Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Sabtu, 09 Oktober 2021, 21:55 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:28:14Z
ArtikelInovasi PendidikanPendidikan

Model Proses Inovasi Pendidikan

Model Proses Inovasi Pendidikan

Inovasi termasuk bagian dari perubahan sosial dan inovasi pendidikan merupakan bagian dari inovasi. Perkembangna suatu inovasi didorong oleh motivasi untuk melakukan inovasi pendidikan itu sendiri. Motivasi itu bersumber pada dua hal, yaitu, kemauan sekolah atau lembaga untuk mengadakan respon terhadap tantangan perubahan masyarakat dan adanya usaha untuk menggunakan sekolah dalam memecahkan masalah yang dihadapi. 

Secara umum, dalam proses inovasi terdapat dua model jika dilihat dari pelaku inovasinya, model tersebut meliputi model proses inovasi yang berorientasi pada individual dan model proses inovasi yang berorientasi pada organisasi. Penyelenggara pendidikan formal adalah suatu organisasi maka pola yang lebih sesuai diterapkan dalam bidang pendidikan adalah pola inovasi organisasi, tetapi meskipun demikian, oranisasi pendidikan juga memiliki karakteristiknya tersendiri jika dibandingkan dengan organisasi yang lainnya.
 
Maka, untuk memperjelas wawasan tentang model inovasi pendidikan yang sesuai dengan situasi dan kondisi, ada beberapa faktor yang harus dipahami yang dapat mempengaruhi proses inovasi pendidikan sesuai dengan karakteristik bidang pendidikan. Selain itu, diperlukan pula perencanaan inovasi pendidikan agar proses inovasi berlangsung efektif dengan panduan petunjuk untuk mengadakan inovasi pendidikan di sekolah.
 

Pengertian Proses Inovasi Pendidikan

 
Proses inovasi berkaitan dengan bagaimana suatu inovasi itu terjadi, disini ada unsur keputusan yang mendasarinya. Pelaksanaan inovasi pendidikan tidak dapat dipisahkan dari inovator dan pelaksana inovasi itu sendiri.
 
Proses inovasi pendidikan adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi pendidikan. Kata proses mengandung arti bahwa aktivitas itu dilakukan dengan memakan waktu dan setiap saat tentu terjadi perubahan. berapa lama waktu yang dipergunakan selama proses itu berlangsung akan berbeda antara orang atau organisasi satu dengan yang lain tergantung pada kepekaan orang atau organisasi terhadap inovasi. Demikian pula selama proses inovasi itu berlangsung akan selalu terjadi perubahan yang berkesinambungan sampai proses itu dinyatakan berakhir (Prof. Udin Syaefudin, 2011:45).
 
Proses dan tahapan perubahan itu ada kaitannya dengan masalah pengembangan (development), penyebaran (diffusion), diseminasi (dissemination), perencanaan (planning), adopsi (adoption), penerapan (implementation), dan evaluasi (evaluation) (Subandiyah 1992:77).
 

Beberapa Model Proses Inovasi Pendidikan

 
Menurut Sa’ud (2011:45) berdasarkan hasil identifikasi para ahli terkait proses inovasi yang dilakukan individu, maka dihasilkan beberapa tahapan proses inovasi seperti berikut:
 
1. Beberapa model proses inovasi yang berorientasi pada individual, yaitu: 

a. Lavidge dan Steiner (1961)
  • Menyadari
  • Mengetahui
  • Menyukai
  • Memilih
  • Mempercayai
  • Membeli
 
b. Colley (1961)
  • Belum menyadari
  • Menyadari
  • Memahami
  • Mempercayai
  • Mengambil tindakan
 
c. Rogers (1962)
  • Menyadari
  • Menaruh perhatian
  • Menilai
  • Mencoba
  • Menerima (adoption)
 
d. Robertson (1971)
  • Persepsi tentang masalah
  • Menyadari
  • Memahami
  • Menyikapi
  • Mengesahkan
  • Mencoba
  • Menerima
  • Disonansi
 
2. Beberapa Model Proses Inovasi Yang Berorientasi pada Organisasi, antara lain:
 
a. Milo (1971):
  • Konseptualisasi
  • Tentatif adopsi
  • Penerimaan Sumber
  • Implementasi
  • Institusionalisasi
 
b. Shepard (1967):
  • Penemuan ide
  • Adopsi
  • Implementasi
 
c. Hage & Aiken (1970):
  • Evaluasi
  • Inisiasi
  • Implementasi
  • Routinisasi
 
d. Wilson (1966):
  • Konsepsi perubahan
  • Pengusulan perubahan
  • Adopsi dan Implementasi
 
e. Rogers (1983):
  • Agenda setting
  • Penyesuaian (matching)
  • Re-definisi/Re-strukturisasi
  • Klarifikasi
  • Rutinisasi
 
f. Zaltman, Duncan & Holbek (1973): 

1) Tahap Permulaan (Inisiasi)
  • Langkah pengetahuan dan kesadaran
  • Langkah pembentukan sikap terhadap inovasi
 
2) Tahap Implementasi
  • Langkah awal implementasi
  • Langkah kelanjutan pembinaan
 
Berikut ini diberikan uraian secara singkat proses inovasi dalam organisasi menurut Zaltman, Duncan, dan Holbek (1973). Zaltman dan kawan-kawan membagi proses inovasi dalam organisasi menjadi dua tahap yaitu tahap permulaan (initiation stage) dan tahap implementasi (implementation stage). Tiap tahap dibagi lagi menjadi beberapa langkah (sub stage).

1. Tahap Permulaan (Intiation Stage)
 
a. Langkah pengetahuan dan kesadaran
Inovasi dipandang suatu ide, kegiatan, atau material yang diamati baru oleh unit adopsi (penerima inovasi), maka tahu adanya inovasi menjadi masalah yang pokok. Sebelum inovasi dapat diterima calon harus sudah menyadari bahwa ada inovasi, dan dengan demikian ada kesempatan untuk meggunakan inovasi dalam organisasi. 

Jika kita lihat dari kaitannya dengan organisasi, maka adanya kesenjangan penampilan (performance gaps) mendorong untuk mencari cara-cara baru atau inovasi. Tetapi juga dapat terjadi sebaliknya karena sadar akan adanya inovasi, maka pimpinan organisasi merasa bahwa dalam organisasinya ada sesuatu yang ketinggalan. Kemudian merubah hasil yang telah diharapkan, maka terjadi sejenjangan penampilan. 

b. Langkah pembentukan sikap terhadap inovasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap terhadap inovasi memegang peranan yang penting untuk menimbulkan motivasi untuk ingin berubah atau mau menerima inovasi. Ada dua hal dari dimensi sikap yang dapat ditunjukkan anggota organisasi terhadap adanya inovasi, yaitu: 

1) Sikap terbuka terhadap inovasi, yang ditandai dngan adanaya:
  • Kemauan anggota organisasi untuk mempertimbangkan inovasi.
  • Mempertanyakn inovasi (skeptic)
  • Merasa bahwa inovasi akan dapat meningkatkan kemampuan organisasi dalam menjalankan fungsinya.
2) Memiliki persepsi tentang potensi inovasi yang ditandai dengan adanya pengamatan yang menunjukkan:
  • Bahwa ada kemampuan bagi organisasi ntuk menggunakan inovasi.
  • Organisasi telah pernah mengalami keberhasilan pada masa lalu dengan menggunakan inovasi.
  • Adanya komitmen atau kemauan untuk bekerja dengan menggunakan inovasi serta siap untuk menghadapi kemungkinan timbulnya masalah dalam penerapan inovasi.
Ketika suatu organisasi menghendaki adanya inovasi, maka tidak menutup kemugkinan adanya perubahan dari sikap para anggota organisasi terhadap proses inovasi tersebut. Terjadilah yang dinamakan disonansi inovasi. 

Menurut Sa’ud (2011:51) Ada dua macam disonansi yaitu penerimaan disonan dan penolakan disonan. Penerima disonan terjadi jika anggota tidak menyukai inovasi, tetapi organisasi mengharapkan menerima inovasi. Sedangkan penolakan disonan terjadi jika anggota menyenangi inovasi tetapi organisasi menolak inovasi. 

Menurut Rogers Shoemaker (1971), lama-lama disonan dapat terkurangi dengan dua cara yaitu:
  • Anggota organisasi merubah sikapnya menyesuaikan dengan kemauan organisasi.
  • Tidak melanjutkan menerima inovasi, menyalahgunakan inovasi atau menerapkan inovasi dengan penyimpanagan, disesuaikan dengan kemauan anggota organisasi.
Mohr (dikutip oleh Zaltman, 1973), mengemukakan bahwa berdasarkan hasil penelitiannya di bidang kesehatan, menunjukn bahwa kemauan untuk menerima inovasi kan mengarah pada penerapan inovasi jika disertai adanya motivasi yang tinggi untuk mau berbuat serta tersedia bahan atau sumber yang diperlukan. Jika persediaan sumber bahan yang diperlukan (resources) tinggi, maka dampak terjadap motivasi untuk menerapkan inovasi dapat 4 ½ kali dari pada jika persediaan sumber bahan rendah. Jadi untuk melancarkan proses inovasi, perlu mempertimbangkan berbagai variable yang dapat meningkatkan motivasi serta tersedianya sumber bahan pelaksanaan. 

c. Langkah pengambilan keputusan
Pada langkah langkah pengambilan keputusan setiap informasi tentang potensi inovasi dievaluasi. Para pengambil keputusan dalam organisasi dapat mengemukakan pendapatnya, meskipun pada akhirnya pendapat tersebut dapat diterima atau pun tidak untuk diterapkan dalam organisasi tersebut. Pada saat pengambilan keputusan peran komunikasi sangat penting untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang inovasi. Sehingga keputusan yang diambil tepat dan tidak terjadi salah pilih yang dapat mengakibatkan kerugian bagi organisasi. 

2. Tahap Penerapan (Implementasi)
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan dalam menggunakan atau menerapkan inovasi. Dalam penerapan inovasi ada dua langkah yang dilakukan yaitu langkah awal permulaan Implementasi dan langkah kelanjutan pembinaan penerapan inovasi. 

a. Langkah awal (permulaan) Implementasi
Pada langkah awal implementasi organisasi mencoba menerapkan sebagian inovasi.
Misalnya menurut Sa’ud (2011: 52) Dekan memutuskan bahwa semua dosen harus membuat persiapan mengajar dengan model satuan Acara perkuliahan, maka pada awal penerapannya setiap dosen diwajibkan membuat untuk satu mata kuliah dulu, sebelum nanti akan berlaku untuk semua mata kuliah. 

Contoh lain dari langkah awal implementasi ini yaitu Dosen diminta untuk menggunakan transparansi dalam setiap kuliah yang diberikannya. Namun pada awal pelaksanaannya dosen tersebut baru menerapkan pada satu mata kuliah saja, yang selanjutnya akan diterapkan untuk setiap mata kuliah yang diberikan. 

b. Langkah kelanjutan pembinaan penerapan inovasi
Menurut Sa’ud (2011: 52) Jika pada penerapan awal telah berhasil, para anggota telah mengetahui dan memahami inovasi, serta memperoleh pengalaman dalam penerapannya maka tinggal melanjutkan dan menjaga kelangsungannya.Menurut Tahap-tahap inovasi ini dapat diterapkan di Sekolah Dasar (SD), misalnya pada kurikulum SD. Saat ini beberapa sekolah telah menerapkan kurikulum terpadu (integrated curicculum). Kurikulum ini pada setiap kegiatan belajar dapat mencakup beberapa mata pelajaran yang dipadukan. 

Pada awalnya inovasi ini dari seseorang dalam organisasi pada Sekolah Dasar, dimana ia telah memiliki pengetahuan tentang adanya kurikulum terpadu yang merupakan suatu inovasi. Dengan menyadari bahwa ada inovasi maka akan ada kesempatan untuk menggunakan inovasi dalam sekolahnya. Dalam hal ini pengguna melihat kondisi sekolah yang ternyata adanya kurikulum yang padat dan waktu yang tersedia relatif singkat untuk dapat menyelesaikan keseluruhan materi pelajaran, dibandingkan dengan kurikulum terpadu. Adanya kesenjangan tersebut membentuk sikap ingin berubah dan menerima inovasi. Kemudian mereka melakukan evaluasi sebelum mengambil keputusan, lalu mencoba menerapkan pada beberapa mata pelajaran di beberapa kelas yang selanjutnya akan diterapkan di seluruh kelas. 

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Proses Inovasi Pendidikan

 
Menurut Sa’ud (2011:54) motivasi yang mendorong perlunya diadakan inovasi pendidikan bersumber pada:
  1. Kemauan sekolah (lembaga pendidikan) untuk mengadakan respon terhadap tantangan kebutuhan masyarakat.
  2. Adanya usaha untuk menggunakan sekolah (lembaga pendidikan) untuk memecahkan masalah yang dihadapi masyarakat.
 
Hal yang sangat berpengaruh terhadap kegiatan di sekolah yaitu:
  1. Kegiatan belajar mengajar.
  2. Faktor internal dan eksternal.
  3. Sistem pendidikan (pengelolaan dan pengawasan).

 

1. Faktor Kegiatan Belajar Mengajar

 
Dalam pelaksanaan tugas pengelolaan kegiatan belajar mengajar terdapat berbagai faktor yang menyebabkan orang memandang bahwa pengelolaan kegiatan belajar mengajar kurang profesional, kurang efektif, dan kurang perhatian. Berikut beberapa alasannya menurut Sa’ud (2011:54):
  • Keberhasilan seorang guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar sangat ditentukan oleh hubungan interpersonal antar guru dengan siswa.
  • Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan kegiatan yang terisolasi.
  • Sangat minimal bantuan dari teman sejawat untuk memberikan saran atau kritik untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya.
  • Belum ada kriteria yang baku tentang bagaimana mengelola belajar mengajar yang efektif.
  • Dalam melaksanakan tugas mengelola kegiatan belajar mengajar, guru menghadapi sejumlah siswa yang berbeda.
  • Berdasarkan data perbedaan siswa akan lebih tepat jika pengelolaan kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan cara yang fleksibel tetapi kenyataannya guru dituntut untuk mencapai perubahan tingkah laku yang sama sesuai dengan ketentuan yang telah dirumuskan.
  • Tanpa adanya keseimbangan antara kemampuan dan wewenangnya mengatur beban tugas yang harus dilakukan serta tanpa bantuan dari lembaga tanpa adanya insentif yang menunjang kegiatannya.
  • Guru dalam melaksanakan tugas mengelola kegiatan belajar mengajar mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan karena adanya berbagai macam tuntutan.
 
Dari data tersebut menunjukkan bagaimana uniknya kegiatan belajar mengajar, yang memungkinkan timbulnya peluang untuk munculnya pendapat bahwa profesional guru diragukan ada yang mengatakan bahwa jabatan guru itu “semi profesional”, karena jika profesional yang penuh tentu akan memberi peluang pada anggotanya untuk:
  1. Menguasai kemampuan profesional yang ditunjukan dalam penampilan,
  2. Memasuki anggota profesi dan penilaian terhadap profesinya, diawasi oleh kelompok profesi,
 
Faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pelaksanaan system pendidikan dan inovasi pendidikan diantaranya:
  1. Para ahli pendidik (profesi pendidikan) seperti guru, administrator pendidikan, dan konselor.
  2. Para ahli di luar organisasi sekolah tetapi ikut terlibat dalam kegiatan sekolah seperti para pengawas, inspektur, penilik sekolah, konsultan, dan mungkin juga pengusaha yang membantu pengadaan fasilitas sekolah.
  3. Para panatar guru, staf pengembangan dan penelitian pendidikan, para guru besar, dosen, dan organisasi persatuan guru.
 
Faktor di atas sulit dibedakan termasuk faktor internal atau eksternal. Namun yang jelas termasuk faktor internal ialah siswa dan factor eksternalnya ialah orang tua siswa. Ada yang mengatakan bahwa jabatan guru itu “semi profesional” karena jika profesional yang penuh tentu akan memberi peluang pada anggotanya untuk:
  1. Menguasai kemampuan profesional yang dituunjukkan dalam penampilan.
  2. Memasuki anggota profesi dan penilaian terhadap penampilan profesinya diawasi oleh penampilan profesi.
  3. Ketentuan untuk berbuat profesional ditentukan bersama antar sesama anggota profesi. (Zaltman, Florio, Siloski, 1977).

 

2. Sistem Pendidikan (Pengelolaan dan Pengawasan)

 
Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah diatur dengan aturan yang dibuat oleh pemerintah. Penanggung jawab sistem pendidikan di Indonesia adalah Departemen Pendidikan Nasional yang mengatur seluruh sistem berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diberlakukan. 

Dalam kaitan dengan adanya berbagai macam aturan dari pemerintah tersebut maka timbul permasalahan sejauh mana batas kewenangan guru untuk mengambil kebijakan dalam melakukan tugasnya dalam rangka menyesuaikan dengan kondisi dan situasi lingkungan setempat. Demikian pula sejauh mana kesempatan yang diberikan kepada guru untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya guna menghadapi tantangan kemajuan zaman. Dampak dari keterbatasan kesempatan meningkatkan kemampuan professional serta keterbatasan kewenangan mengambil kebijakan dalam melaksanakan tugas bagi guru, dapat menyebabkan timbulnya siklus otoritas yang negative.
 
Siklus otoritas yang negative bagi guru yang dikemukakan oleh Florio (1973) yang dikutip oleh Zaltman (1977) adalah guru memiliki keterbatasan kewenangan dan kemampuan profesional, menyebabkan tidak mampu untuk mengambil kebijakan dalam melaksanakan tugasnya utnuk menghadapi tantangan kemajuan zaman. Rasa ketidakmampuan menimbulkan frustasi dan bersikap apatis terhadap tugas-tugas yang dibebankan kepadanya. Sikap apatis dan frustasi mengurangi rasa tanggung jawab dan rasa ikut terlibat (komitmen) dalam melaksanakan tugas.
 
Dampak dari sikap apatis dalam pelaksanaan tugas, menyebabkan dampak dari luar sebagai guru yang tidak profesional. Dengan adanya tanda-tanda bahwa guru kurang mampu melaksanakan tugas maka mengurangi kepercayaan atasan terhadap guru yang menyebabkan timbulnya kecurigaan atau ketidakjelasan kewenangan dan kemampuan yang dimiliki oleh seorang guru, maka dibatasi pemberian wewenang dan kesempatan mengembangkan kemampuannya.

Penutup

 
Proses inovasi pendidikan adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan inovasi pendidikan. 

Ada beberapa model proses inovasi pendidikan, Menurut Sa’ud (2011:45) berdasarkan hasil identifikasi para ahli terkait proses inovasi yang dilakukan individu, maka dihasilkan beberapa tahapan proses inovasi seperti model proses inovasi yang berorientasi pada individual dan model proses inovasi yang berorientasi pada organisasi. Proses inovasi dalam organisasi menjadi dua tahap yaitu tahap permulaan (initiation stage) dan tahap implementasi (implementation stage). Tiap tahap dibagi lagi menjadi beberapa langkah (sub stage).
 
Tahap Permulaan (Intiation Stage) diantaranya langkah pengetahuan dan kesadaran, langkah pembentukan sikap terhadp inovasi, langkah pengambilan keputusan. Tahap penerapan (implementasi) diantaranya langkah awal (permulaan) Implementasi dan langkah kelanjutan pembinaan penerapan inovasi.
 
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses inovasi pendidikan diantaranya faktor kegiatan belajar mengajar dan sistem pendidikan (pengelolaan dan pengawasan).
 
Semoga dengan memahami model proses inovasi kita dapat memahami model proses inovasi pendidikan serta dapat mengimplementasikannya ke dalam dunia pendidikan sesuai dengan tuntutan zaman.

Referensi:
  • Adikasimbar. (2010). Model Inovasi Pendidikan. [online]. 
  • Dheo. (2008). Inovasi Pendidikan.[online].
  • Sa’ud, Udin S. (2011). Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
  • Sa’ud, Udin S dan Ayi Suherman. (2006). Inovasi Pendidikan. Bandung: UPI Press.
  • Suharsaputra, Uhar. Inovasi Pendidikan. [online]. 
  • Universitas Terbuka. Model Proses Inovasi. [online].