Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Minggu, 10 Oktober 2021, 22:48 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:43:11Z
ArtikelModel PembelajaranPendidikan

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

KBM(Kegiatan Belajar mengajar) merupakan suatu kegiatan yang bernilai edukatif antara guru dengan anak didik, hal ini karena KBM yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dirumuskan. Guru merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis guna kepentingan pengajaran, untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran secara aktif peserta didik dalam megembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Perubahan perilaku dalam belajar mencakup seluruh aspek pribadi peserta didik, yaitu aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Akan tetapi, kenyataannya kita menyadari selama ini tidak mudah bagi guru menjadikan peserta didik aktif dalam mengembangkan potensi diri peserta didik.Salah satu penyebabnya adalah kemampuan siswa untuk dapat menyelesaikan masalah kurang diperhatikan oleh guru.Akibatnya, manakala siswa menghadapi masalah dianggap sepele.

Untuk itu, Salah satu cara mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan  SPBM dimana Pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) adalah suatu pendekatan untuk membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah.

 

Pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah

 

Menurut Muslimin I dalam Boud dan Felleti (2000:7), Pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) adalah suatu pendekatan untuk membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan orang dewasa yang otentik serta menjadi pelajar mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang mandiri.

Menurut Jodion Siburian, dkk dalam Utami (2011), Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran artinya dihadapkan pada suatu masalah, yang kemudian dengan melalui pemecahan masalah, melalui masalah tersebut siswa belajar keterampil-keterampilan yang lebih mendasar.

Menurut Duch (1994) Pembelajaran Berbasis Masalah adalah metode instruksional yang menantang peserta didik agar belajar untuk belajar, bekerja sama dalam kelompok untuk mencari solusi bagi masalah yang nyata. Masalah ini digunakan untuk mengaitkan rasa keingintahuan serta memiliki kemampuan analisis peserta didik dan inisiatif atas materi pelajaran.PBM mempersiapkan peserta didik untuk berpikir kritis dan analitis, dan untuk mencari serta menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai.

Berdasarkan beberapa pendapat ahli, maka dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah(Problem Based Learning) adalah model pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah kepada peserta didik dimana masalah tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari peserta didik. Selanjutnya peserta didik menyeleseikan masalah tersebut untuk menemukan pengetahuan baru.Secara garis besar PBL terdiri dari kegiatan menyajikan kepada peserta didik suatu situasi masalah yang autentik dan bermakna serta memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.

Pada aspek filosofi, PBL dipusatkan pada siswa yang dihadapkan pada siswa yang dihadapkan pada suatu masalah. Sementara pada subject based learning guru menyampaikan pengetahuannya kepada siswa sebelum menggunakan masalah untuk memberi ilustrasi pengetahuan tadi. PBL bertujuan agas siswa mampu memperoleh dan membentuk pengetahuannya secara efisien, kontekstual, dan terintegrasi.Model pembelajaran pokok dalam PBL berupa belajar dalam kelompok kecil dengan sistem tutorial.

Strategi pembelajaran dengan pemecahan masalah dapat diterapkan :

  1. Mana kala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
  2. Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa, yaitu keterampilan menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru, mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgment secara objektif.
  3. Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa.
  4. Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
  5. Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan).
  6. Karateristikdan Prinsip dalam Metode Pembelajaran Berbasis Masalah


Ciri khusus pembelajaran berdasarkan masalah menurut Arends model PBL memiliki karakteristik sebagai barikut ini,

  1. Pengajuan pertanyaan atau masalah

Mengajukan situasi kehiduupan nyata autentik, emnghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi untuk situasi tersebut.

  1. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin

Meskipun pembelajara      berdasarkan masalah mungkin berpusat pada mata pelajaran IPA atau matematika, masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar -benar nyata agar dalam pemecahannya.

  1. Penyelidikan autentik

Mengharuskan siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyeselesaian nyata terhadap masalah nyata, mereka harus menganalisis dan menidentifikasi masalah, mengembangkan hipotesis, dan membuat ramalan.

  1. Menghasilkan produk dan memamerkannya

Menuntuk siswa untuk menghasilkan produk tententu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan.

  1. Kolaborasi

Dicirikan oleh siswa yang bekerja sama satu dengan yang lainnya, paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil. Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan ketrampilan sosial dan ketrampilan berpikir. 


Berdasarkan uraian tersebut tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah (dapat dimunculkan oleh siswa atau guru), kemudian siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar.

Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang mandiri.

 

Prinsip-Prinsip dalam Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah

 

Pembelajaran berbasis masalah secara khusus melibatkan pebelajar bekerja pada masalah dalam kelompok kecil yang terdiri dari lima orang dengan bantuan asisten sebagai tutor. Masalah disiapkan sebagai konteks pembelajaran baru.Analisis dan penyelesaian terhadap masalah itu menghasilkan perolehan pengetahuan dan keterampilan pemecahan masalah.Permasalahan dihadapkan sebelum semua pengetahuan relevan diperoleh dan tidak hanya setelah membaca teks atau mendengar ceramah tentang materi subjek yang melatar belakangi masalah tersebut.Hal inilah yang membedakan antara PBL dan metode yang berorientasi masalah lainnya.

Tutor berfungsi sebagai pelatih kelompok yang menyediakan bantuan agar interaksi pebelajar menjadi produktif dan membantu pebelajar mengidentifikasi pengetahuan yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah. Hasil dari proses pemecahan masalah itu adalah, pebelajar membangun pertanyaan-pertanyaan (isu pembelajaran) tentang jenis pengatahuan apa yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah? Setelah itu, pebelajar melakukan penelitian pada isu-isu pembelajaran yang telah diidentifikasi dengan menggunakan berbagai sumber.Untuk itu pebelajar disediakan waktu yang cukup untuk belajar mandiri. Proses PBL akan menjadi lengkap bila pebelajar melaporkan hasil penelitiannnya (apa yang dipelajari) pada pertemuan berikutnya. Tujuan pertama dari paparan ini adalah untuk menunjukkan hubungan antara pengetahuan baru yang diperoleh dengan masalah yang ada ditangan pebelajar.

Fokus yang kedua adalah untuk bergerak pada level pemahaman yang lebih umum, membuat kemungkinan transfers pengetahuan baru. Setelah melengkapi siklus pemecahan masalah ini, pebelajar akan memulai menganalisis masalah baru, kemudian diikuti lagi oleh prosedur: analisis- penelitian- laporan.

  1. Tahapan- tahapan SPBM

Banyak ahli yang menjelaskan bentuk penerapan SPBM. John Dewey seorang 6 langkah SPBM yang kemudian dia namakan metode pemecahan masalah (problem solving), yaitu :

  1. Merumuskan masalah yaitu langkah siswa menentukan masalah yang akan dipecahkan.
  2. Menganalisis masalah, yaitu langkah siswa meninjau masalah secar kritis  dari berbagai sudut pandang.
  3. Merumuskan hipotesis yaitu langkah siswa merumuskan berbagai kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.
  4. Mengumpulkan data, yaitu langkah siswa mencari dan menggambarkan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.
  5. Pengujian hipotesis, yaitu langkah siswa mengambil atau merumuskan kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan hipotesis yang diajukan.
  6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah yang dapat dilakukan sesuia rumusan hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.

Sesuai dengan tujuan SPBM adalah untuk menumbuhkan sikap ilmiah, dari beberapa bentuk SPBM yang dikemukakan para ahli, maka secara umum SPBM bisa dilakukan dengan langkah-langkah :

  1. Menyadari Masalah

Implemanatsi SPBM adalah harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus di pecakan.Pada tahapan ini guru membimbing siswa pada kesadaran adanya kesenjanagn atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial.Biasanya melalui pertanyaan-pertanyaan.

Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13), pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut : Autentik, Jelas, Mudah dipahami, Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan Bermanfaat.

  1. Merumuskan Masalah

Bahan pelajaran dalam bentuk topik yang dapat dicari dari kesenjangan, slanjutnya difokuskan pada masalah apa yang pantas untuk dikaji..Kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam langkah ini adalah siswa dapat menentukan prioritas masalah.Siswa dapat memanfaatkan pengetahuanya untuk mengkaji, memerinci, dan menganalisis masalah sehingga pada akhirnya muncul rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan dapat dipecahkan.

  1. Merumuskan Hipotesis

Sebagai proses berpikir ilmiah yang merupakan perpaduan dari berpikir deduktif dan induktif, maka merumuskan hipotesis merupakan langkah penting yang tidak boleh ditinggalkan.

  1. Mengumpulkan Data

Yaitu sebagai proses berpikir empiris, keberadaan data dalam proses berpikir ilmiah merupakan hal yang sangat penting. Sebab, menentukan cara menyelesaikan masalah sesuai dengan hipotesis yang diajukan harus diajukan sesuai dengan data yang ada. Kemampuan yang diharapkan pada tahap ini adalah kecakapan siswa untuk mengumpulkan dan memilah data, kemudian memetakan dan menyajikan dalam berbagai tampilan sehingga mudah dipahami.

  1. Menguji hipotesis

Berdasarkan data yang dikumplkan, akhirnya siswa mengumpulkan hipotesis mana yang diterima dan mana yang ditolak kemampuan yang diharapkan dari siswa dalam tahapan ini adalah kecakapan menelaah data dan sekaligus membahasnya untuk melihat hubungannya dengan masalah yang dikaji.Disamping itu, diharapkan siswa dapat mengambil keputusan dan mengambil kesimpulan.

  1. Menentukan pilihan penyelesaian

Merupakan akhir dari proses SPBM. Kemampuan diharapkan dari tahapan ini adalah kecakapan memilih alternatif penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat memperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi sehubungan dengan alternatif yang dipilihnya, termasuk memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada pilihannya.

Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah sebagai berikut: (Rusman, 2010).

 

Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)

 

Tahapan Tingkah Laku Guru
Tahap 1:

Orientasi siswa

kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan

pembelajaran, menjelaskan logistik

yang dibutuhkan, memotivasi siswa

agar terlibat pada pemecahan masalah

yang dipilihnya.

Tahap 2:

Mengorganisasi

siswa untuk belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan

dan mengorganisasikan tugas belajar

yang berhubungan dengan masalah

tersebut.

Tahap 3:

Membimbing

penyelidikan

individual dan

kelompok

Guru mendorong siswa untuk

mengumpulkan informasi yang sesuai,

melaksanakan eksperimen, untuk

mendapatkan penjelasan dan

pemecahan masalahnya

Tahap 4:

Mengembagkan dan

menyajikan hasil

karya

Guru membantu siswa merencanakan

dan menyiapkan karya yang sesuai

seperti laporan, video dan model serta

membantu mereka berbagi tugas

dengan temannya.

Tahap 5:

Menganalisis dan

mengevaluasi proses

pemecahan masalah

Guru membantu siswa melakukan

refleksi atau evaluasi terhadap

penyelidikan mereka dan proses-proses

yang mereka gunakan.

 

David johnson dan jihnson mengemukakan ada 5 langkah model pembelajaran berbasis masalah melalui kegiatan kelompok.

  1. Mengidentifikasi masalah, yaitu merumuskan masalah dari peristiwa tertentu yang mengandung isu koflik. Hingga siswa menjadi jelas masalah apa yang akan dikaji. Dala kegiatan ini guru bsa meminta pendapat dan penjelasan siswa tentang isu-isu hangat yang menarik untuk dipecahkan.
  2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadi nya masalah serta menganalisis berbagai faktor baik faktor yang bisa menghambat maupun faktor yang dapat mendukung dalam penyelesaian masalah. Kegiatan ini bisa dilakukan dalam diskusi kelompok kecil hingga pada akhirnya siswa dapat mengurutkan tindakan-tindakan prioritas yang dilakukan sesuai dengan janis penghambat yang diperkirakan.
  3. Merumuskan alternatif strategi, yaitu menguji setiap tindakan yang telah dirumuskan melalui diskusi kelas. Pada tahapan ini setiap siswa didorong untuk berpikir mengemukakan pendapat dan argumentasi tentang kemungkinan setiap tindakan yang dapat dilakukan.
  4. Menentukan dan menerapkan strategi piliham, yaitu pengambilan keputusan tentang strategi mana yang dapat dilakukan.
  5. Melakukan evaluasi, baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil. Evaluasi proses adalah evaluasi terhadap seluruh kegiatn pelaksanaan kegiatan sedangkan evaluasi hasil adalah evaluasi terhadap akibat dari penerapan strategi yang diterapkan.

 

Keunggulan dan Kelemahan SPBM

 

Keunggulan

Sebagai suatu strategi pembelajaran, SPBM memiliki beberapa keunggulan, di antaranya:

  • Pemecahan masalah ( problem solving) merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa bagaimana mentransfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan yata.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Disamping itu, pemecahan masalah itu juga dapat mendorong untuk melakukan evaluasi sendiri baik terhadap hasil maupun proses belajarnya.
  • Melalui pemecahan masalah (problem solving) bisa memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA, sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berpikir, dan sesuatu yang harus dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari buku-buku saja.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dianggap lebih menyenangkan dan diskusi siwa.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
  • Pemecahan masalah (problem solving) dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.

 

Kelemahan

Di samping keunggulan, SPBM juga memiliki kelemahan, diantaranya :

  • Manakala siswa tidak memiliki minat atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
  • Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
  • Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajara apa yang mereka ingin pelajari.

Penutup

Pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang mana siswa mengerjakan permasalahan yang otentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inkuiri dan ketrampilan berpikir tingkat lebih tinggi, mengembangkan kemandirian, dan percaya diri. Model pembelajaran berbasis masalah memiliki karakteristik pengajuan pertanyaan atau masalah, berfokus pada keterkaitan antar disipli, penyelidikan autentik, menghasilka produk dan memamerkannya dan kolaborasi. Pembelajaran berdasarkan masalah terdiri dari 5 langkah utama yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa.

Pemecahan masalah dalam pembelajaran berdasarkan masalah harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Proses pemecahan masalah dalam problem based learning mengikuti 7 langkah yaitu diantaranya (1)mengidentifikasi masalah dan klarifikasi kata-kata sulit yang ada didalam skenario, (2) menentukan masalah, (3) brainstorming, (4) menentukan tujuan pembeajaran yang akan dicapai, (5) memilih solusi yang paling tepat sebagai penyelesaian masalah, (6) belajar mandiri, (7) setiap anggota kelompok menjelaskan hasil belajar mandiri mereka dan saling berdikusi.

 

Referensi

  • Nur M. Wikandari Prima, Sugiarto,Teori Pembelajaran Kognitif,( Surabaya: IKIP Surabaya,1998).Hal.210.
  • Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar.Cet kedua (Jakarta: PT Reneka Cipta, 2002). Hal. 1-2.
  • Kokom Komalasari, Pembelajaran Kontekstual konsep dan aplikasi,cet-3,(Bandung : Revika Aditama, 2013), hal. 59.
  • Jamil Suprihatiningrum, Strategi Pembelajaran Teori dan Apikasi,(Jogyakarta: Ar Ruzz Media, 2014), cet. 2 hal.215-216.
  • Eveline Siregar dkk, Teori Belajar dan Pembalajaran,(Ghalia Indonesia: Bogor, 2010), hal. 120-121.
  • Jumanta Hamdayana, Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan Berkarakter,(Bogor: Ghalia Indonesia, 2014)hal.209.
  • Richard Arends, LEARNING TO TEACH(terjemah oleh Helly prajitno).edisi 7.(PUSTAKA PELAJAR : Yogyakarta, 2008).Hal.45.
  • Mohammad Jauhar, Implementasi PAIKEM, (Prestasi Pustakarya: Jakarta,2011),Hal. 88.
  • Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: Kencana, 2014), cet. 11, hal. 218.
  • Warsono, Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen,(Bandung; PT Remaja Rosdakarya. 2013) hal.147.