Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Sabtu, 09 Oktober 2021, 22:15 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:29:09Z
ArtikelModel PembelajaranPendidikan

Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)

Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT)


Model Pembelajaran NHT (Numbered Head Together)

Metode kerja kelompok teknik kepala bernomoratauNHT (Numbered Heads Together)adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.Dalam Lie (2008, h. 59) dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor merupakan salah satu dari sekian banyak tipe pembelajaran kooperatif, yang didefinisikan sebagai berikut:

Pembelajaran kooperatif tipe kepala bernomor merupakan pembelajaran yang dilaksanakan secara kelompok, sehingga siswa diberikan kesempatan untuk saling membagikan ide –ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat untuk menyelesaikan proses pembelajaran. Setelah kelompok terbentuk, tiap –tiap orang dalam kelompok diberi nomor berdasarkan jumlah anggota kelompok. Setelah itu guru memberikan tugas dan masing–masing kelompok mengerjakannya. Kelompok memutuskan jawaban yang dianggap paling benar dan memastikan setiap anggota mengetahui jawaban ini. Setelah itu guru memanggil salah satu nomor. Siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.

Kelompok yang dimaksud disini merupakan kelompok belajar yang dibentuk secara heterogen berdasarkan prestasi belajar siswa, dengan jumlah anggota siswa yang terdiri dari 4 sampai 6 siswa. Dalam hal ini guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang harus mengarahkan, membimbing dan memotivasi pelaksanaan diskusi antar sesama siswa supaya belajar lancar dan tujuannya dapat tercapai.Metode kerja kelompok teknik kepala bernomoratau NHT (Numbered Heads Together)merupakan pendekatan strukturalpembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan oleh Spencer Kagen, dkk (Ibrahim, 2000:25). Meskipun memiliki banyak persamaan dengan pendekatan yang lain, namun pendekatan ini memberi penekanan pada penggunaan struktur tertentu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa.


Tujuan Model Pembelajaran NHT


Ibrahim mengemukakan tiga tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran kooperatif dengan tipe NHT yaitu :

  1. Hasil belajar akademik stuktural bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik
  2. Pengakuan adanya keragaman bertujuan agar siswa dapat menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai latar belakang.
  3. Pengembangan keterampilan sosial bertujuan untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.Numbered Heads Togetheradalah suatu model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas.

 

Sintaks Model Pembelajaran NHT



Langkah-langkah Model Pembelajaran NHT

Adapun langkah dalam Pembelajaran Number Head Together yaitu penomoran, mengajukan pertanyaan, berfikir bersama, dan menjawab.


Menurut Ibrahim dengan tiga langkah yaitu :

  1. Pembentukan kelompok
  2. Diskusi masalah
  3. Tukar jawaban antar kelompok.


Langkah-langkah tersebut kemudian dikembangkan menjadi enam langkah. Enam langkah tersebut adalah sebagai berikut :

1) Persiapan.
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Skenario Pembelajaran (SP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.

2) Penomoran.
Sebelum pemberian nomor, sebelumnya guru menjelaskan materi pembelajaran secara garis besar terlebih dahulu lalu guru membagi kelompok 3 - 5 orang yang setiap kelompoknya beranggotakan siwa yang kemampuannya beragam dan rata, setelah itu baru setiap anggota kelompok diberi nomor.

3) Mengajukan pertanyaan.
Pada langkah ini guru menjelaskan kembali materi menggunakan LKDP maupun handout (materi yang dibuat sendiri oleh guru), setelah itu guru memberikan LKK atau lembar kerja kelompok kepada masing-masing kelompok.

4) Berfikir bersama.
Setelah diberi LKK masing-masing kelompok mendiskusikan jawaban yang benar lalu memastikan semua anggotanya paham dan mengerti dengan jawaban tersebut.

5) Menjawab.
Setelah semua kelompok berdiskusi guru memanggil salah satu nomor dan yang memakai nomor yang disebutkan guru di masing masing kelompok akan menjelaskan jawaban hasil diskusi kelompoknya tadi, lalu guru memanggil nomor yang lain hingga selesai. Untuk memastikan jawaban yang benar guru akan menjelaskan jawaban yang benar dan juga guru menjelaskan penjelasan yang kurang atau belum tersampaikan, lalu disimpulkan.

Kelebihan Model Pembelajaran NHT

Ada beberapa kelebihan pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT terhadap siswa yang hasil belajar rendah yang dikemukakan oleh Linda Lundgren dalam Ibrahimantara lain adalah :

  1. Siswa lebih aktif, kreatif terhadap proses belajarnya.
  2. Melibatkan semua siswa sehingga tanggung jawab individu dalam kelompok meningkat.
  3. Siswa siap semua untuk menjawab pertanyaan dari guru sehingga setiap siswa berusaha memperdalam dan memahami materi.
  4. Siswa pandai dapat menjelaskan/ mengajari siswa yang kurang pandai.
  5. Penerimaan terhadap individu menjadi lebih besar.
  6. Meminimalisir kegaduhan dikelas.
  7. Mengembangkan sikap kepemimpinan siswa
  8. Meningkatkan rasa percaya diri siswa.
  9. Konflik antara pribadi berkurang.
  10. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan dan toleransi, memberi kesempatan kepada siswa untuk membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang palin tepat.
  11. Hasil belajar lebih tinggi.


Kekurangan Model Pembelajaran NHT

Adapun beberapa kekurangan pada model pembelajaran kooperatif tipe NHT antara lain :

  1. Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.
  2. Kemungkinan nomor yang sama dapat terpanggil kembali.
  3. Memerlukan kekreatifan guru sehingga membutuhkan guru yang mampuberkomunikasi dengan baik.
  4. Siswa yang pandai akancenderung mendominasi sehingga dapat menimbulkansikap minder dan pasif dari siswa yang lemah.
  5. Waktu yang dibutuhkan banyak.
  6. Pengelompokkan siswa memerlukan pengaturan tempat duduk yangberbeda-beda serta membutuhkan waktu khusus.