Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Minggu, 10 Oktober 2021, 23:11 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:44:00Z
ArtikelInovasi PendidikanPendidikan

Inovasi Pembelajaran Berbasis ICT (Teori dan Aplikasinya)

Inovasi Pembelajaran Berbasis ICT (Teori dan Aplikasinya)

Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum 2013, guru tidak perlu lagi menjadi “pengkhutbah” yang terus berceramah dan memberikan banyak teori kepada peserta didik. Sudah bukan zamannya lagi anak diperlakukan bagai “keranjang sampah” yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu. Peserta didik perlu diperlakukan secara utuh dan holistik sebagai manusia-manusia pembelajar yang akan menyerap pengalaman sebanyak-banyaknya melalui proses pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Oleh karena itu, kelas perlu didesain sebagai “masyarakat mini” yang mampu memberikan gambaran bagaimana peserta didik berinteraksi dengan sesamanya. Dengan kata lain, kelas harus mampu menjadi “magnet” yang mampu menyedot minat dan perhatian peserta didik untuk terus belajar, bukan seperti penjara yang mengurung kebebasan mereka untuk berpikir, berbicara, berpendapat, mengambil inisiatif, atau berinteraksi.
 
Tidak bisa pungkiri lagi bahwa guru memiliki peran yang amat vital dalam proses pembelajaran di kelas. Guru yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, mengevaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan melakukan tindak lanjut. Dalam konteks demikian, gurulah yang akan menjadi “aktor” penentu keberhasilan peserta didik dalam mengadopsi dan menumbuhkan nilai-nilai kehidupan hakiki.
 
Ketika sang guru masuk kelas dan menutup pintu, di situlah sang guru akan menjadi pusat perhatian peserta didiknya. Mulai model potongan rambut, busana yang dikenakan, hingga sepatu yang dipakai akan disoroti oleh murid-muridnya. Belum lagi bagaimana gaya bicara sang guru, caranya berjalan, atau kedisiplinannya dalam mengajar. Di mata peserta didik, guru seolah-olah diposisikan sebagai pribadi perfect yang nihil cacat dan cela. Harus diakui tugas guru memang berat. Mereka tidak hanya dituntut untuk melakukan aksi “lahiriah” dalam bentuk kegiatan mengajar, tetapi juga harus melakukan aksi “batiniah”, yakni mendidik; mewariskan, mengabadikan, dan menyemaikan nilai-nilai luhur hakiki kepada peserta didik. Ini jelas tugas dan amanat yang amat berat ketika nilai-nilai yang berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat sudah demikian jauh merasuk dalam dimensi peradaban yang chaos dan kacau.
 
Apabila proses pembelajaran berlangsung monoton dan seadanya ( guru cenderung bergaya indoktrinatif dan dogmatis seperti orang berkhotbah ), upaya penyemaian nilai-nilai luhur hakiki akan sulit berlangsung dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Apalagi, kalau peserta didik hanya diperlakukan sebagai objek yang pasif, tidak diajak untuk berdialog dan berinteraksi. Maka, kegagalan penyemaian nilai-nilai luhur kepada peserta didik hanya tinggal menunggu waktu.
 
Dalam konteks demikian, guru perlu mengambil langkah dan inisiatif untuk mendesain proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Guru memiliki kebebasan untuk melakukannya di kelas. Kurtilas sangat leluasa memberikan kesempatan kepada guru untuk menerapkan berbagai gaya dan kreativitasnya dalam kegiatan pembelajaran.
 
Melalui kegiatan pembelajaran yang inovatif, atmosfer kelas tidak akan terpaku dalam suasana yang kaku dan monoton. Para peserta didik perlu lebih banyak diajak untuk berdiskusi, berinteraksi, dan berdialog sehingga mereka mampu mengkonstruksi konsep dan kaidah-kaidah keilmuan sendiri, bukan dengan cara diceramahi. Para murid juga perlu dibiasakan untuk berbeda pendapat sehingga mereka menjadi sosok yang cerdas dan kritis. Tentu saja, secara demokratis, tanpa melupakan kaidah-kaidah keilmuan, sang guru perlu memberikan penguatan-penguatan sehingga tidak terjadi kesalahan konsep yang akan berbenturan dengan nilai-nilai kebenaran itu sendiri.
 
Melalui suasana pembelajaran yang kondusif dengan memberikan kesempatan kepada anak didik untuk bebas berpendapat dan bercurah pikir, guru akan lebih mudah dalam menanamkan nilai-nilai luhur hakiki. Dengan cara demikian, tugas guru sebagai pengajar dan sekaligus sebagai pendidik diharapkan bisa terimplementasikan dengan baik. Meskipun korupsi, manipulasi, dan berbagai jenis “penyakit sosial” menyebar di tengah-tengah kehidupan masyarakat, melalui proses rekonstruksi konsep yang dibangunnya, anak-anak bangsa negeri ini akan memiliki benteng moral yang tangguh dalam gendang nuraninya sehingga pantang untuk melakukan tindakan yang dapat merugikan bangsa dan negara.
 
Tidak seragamnya dan masih rendahnya mutu pendidikan di setiap jenjang sekolah. Salah satu indikatornya, misalnya tingkat kelulusan UAN masih rendah. Dari yang lulus, nilau UAN yang diperoleh siswa juga masih rendah.
 
Salah satu indikator penyebab rendahnya mutu pendidikan dinegara kita adalah, kurangnya tingkat pemanfaatan ICT di sekolah ( Digital Divide). Masih sedikit sekolah yang mempunyai sarana ICT (misalnya komputer dan internet), kalaupun ada penggunaanya kurang optimal.
 
Kendala pendidikan tersebut diantaranya disebabkan oleh faktor geografis (kondisi alam, penduduk yang sebagian besar tinggal di pedesaan, bahkan terpencil, sehingga sulit dijangkau transportasi dan komunikasi), dan faktor sosial ekonomi (rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak karena masalah kesejahteraan hidup), serta rendahnya mutu SDM.
 
Kendala tersebut dapat diatasi melalui penggunaan teknologi. Teknologi merupakan solusi tepat bagi masalah pendidikan Indonesia yang akan mengatasi kendala geografis, sosial ekonomi dan SDM.
 
Akselerasi pemerataan kesempatan belajar dan peningkatan mutu pendidikan yang sulit diatasi dengan cara-cara konvensional. Peningkatan kualitas SDM melalui pengembangan dan pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi.

Pengertian Inovasi

Ketika mendengar kata inovasi, yang muncul di benak kita barangkali sesuatu yang baru, unik dan menarik. Kebaruan, keunikan dan yang menarik itu pada akhirnya membawa kemanfaatan. Pendapat tersebut nampaknya tidak salah, dalam arti manusia sebagai makhluk sosial yang dinamis dan tak puas dengan apa yang sudah ada akan selalu mencoba, menggali dan menciptakan sesuatu yang “ baru “ atau “ lain “ dari biasanya. Begitu pula masalah inovasi yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran. Di mana proses pembelajaran melibatkan manusia (siswa dan guru) yang memiliki karakteristik khas yaitu keinginan untuk mengembangkan diri, maju dan berprestasi.
 
Secara epistemologi, inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaruan dan perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbarui dan mengubah. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju ke arah perbaikan; yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana. ( Fuad Ihsan, 2003 : 191 )
 
Menurut Suprayekti ( 2004 : 2 ), inovasi adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh manusia dan dirasakan sebagai hal yang baru oleh seseorang atau masyarakat, sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupannya.
 

Pengertian Pembelajaran

Menurut Hera Lestari Mikarsa ( 2007 : 7.3 ), ada dua istilah yang berkaitan erat dengan pembelajaran, yaitu pendidikan dan pelatihan. Pendidikan lebih menitik beratkan pada pembentukan dan pengembangan kepribadian, jadi mengandung pengertian yang lebih luas. Sedangkan pelatihan lebih menekankan pada pembentukan keterampilan. Pendidikan dilaksanakan dalam lingkungan sekolah, sedangkan pelatihan umumnya dilaksanakan dalam lingkungan industri. Namun demikian, pendidikan kepribadian saja kurang lengkap. Para siswa perlu juga memiliki keterampilan agar dapat bekerja, berproduksi, dan menghasilkan berbagai hal yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu, kedua istilah tersebut hendaknya tidak dipertentangkan melainkan perlu dipadukan dalam suatu sistem proses yang lazim disebut pengajaran.
 
Menurut Oemar Hamalik, 1999 ( dalam Hera Lestari Mikarsa, 2007 : 7.3 ) dalam pengajaran, perumusan tujuan merupakan hal yang utama dan setiap proses pengajaran senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itu, proses pengajaran harus direncanakan agar dapat dikontrol sejauh mana tingkat pencapaian tujuan yang telah ditetapkan tersebut. Itulah sebabnya, suatu sistem pengajaran selalu mengalami dan mengikuti tiga tahap, yakni :
  1. Tahap analisis untuk menentukan dan merumuskan tujuan,
  2. Tahap sintesis, yaitu tahap perencanaan proses yang akan ditempuh,
  3. Tahap evaluasi untuk menilai tahap pertama dan kedua.
 
Makna pembelajaran merupakan suatu sistem yang tersusun dari unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran. Manusia yang terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material yang meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape, serta material lainnya. (Oemar Hamalik, 1999, dalam Hera Lestari Mikarsa 2007 : 7.3 )
 
Rumusan makna pembelajaran tersebut mengandung isyarat bahwa proses pembelajaran tidak terbatas dilaksanakan dalam ruangan saja, melainkan dapat dilaksanakan disembarang tempat dengan cara membaca buku, informasi melalui film, surat kabar, televisi, internet tergantung kepada organisasi dan interaksi berbagai komponen yang saling berkaitan, untuk membelajarkan siswa.
Inovasi Pembelajaran
 
Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi batasan, inovasi sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan, metode atau alat (KBBI, 1990 : 330). Dari pengertian ini nampak bahwa inovasi itu identik dengan sesuatu yang baru, baik berupa alat, gagasan maupun metode.
 
Dari uraian di atas, maka inovasi pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu upaya baru dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Hasbullah (2001) berpendapat bahwa “baru” dalam inovasi itu merupakan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi.

Pengertian ICT

 
Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT), atau Information and Communication Technologies (ICT), adalah teknologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari satu perangkat ke lainnya.
 
Dengan demikian, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Teknologi komunikasi dan informasi mengandung pengertian luas yaitu segala perbuatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak).

Tujuan penggunaan pendidikan berbasis ICT

  1. Mengembangkan ICT network untuk umum dan universitas seperti riset dan pendidikan network di Indonesia
  2. Mempersiapkan suatu rancangan pengembangan sumber daya manusia dalam mengaplikasikan ICT
  3. Mengembangkan dan meningkatkan kurikulum berbasis ICT
  4. Menggunakan ICT sebagai suatu bagian dari kurikulum pembelajaran di sekolah, universitas, dan pusat-pusat pelatihan
  5. Mengadakan program yang berhubungan dengan pendidikan dengan mengikut sertakan sekolah-sekolah dalam pembelajaran seluas-luasnya
  6. Menfasilitasi penggunaan internet dengan efisien dalam proses pembelajaran

Aplikasi Pembelajaran Berbasis ICT

 
1. E-Learning
Meskipun paling sering dikaitkan dengan pendidikan tinggi dan pelatihan perusahaan, E-Learning meliputi pembelajaran pada semua tingkatan, baik formal dan non formal, yang menggunakan intranet (LAN) atau extranet (WAN), untuk seluruhnya atau sebagian, interaksi, fasilitasi (Allen, 2006). Beberapa pihak lain lebih memilih istilah Online Learning atau pembelajaran berbasis Web, yaitu himpunan bagian dari e-learning dan mengacu pada pembelajaran menggunakan browser-browser (seperti Internet Explorer, Mozilla Firefox, Opera, dan lainnya).
 
2. Blended Learning
Blended Learning adalah suatu model pembelajaran yang mencoba menggabungkan beberapa model pembelajaran yang telah ada. Seiring dengan perkembangan dalam teknologi informasi dan komunikasi, terutama dalam teknologi jaringan berupa internet, umumnya model-model pembelajaran yang digabungkan itu berupa model pembelajaran face to face (tatap muka), offline learning, dan online learning. Tujuan umum pembelajaran model blended ini untuk mencari kombinasi model-model pembelajaran yang efektif. Pada akhirnya model pembelajaran ini bertujuan untuk mencapai keefektifan pembelajaran.
 
3. Pembelajaran Jarak Jauh
Pembelajaran jarak jauh ( distance learning) adalah pembelajaran dengan menggunakan suatu media yang memungkinkan terjadi interaksi antara guru dan siswa. Dalam pembelajaran jarak jauh antara guru dan siswa tidak bertatap muka secara langsung, pembelajaran dimungkinkan antara guru dan siswa berbeda tempat bahkan bisa dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, sehingga memudahkan proses pembelajaran.

Suasana pendidikan seperti suasana dalam kelas sangat penting untuk diciptakan dalam suasana pendidikan jarak jauh. Sistem komunikasi pembelajaran harus baik agar fungsi pendidikan jarak jauh dapat dijalankan. Fungsi-fungsi tersebut adalah:
  • Penyajian informasi. Penyajian informasi tidak hanya dalam pembelajaran seperti yang disampaikan oleh guru, tetapi berpusat pada siswa. Contoh penyajian informasi diantaranya adalah presentasi dan demonstrasi oleh guru, presentasi oleh siswa, teks dan ilustrasi tercetak, audio, serta video.
  • Praktek dan feedback. Pembelajaran berlangsung dengan melibatkan partisispasi siswa secara aktif, seperti kegiatan tanya jawab, kegiatan diskusi, kegiatan kelompok, tutorial teman sejawat, proyek kelompok, dan ujian.
  • Akses sumber belajar. Sumber belajar lain dapat diakses oleh siswa dengan mudah, seperti bahan cetakan, bahan audiovisual, basis data, dan perpustakaan.

4. Belajar berbantuan komputer
Komputer digunakan diberbagai bidang, seperti kantor, sekolah dan rumah. Pada saat ini komputer merupakan alat komunikasi yang paling utama bagi miliaran orang. Perusahaan berhubungan dengan klien, pendidik dengan siswa, serta seseorang dengan teman dan anggota keluarga lainnya. Dengan menggunakan komputer, masyarakat mempunyai akses secara cepat terhadap informasi dari seluruh dunia. Melalui komputer, seseorang dapat bertemu dengan teman baru, berbelanja, mengambil kursus dan masih banyak fasilitas lainnya yang diperolehnya.
 
Komputer sebagai alat bantu pendidikan ( Computer Assisted Intruction) sudah cukup dikenal, terutama di negara maju. Beberapa istilah lainnya yang banyak digunakan adalah CAL ( Computer Aided Learning ), CBE ( Computer Based Instruction/Education ), dan CMI ( Computer Managed Instruction ). Dalam CBE komputer juga digunakan pada aplikasi-aplikasi bukan pengajaran untuk menunjang sistem pendidikan, seperti mengolah data, mencatat kehadiran, dan sebagainya.
 
Aplikasi bidang pembelajaran dengan komputer sebagai alat bantunya, diantaranya adalah:
  1. Drill and Practice (Latih dan Praktek), menggantikan pengajar untuk memberikan latihan kepada siswa.
  2. Tutorial (Penjelasan), sistem komputer digunakan untuk menyampaikan materi ajaran.
  3. Simulasi, digunakan untuk mengkaji permasalahan yang rumit dan banyak digunakan dibidang biologi, transportasi, ekonomi, dll.
  4. Game (Permainan), Game sangat digemari oleh anak-anak, dan dapat menambah pengetahuan
  5. Penggunaan komputer atau ICT dalam pendidikan boleh dibagikan menjadi tiga kategori utama yaitu pengurusan, pengajaran dan pembelajaran, dan kajian tindakan. Penggunaan komputer dalam pendidikan dibedakan kepada tiga kategori dalam pembelajaran yaitu kategori belajar dari komputer (latih tubi dan tutorial), kategori belajar tentang komputer (literasi komputer) dan kategori belajar dengan komputer yang berasakan perspektif konstruktivis.
  6. Pengajaran dan pembelajaran yang berpusat pada pelajar, komputer atau ICT digunakan untuk aktivitas pembelajaran yang bersifat pembinaan ilmu pengetahuan seperti mencari dan memproses informasi, menyelesaikan masalah dan menggunakan aplikasi multimedia dan authoring. Kemudian, penggunaan komputer oleh guru dalam melakukan kajian tindakan bagi aktivitas penyimpanan data dan penganalisisan data menggunakan alat statistik.
 

Model Penggunaan ICT dalam Pembelajaran

Pendidikan mempunyai dimensi yang luas, pendidikan merujuk pada dimensi program dan strategi dalam pembelajaran dalam rangka mengembangkan kemampuan belajar siswa . Terdapat beragam pandangan mengenai model pemanfaatan ICT (internet) dalam pendidikan, antara lain sebagai berikut:
Abdulhak (2005) mengklasifisikan pemanfaatan ICT ke dalam tiga jenis yaitu:
  1. ICT sebagai alat bantu pendiddikan, artinya media hanya sebagai pelengkap untuk memperjelas uraian-uraian materi yang disampaikan.
  2. ICT sebagai sumber, artinya ICT digunakakn sebagai sumber informasi dalam pembelajaran.
  3. ICT sebagai sistem pembelajaran, ICT dirancang sedemikian rupa sebagai suatu sistem pembelajaran yang terintregrasi.
 
Menurut Lowther dkk. (200:135) mengemukakan lima level dalam penggunaan ICT dalam pembelajaran sebagai berikut:
  • Level Deskripsi
  • Level 0
  • No Web Use Tidak menggunakan sama sekali ITC
 
Level 1 Informational Menyediakan informasi yang relatif stabil kepada siswa, isi informasi terdiri dari silabus, jadwal pelajaran, dan kontak informasi
 
Level 2 Supplemtal Menyediakan informasi isi mata pelajaran kepada siswa. Isinya meliputi catatan kulian atau sekolah
 
Level 3 Essensial Siswa tidak bisa menjadi anggota kelas yang aktif jika tidak mengakses pelajaran di web secara teratur.
 
Level 4 Communal Pada level ini ada pertemuan dan tatap muka online. Pelajaran disampaikan secara online atau di kelas
 
Level 5 Immerse Seluruh isi pelajaran dan interaksi belajar terjadi secara online.
Kemampuan yang Dituntut bagi Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis ICT
 
Semakin meluasnya kemungkinan dalam pendidikan dan pelatihan menuntut pengelola pendidikan untuk mampu mengintregrasikan teknologi dalam lingkungan belajar, mulai dari fase desain, pengembangan, penerapan dan pemeliharaan. Setidaknya ada tiga pihak yang dituntut kemampuannya yaitu:
1. Tuntutan
Kelembagaan
Jika lembaga pendidikan sekolah ingin suskes menyelenggarakan pendidikan, maka harus ada kebijakan memihak, kerja sama, dan komitmen antar unit kerja yang mungkin akan terlibat.
 
2. Kemampuan
Pengelola
Sedangkan tuntutan atau persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang pengelola program untuk mendorong sukses yaitu:
  • Mampu untuk meyakinkan atau menemukan nilai-nilai baik dalam penggunaan teknologi
  • Memahami secara mendalam mengenai pengaruh teknologi dalam pembelajaran skill
  • Mampu untuk menyesuaikan budaya dan sikap dalam penggunaan teknologi
  • Memahami dan menyadari adanya berbagai keterbatasan dalam teknologi
  • Mengetahui berbagai persyaratan dasar teknologi mampu untuk melakukan evaluasi.
 
Pendekatan instruksional yang bisa diterapkan untuk melaksanakan pendidikan berbasis ICT.
  • Pendekatan/approach Pedoman-pedoman/guidelines
  • Technologi classroom Kelas memiliki 3-6 buah komputer
  • Pelajaran berbasis masalah
  • Pelajaran melibatkan kolaborasi
  • Melakukan pergantian peran
  • Menggunakan komputer sebagai alat
  • Mengalami pemecahan masalah teknis.
  • Modelling Guru sebagai fasilitator
  • Peran siswa dalam berbagai aktifitas
  • Pemecahan masalah teknis.
  • Observing/ participating Observasi dilakukan dengan tidak mengancam kemampuan teknologi siswa.
  • Partisipasi dilakukan dalam suasana terbuka.
  • Learning technology skill Mengajarkan kemampuan teknologi terlebih dahulu, kemudian mengajarkan bagaimana mengintegrasikan teknologi ke dalam pengajaran.
  • Mengajarkan kemampuan teknologi sesuai kebutuhan kita
  • Reflektive practice Mendorong Pengembangan metakognitifongan secara kritis

Hubungan Guru dan Teknologi

 
Guru dan teknologi khususnya ICT mempunyai hubungan yang menarik. Perkembangan ICT yang mempengaruhi bidang pendidikan bukan hanya membawa berbagai kemudahan serta memberikan kemudahan-kemudahan kepada sorang guru namun dapat menimbulkan kesulitan pada aspek penggunaan dan pengintegrasian dalam pengajaran dan pembelajaran dipendidikan. Meski segala keperluan teknologi dan infrastruktur lain disediakan namun faktor guru masih belum mendapatkan perhatian sewajarnya. Ini bermakna bahwa pengetahuan dan kemahiran ICT serta sikap terhadap ITC yang dimiliki guru adalah penting.

Faktor Guru dalam Penggunaan Teknologi

Pendidikan pesat ICT dalam dunia pendidikan khususnya dalam proses pengajaran dan pembelajaran di sekolah telah meletakkan satu tantangan yang besar terhadap profesyen dan amalan perguruan. Pada tahun 1998 Laffey dan Musser, mendapati guru dalam melihat komputer sebagai suatu tekanan dan sukar menggunakan komputer dalam pembelajaran. Komputer dianggap tidak relevan dengan kerja-kerja tradisional sekolah. Guru masih beranggapan bahwa sekolah sebagai tempat yang masih menggunakan pendekatan tradisional dan komputer dianggap akan mengganggu hubungan pelajar dengan guru.
 
Berbagai kajian telah dilakukan untuk mengetahui pasti kemampuan guru dalam penggunaan komputer. Kajian-kajian yang berkaitan dengan hal ini pada tahun 1980-an telah memberi penekanan kepada aspek operasi komputer, komputer dalam masyarakat, aplikasi komputer dalam pendidikan, terminologi dan konsep komputer, pembelajaran dengan komputer serta perkakasan komputer. 
 

Manfaat ICT

 
1. Presenting Information
ICT memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk menyampaikan maklumat. Ensiklopedia yang jumlahnya beberapa jilid pun dapat disimpan di hardisk. Bahkan kini telah lahir google earth yang dapat menunjukan kepada kita seluruh kawasan dimuka bumi kita ini dari hasil foto udara yang sangat mengesankan. Dengan membuka www.google.com , data dan informasi akan dengan mudah kita peroleh.
 
2. Quick And Automatic Completion Of routine Tasks.
Tugas-tugas rutin dapat diselesaikan dengan menggunakan komputer dengan cepat dan automatik.
 
3. Assesing And Handling Information.
Dengan komputer yang dihubungkan dengan internet kita dapat dengan mudah memperoleh dan mengirimkan maklumat dengan mudah dan cepat. Melalui jaringan internet kita dapat memiliki website yang menjangkau ujung dunia manapun.
 
Dalam era teknologi dan informasi ini, kecanggihan teknologi untuk kepentingan pembelajaran sudah bukan merupakan hal yang baru lagi. Salah satu media pembelajaran baru yang ahir-ahir ini semakin menggeserkan peranan guru hidup adalah teknologi berbasis ict yang tersedia melalui perisian berbagai multimedia. Dengan teknologi ini, kita belajar apa saja, kapan saja dan dimana saja.
 

Alasan Perlunya Inovasi dalam Pembelajaran

 
Masalah pendidikan kita memang kompleks. Faktor geografis (kondisi alam, penduduk yang sebagian besar tinggal di pedesaan, bahkan terpencil, sehingga sulit dijangkau transportasi) merupakan contoh sebab terjadinya kesenjangan mutu pendidikan antara daerah perkotaan dengan pedesaan/terpencil. Masalah lain diantaranya adalah susahnya akses komunikasi dan informasi di daerah, rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak (karena masalah kesejahteraan hidup), guru yang kurang memadai, serta sarana dan prasarana sekolah yang sangat minim.
 
Masalah tersebut dapat terbantu teratasi melalui penggunaan teknologi, khususnya ICT. Sudah saatnya kita harus mulai menggunakan ICT untuk mempercepat pemerataan akses dan peningkatan mutu pendidikan. Dalam hal ini dituntut adanya political will dari pemerintah, sehingga bisa tercipta suasana yang kondusif. Melalui ICT, kita dapat melaksanakan pendidikan dengan materi/bahan ajar yang di samping memenuhi standar mutu pemerintah juga tersedia merata dan mudah diakses di seluruh wilayah Indonesia.
 
Di sisi lain, peserta didik harus diberikan fasilitas untuk kemudahan akses materi/bahan ajar, tanpa harus dibatasi oleh kendala ruang dan waktu, juga kendala sosial ekonomi. Di daerah terpencil yang tidak dapat menerima siaran radio dan televisi, misalnya, pemerintah dapat menyediakan secara cuma-cuma antena parabola untuk akses pendidikan melalui satelit, sehingga mereka dapat belajar melalui siaran radio, TV pendidikan, internet, dan dari modul dan kaset audio/video ( e-Learning). E-Learning perlu untuk digalakkan mengingat dari beberapa survey di internet menunjukkan bahwa e-Learning terbukti mampu meningkatkan mutu pendidikan dibanding cara-cara konvensional.
 
Semua itu harus dilakukan secara sinergi oleh beberapa pihak terkait. Pemerintah pusat sebagai motor penggerak, diharapkan akan mampu untuk melibatkan pihak swasta dan Pemerintah Daerah, untuk dapat terlaksananya pendidikan yang bermutu, tersebar merata ke seluruh wilayah Indonesia (mudah diperoleh) dan murah (terjangkau). Pendidikan yang maju dan tersebar merata serta mudah diakses akan mampu meningkatkan mutu SDM yang pada gilirannya akan mampu memajukan bangsa dan negara Indonesia sekaligus akan meningkatkan kemampuan kita untuk menang bersaing di era global sekarang ini.
 

Ict Sebagai Inovasi Dalam Pembelajaran

Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa inovasi pembelajaran adalah suatu upaya baru dalam pembelajaran yang dilakukan guna menunjang peningkatan mutu pendidikan. Berbagai inovasi yang ada dalam pembelajaran, seperti pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, alat peraga pembelajaran, metode pembelajaran, kurikulum, pengelolaan kelas, maupun pembelajaran yang berbasis teknologi atau yang dikenal dengan ICT.
 
Alasan ICT dikatakan sebagai salah satu bentuk inovasi pembelajaran karena adanya kemajuan dibidang teknologi informasi dan komunikasi yang selanjutnya merubah konsep pembelajaran dari konvesional (tradisonal) menjadi pembelajaran yang berbasis teknologi, informasi dan komunikasi. Penerapan teknologi informasi ini adalah sebagai sarana untuk mengoptimalkan belajar siswa dengan mengkonstruksi pengetahuan, informasi dan nilai-nilai yang dapat dimanfaatkan siswa dalam kehidupan nyata sesuai dengan perkembangan zaman.

Penutup

Inovasi pembelajaran merupakan sesuatu yang penting dan mesti dimiliki atau dilakukan oleh guru. Hal ini disebabkan karena pembelajaran akan lebih hidup dan bermakna. Berbagai inovasi tersebut diharapkan dapat memberikan motivasi kepada siswa agar lebih giat dan senang belajar.
 
Seperti yang telah dipaparkan, pada hakekatnya sifat inovasi itu amat relatif, dalam arti inovasi yang kita lakukan sebenarnya barangkali sudah tidak asing bagi orang lain. Tetapi sebagai seorang guru yang setiap hari berinteraksi dengan anak, maka tidaklah salah apabila terus-menerus melakkukan inovasi dalam pembelajaran.
 
Kemauan guru untuk mencoba menemukan, menggali dan mencari berbagai terobosan, pendekatan, metode dan strategi pembelajaran merupakan salah satu penunjang akan munculnya berbagai inovasi-inovasi baru yang segar dan mencerahkan.
 
Tanpa didukung kemauan dari guru untuk selalu berinovasi dalam pembelajarannya, maka pembelajaran akan menjenuhkan bagi siswa. Di samping itu, guru tidak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal. Inovasi akhirnya menjadi sesuatu yang harus dicoba untuk dilakukan.Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT), atau Information and Communication Technologies (ICT), adalah teknologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari satu perangkat ke lainnya.

Referensi

  • Isjoni dan Moh. Arif Ismail. 2008. Pembelajarn Virtual.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Isjoni dkk.. 2008. ICT Untuk Sekolah Unggul . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Ruman. 2011. Model-model Pembelajaran . Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Rusman dkk.. 2013. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan komunikasi . Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • Sutopo, Ariesto Hadi. 2012.Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan.Jakarta: Graha Ilmu.