negative (Santrock 2008).
Penguatan positif (positive reinforcement) didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respons akan meningkat karena diikuti oleh suatu stimulus yang mengandung penghargaan. Jadi, perilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti oleh stimulus menyenangkan.
 
Penguatan negatif (negative reinforcement) didasari prinsip bahwa frekuensi dari suatu respons akan meningkat karena diikuti dengan suatu stimulus yang tidak menyenangkan yang ingin dihilangkan. Jadi, perilaku yang diharapkan akan meningkat karena diikuti stimulus yang tidak menyenangkan.
 

2. Hukuman (Punishment)

Respons yang diberi konsekuensi yang tidak menyenangkan atau menyakitkan akan membuat seseorang tertekan. Contoh seorang siswa yang tidak mengerjakan PR tidak dibolehkan bermain bersama teman-temannya saat jam istirahat sebagai bentuk hukuman.Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
 
Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman.
 
Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon. Namun bedanya adalah penguat positif menambah, sedangkan penguat negatif adalah mengurangi agar memperkuat respons.
 

c. Teori Behaviorisme menurut Pavlov

Ivan Pavlov terkenal dengan teori kondisionig klasik (classical conditioning), yaitu sejenis pembelajaran dimana sebuah organisme belajar untuk menghubungkan atau mengasosiasikan stimulus dengan respon. Untuk memahami teori kondisioning klasik secara menyeluruh perlu dipahami bahwa ada dua jenis stimulus dan dua jenis respon. Dua jenis stimulus tersebut adalah stimulus yang tidak terkondisi (unconditioned stimulus-UCS), yaitu stimulus yang secara otomatis menghasilkan respon tanpa didahului dengan pembelajaran apapun. Dan stimulus terkondisi (conditioned stimulus-CS), Yaitu stimulus yang sebelumnya bersifat netral, akhirnya mendatangkan sebuah respon yang terkondisi setelah diasosiasikan dengan stimulus tidak terkondisi.
 
Dua respons tersebut adalah respons yang tidak terkondisi (unconditioned respons-UCR), yaitu sebuah respons yang tidak dipelajari secara otomatis disebabkan oleh stimulus yang tidak terkondisi. Dan respon terkondisi (conditioned respon-CR), yaitu sebuah respons yan dipelajari terhadap stimulus yang terkondisi yang terjadi setelah stimulus tidak terkondisi dipasangkan dengan stimulus terkondisi.
Faktor lain yang juga penting dalam teori belajar pengondisian klasik Pavlov adalah generalisasi, diskriminasi, dan pelemahan (Santrock, 2008)
  • Generalisasi. Melibatkan kecendrungan dari stimulus baru yang serupa dengan stimulus terkondisi asli untuk menghasilkan respons serupa. Contoh : seorang peserta didik merasa gugup ketika dikritik atas hasil ujian yang jelek pada mata pelajaran fisika. Ketika mempersiapakan ujian statistika peserta didik tersebut akan merasakan gugup karena kedua pelajaran tersebut sama-sama berupa hitungan. Jadi, kegugupan peserta didik tersebut karena hasil generalisasi dari melakukan ujian mata pelajaran satu dengan yang lainya mirip.
  • Diskriminasi. Organisme merespons stimulus tertentu, tetapi tidak terhadap yang lainnya. Contoh : dalam melaksanakan ujian dikelas yang berbeda, peserta didik tidak merasa sama gelisahnya ketika menghadapi ujian bahasa indonesia dan sejarah karena keduanya merupakan subjek yang berbeda.
  • Pelemahan(extinction). Proses melemahnya stimulus yang terkondisi dengan cara menghilangkan stimulus tak terkondisi. Contoh : kritikan guru yang terus-menerus pada hasil ujian yang jelek, membuat peserta didik tidak termotivasi belajar. Padahal, sebelumnya peserta didik pernah mendapat nilai ujian yang bagus dan sangat termotivasi belajar.
 
Dalam bidang pendidikan, teori kondisioning klasik digunakan untuk mengembangkan sikap yang menguntungkan terhadap peserta didik untuk termotivasi belajar dan membantu guru untuk melatih kebiasaan positif peserta didik.

d. Teori behaviorisme menurut E.R. Guthrie

Menurut Guthrie, tingkah laku manusia itu secara keseluruhan merupakan rangkaian tingkah laku yang terdiri atas unit-unit. Unit-unit tingkah laku ini merupakan respns-respons dari stimulus sebelumnya dan kemudian unit respons tersebut menjadi stimulus yang kemudian akan menimbulkan respons bagi unit tingkah laku yang berikutnya. Demikian seterusnya sehingga merupakan deretan tingkah laku yang terus-menerus. Jadi, proses terbentuknya rangkaian tingkah laku tersebut terjadi dengan kondisioning melalui proses asosiasi antara unit tingkah laku yang satu dengan unit tingkah laku lainnya menjadi semakin kuat. Prinsip belajar pembentukan tingkah laku ini disebut “law of Association”.
 
Menurut Guthrie, untuk memperbaiki tingkah laku yang tidak baik harus dilihat dari rentetan unit-unit tingkah lakunya, kemudian diusahakan untuk menghilangkan atau mengganti unit tingkah laku yang tidak baik dengan tingkah laku yang seharusnya.

Selain dengan cara diatas, Guthrie menyarankan tiga metode untuk mengubah tingkah laku yaitu:
  1. Metode respons bertentangan (Incompatible Respons Method). Cara mengubah tingkah laku dengan jalan memberikan stimulus yang dapat menimbulkan reaksi yang berlawanan drngan reaksi yang akan dihilangkan.
  2. Metode membosankkan (Exhaustion Method). Contoh, anak kecil suka menghisap rokok. Mereka disuruh merokok terus sampai bosan dan setelah bosan, mereka akan berhenti merokok dengan sendirinya.
  3. Metode mengubah lingkungan (Change of Enviromental Method). Contoh, anak bosan belajar, maka lingkungan belajarnya dapat diubah-ubah sehingga ada suasana lain dan memungkinkan mereka senang belajar.


Belajar Menurut Teori Behavioristik

Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil dari interaksi stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar apabila ia bisa menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Contoh, seorang anak mampu berhitung penjumlahan dan pengurangan, meskipun dia belajar dengan giat tetapi dia masih belum bisa mempraktekkan penjumlahannya, maka ia belum bisa dikatakan belajar karena ia belum menunjukkan perubahan tingkah laku sebagai hasil dari belajar.
 
Dalam teori Behavioristik, yang terpenting itu adalah masukan atau input yang berupa stimulus serta output yang berupa respon. Apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidaklah penting karena tidak dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran sebab dengan pengukuran kita akan melihat terjadi tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.Faktor lain yang dianggap penting bagi teori ini adalah penguatan (reinforcement).
 
Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat respon. Jika penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat, begitu juga penguatan dikurangi (negative reinforcement) respon akan tetap dikuatkan. Misal jika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan, maka ia akan lebih giat belajarnya (positive reinforcement). Apabila tugas-tugas dikurangi justru akan meningkatkan aktifitas belajarnya (negative reinforcement). Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambah) atau dihilangkan (dikurang) untuk memungkinkan mendapat respon.

Aplikasi Teori Belajar Behaviorisme Dalam Pembelajaran

 
Untuk mengaitkan teori behaviorisme dengan praktik pembelajaran, perlu dipahami terlebih dulu mengenai prinsip belajar menurut teori behaviorisme (Mukminan, 1997). Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Teori ini beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dikatakan belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukan perubahan tingkah laku tertentu.
  2. Hasil belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, yang terjadi karena hubungan stimulus dan respons., sedangkan proses yang terjadi antara stimulus dan respons, yang tidak dapat diamati itu tidak penting.
  3. Perlunya Reinforcement untuk memunculkan perilaku yang diharapkan. Respons akan semakin kuat jika reinforcement (baik positif maupn negative) ditambah.
 
Penekanan proses belajar menurut teori behaviorisme ini adalah hubungan stimulus dan respons. Dengan demikian, agar pembelajaran di kelas menjadi efektif, hendaknya gguru perlu memerhatikan hal-hal berikut:
  1. Guru hendaknya memilih jenis stimulus yang tepat untuk diberikan kepada peserta didik agar dapat memberikan respons yang diharapkan.
  2. Guru hendaknya menentukan jenis respons yang harus dimunculkan oleh peserta didik.
  3. Guru perlu memberikan reward yang tepat untuk meningkatkan perilaku yang diharapkan muncul dari peserta didik.
  4. Guru hendaknya segera memberikan umpan balik secara langsung, sehingga si belajar dapat mengetahui apakah respons yang diberikan telah benar atau belum.
 
Metode yang dapat digunakan guru dalam pembelajaran antara lain: ceramah, demonstrasi, dimana aktivitas ada pada guru sedangkan peserta didik pasif menerima sesuai yang diberikan guru.
 
1. Meningkatkan perilaku yang diinginkan
Enam strategi pengondisian operan dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan, yaitu:
a. Memilih penguat yang efektif
Guru harus mampu menemukan penguat mana yang berhasil paling baik untuk setiap peserta didiknya, yaitu membedakan setiap individu dalam menggunakan penguat tertentu.
 
b. Membuat penguat menjadi bergantung pada tepat waktu
Agar penguat efektif, guru harus memberikan penguat secara tepat waktu dan segera mungkin setelah anak menampilkan perhilaku tertentu yang diharapkan.
 
c. Pilih jadwal terbaik untuk penguatan
Guru harus memilih jadwal penguatan terbaik sesuai dengan tuntutan perilaku peserta didik yang diharapkan guru.
 
d. Pertimbangkan untuk membuat kontrak
Analisis perilaku terapan menyarankan bahwa kontrak kelas seharusnya merupakan hasil masukan dari guru maupun peserta didik. Pembuatan kontrak melibatkan pembuatan ketergantungan penguatan secara tertulis.
 
e. Gunakan penguatan negative secara efektif
Penguatan negative, meningkatkan frekuensi respons dengan menghilangkan stimulus yang tidak disukai. Contoh: stimulus guru yang sering mengkritik jawaban serta pertanyaan peserta didik harus dihilangkan agar frekuensi bertanya dan frekuensi menjawab semakin meningkat.
 
f. Gunakan arahan dan pembentukan
Arahan merupakan stimulus ditambahkan sebelum terjadinya kemungkinan peningkatan respons yang diinginkan. Jika arahan belum mampu membuat peserta didik menampilkan perilaku yang diharapakan, guru perlu membantu dengan pembentukan.
 
2. Mengurangi perilaku yang tidak diinginkan
Ada beberapa langkah yang dapat digunakan guru untuk mengurangi perilaku peserta didik yang tidak diinginkan (Alberto & Troutman dalam Santrock, 2008) :
 
 a. Gunakan penguatan Diferensial
Gdalam penguatan diferensial, guru memperkuat perilaku yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan anak tersebut. Contoh: guru dapat memperkuat peserta didik untuk melakukan aktivitas pembelajaran dengan memanfaatkan computer dari pada computer hanya dipakai untuk memainkan game.
 
b. Gunakan penguatan Diferensial
Tanpa disengaja guru memberikan penguatan positif yang justru membuat perilaku peserta didik yang tidak diharapkan semakin terpelihara. Dengan demikian, guru harus segera menghentikan penguatan positif tersebut agar perilaku yag tidak diharapkan menurun atau hilang dan guru memberikan peguatan positif lagi setelah perilaku yang diharapkan muncul.
 
c. Hilangkan stimulus yang diinginkan
Jika memberikan penguatan tetap tidak berhasil meingkatkan respons diharapkan, penghilangan stimulus yang diinginkan harus dilakukan oleh guru, dengan cara time-out dan respons-cost. Time out adalah penghentian penguatan positif terhadap seseorang untuk sementara, yaitu hamper sama dengan penghentian penguatan, yang berbeda adalah waktu penghilangan penguatan positif lebih lama sampai terbentuk lagi perilaku yang diinginkan.
 
d. Biaya respons (Respons cost)
Adalah menjauhkan atau mengambil penguatan-penguatan positif dari seseorang, seperti peserta didik kehilangan hak istimewa tertentu. Biasanya biaya respons melibatkan sejumlah sanksi atau denda.
 
e. Hadirkan stimulus yang tidak disukai (Hukuman)
Jenis stimulus yang tidak disukai dan paling umum digunakan guru adalah teguran verbal serta disertai dengan kerutan dahi atau kontak mata. Tindakan ini lebih efektif digunakan ketika guru berada dekat dengan peserta didik.

Kelebihan serta Kekurangan Teori Behavioristik

 
Kelebihan Teori Behavioristik
  • Membisakan guru untuk bersikap jeli dan peka terhadap situasi dan kondisi belajar.
  • Guru tidak membiasakan memberikan ceramah sehingga murid dibiasakan belajar mandiri. Jika murid menemukan kesulitan baru ditanyakan pada guru yang bersangkutan.
  • Mampu membentuk suatu prilaku yang diinginkan mendapatkan pengakuan positif dan prilaku yang kurang sesuai mendapat penghargaan negative yang didasari pada prilaku yang tampak.
  • Dengan melalui pengulangan dan pelatihan yang berkesinambungan, dapat mengoptimalkan bakat dan kecerdasan siswa yang sudah terbentuk sebelumnya. Jika anak sudha mahir dalam satu bidang tertentu, akan lebih dapat dikuatkan lagi dengan pembiasaan dan pengulangan yang berkesinambungan tersebut dan lebih optimal.
  • Bahan pelajaran yang telah disusun hierarkis dari yang sederhana sampai pada yang kompleks dengan tujuan pembelajaran dibagi dalam bagian-bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan tertentu mampu menghasilakan suatu prilaku yang konsisten terhadap bidang tertentu.
  • Dapat mengganti stimulus yang satu dengan stimuls yang lainnya dan seterusnya sampai respons yang diinginkan muncul.
  • Teori ini cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsure-unsur kecepatan, spontanitas, dan daya tahan.
  • Teori behavioristik juga cocok diterapakan untuk anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru, dan suka dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung.
 
Kekurangan Teori Behavioristik
  • Sebuah konsekwensi untuk menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap.
  • Tidak setiap pelajaran dapat menggunakan teori ini.
  • Murid berperan sebagai pendengar dalam proses pembelajaran dan menghafalkan apa di dengar dan di pandang sebagai cara belajar yang efektif.
  • Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behavioristik justru dianggap sebagai metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
  • Murid dipandang pasif, perlu motifasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan oleh guru.
  • Murid hanya mendengarkan dengan tertib penjelsan dari guru dan mendengarkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif sehingga inisiatf siswa terhadap suatu permasalahan yang muncul secara temporer tidak bisa diselesaikan oleh siswa.
  • Cenderung mengarahakan siswa untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif, tidak produktif, dan menundukkan siswa sebagai individu yang pasif.
  • Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru(teacher cenceredlearning) bersifat mekanistik dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur.
  • Penerapan metode yang salah dalam pembelajaran mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa, yaitu guru sebagai center, otoriter, komu
 

Penutup

 
Teori behavioristik merupakan teori belajar yang lebih menekankan pada perubahan tingkah laku serta sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon.
 
Teori behaviristik terdiri dari dari 4 landasan: koneksionisme, pengkondisian, penguatan, dan Operant conditioning.
 
Menurut teori belajar behavioristik, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar apabila ia bisa menunjukkan perubahan tingkah lakunya.
 
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. 

Referensi

  • Budinungsih, C. Asri. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
  • Sagala, Syaiful. 2011. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
  • Yulaelawati, Ella. 2007. Kurikulum dan Pembelajaran Filosofi, Teori dan Aplikasi. Jakarta: Pakar Raya.
  • Karwono. Mularsih, Heni. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
  • Purwanto, Ngalim. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
  • Mukminan. 1997. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: P3G IKIP.