Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Minggu, 10 Oktober 2021, 22:19 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:40:29Z
ArtikelPendidikanWawasan

Landasan Psikologi: Aliran Tingkah Laku dan Kognitif

Landasan Psikologi: Aliran Tingkah Laku dan Kognitif

Dalam proses pembelajaran ada beberapa landasan psikologi dalam belajar, dalam bahasan ini akan kita bahas mengenai landasan psikologi tingkah laku dan landasan kognitif.

Aliran Psikologi Tingkah Laku Menurut Para Ahli


1. Teori Thorndike

The Law of Effect Edward L. Thorndike (1874-1949) mengemukan beberapa hukum belajar yang dikenal dengan sebutan law of effect. Menurut hukum ini belajar akan lebih berhasil bila respon murid terhadap suatu stimulus segera diikuti dengan rasa senang atau kepuasan teori belajar stimulus respon yang dikemukakan oleh thorndike ini disebut juga koneksionisme, teori ini mengatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukan hubungan antara stimulus dan respon. Terdapat beberapa dalil:

Hukum Kesiapan (Law Of Readiness) Yaitu menerangkan bagaimana kesiapan seorang anak dalam melakukan suatu kegiatan. Seorang anak yang mempunyai kecenderungan untuk bertindak atau melakukan kegiatan tertentu dan kemudian dia benar melakukan kegiatan tersebut, maka tindakannya akan melahirkan kepuasan bagi dirinya. Tindakantindakan lain yang dia lakukan tidak menimbulkan kepuasan bagi dirinya.
 
Hukum Latihan (Law Of Exercise) dan Hukum Akibat (Law Of Effect). Hukum latihan menyatakan bahwa jika hubungan stimulus respon sering terjadi, akibatnya hubungan akan semakian kuat. Sedangkan makin jarang hubungan stimulus respon dipergunakan maka makin lemahnya hubungan yang terjadi. Dalam hukum akibat ini dapat disimpulkan bahwa kepuasan yang terlahir dari adanya ganjaran dari guru akan memberikan kepuasan bagi anak, dan anak cenderung untuk berusaha melakukan atau meningkatkan apa yang telah dicapainya itu. Guru yang memberi senyuman wajar terhadap jawaban anak, akan semakin menguatkan konsep yang tertanam pada diri anak. Kata-kata “Bagus”, “Hebat” , ”Kau sangat teliti” dan semacamnya akan merupakan hadiah bagi anak yang kelak akan meningkatkan dirinya dalam menguasai pelajaran.

Di samping itu, Thorndike mengutamakan pula bahwa kualitas dan kuantitas hasil belajar siswa tergantung dari kualitas dan kuantitas Stimulus-Respon (SR) dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Makin banyak dan makin baik kualitas S-R itu (yang diberikan guru) makin banyak dan makin baik pula hasil belajar siswa. Implikasi dari aliran pengaitan ini dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari adalah bahwa:
  • Dalam menjelaskan suatu konsep tertentu, guru sebaiknya mengambil contoh yang sekiranya sudah sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Alat peraga dari alam sekitar akan lebih dihayati.
  • Metode pemberian tugas, metode latihan (drill dan practic) akan lebih cocok. Karena siswa akan lebih banyak mendapatkan stimulus sehingga respons yang diberikan pun akan lebih banyak. c. Dalam kurikulum, materi disusun dari materi yang mudah, sedang, dan sukar sesuai dengan tingkat kelas dan tingkat sekolah. Penguasaan materi yang lebih mudah sebagai akibat untuk dapat menguasai materi yang lebih sukar.

2. Teori Skinner : Operant Conditioning

Burhus Frederic Skinner menyatakan bahwa ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) mempunyai peranan yang amat penting dalam proses belajar. Penguatan dapat dianggap sebagai stimulus positif, jika penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak dalam melakukan pengulangan perilakunya itu. Untuk mengubah tingkah laku anak dari negatif menjadi positif, guru perlu mengetahui psikologi yang dapat digunakan untuk memperkirakan dan mengendalikan tingkah laku anak.
 
Skinner menambahkan bahwa jika respon siswa baik (menunjang efektivitas pencapaian tujuan) harus segera diberikan penguatan positif agar respon tersebut lebih baik lagi, atau minimal perbuatan baik itu dipertahankan. Penemuan skinner memusatkan hubungan antara tingkah laku dan konsekuen. Contoh : jika tingkah laku individu segera diikuti oleh konsekuensi yang menyenangkan, individu akan menggunakan tingkah laku itu lagi sesering mungkin.
 
Menggunakan konsekuen yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam mengubah tingkah laku sering disebut sebagai operant conditioning. Konsekuen yang menyenangkan akan memperkuat tingkah laku, sementara konsekuen yang tidak menyenangkan akan memperlemah tingkah laku. Secara sederhana pembentukan tingkah laku dalam operant conditioning antara lain sebagai berikut :
  • Mengidentifikasi hal-hal yang merupakan reinforcement bagi tingkah laku yang akan dibentuk.
  • Melakukan analisis untuk mengidentifikasi aspek-aspek kecil yang membentuk tingkah laku yang dimaksud. Aspek-aspek tadi diurut untuk menuju terbentuknya tingkah laku tersebut
 
Dengan mempergunakan secara urut aspek-aspek itu sebagai tujuan sementara kemudian diidentifikasi reinforcer untuk masing-masing aspek atau komponen itu. Melakukan pembentukan tingkah laku dengan menggunakan urutan aspek-aspek yang telah disusun itu. Kalau aspek pertama telah dilakukan, maka hadiah (reward) diberikan ; ini mengakibatkan aspek itu sering dilkukan. Jika ini telah terbentuk, dilakukan aspek kedua dan diberi hadiah, demikian berulang-ulang sampai aspek kedua terbentuk dan demikian seterusnya terhadap aspek-aspek yang lain, samapai seluruh tingkah laku diharapkan akan terbentuk.
 
Dalam pembelajaran, operant conditioning menjamin respon terhadap stimuli. Apabila peserta didik tidak menunjukkan reaksi-rekasi terhadap stimuli, guru tidak mungkin dapat membimbing tingkah lakunya sesuai dengan tujuan. Guru berperanan penting di dalam kelas untuk mengontrol dan mengarahkan kegiatan belajar ke arah tercapainya tujuan yang telah dirumuskan.
Jenis-jenis stimuli :
  • Positive reinforcement : penyajian stimuli yang meningkatkan probabilitas suatu respons.
  • Negative reinforcement : pembatasan stimuli yang tidak menyenangkan, yang jika dihentikan akan mengakibatkan probabilitas respons.
  • Hukuman : pemberian stimulus yang tidak menyenangkan misalnya “contradiction or reprimend”. Bentuk hukuman lain berupa penangguhan stimulus yang menyenangkan (removing of pleasant or reinforcing stimulus)
  • Primary reinforcement : stimuli pemenuhan kebutuhan-kebutuhan psikologis.
  • Scondary or leraned reinforcement
  • Modifikasi tingkah laku guru : perlakuan guru terhadap peserta didik berdasarkan minat dan kesenangan mereka.
 
3. Teori Ausubel
Teori ini terkenal dengan belajar bermaknanya dan pentingnya pengulangan sebelum belajar dimulai. Ia membedakan belajar menemukan dengan belajar menerima, jadi tinggal menghafalnya. Tetapi pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh siswa, jadi tidak menerima pelajaran begitu saja. Selain itu untuk dapat membedakan antara belajar menghafal dengan belajar bermakna. Pada belajar menghafal, siswa menghafal materi yang sudah diterimanya, tetapi pada belajar bermakna materi yang diperoleh itu dikembangkan dengan keadaan lain sehingga belajar lebih dimengerti.
 
Selanjutnya bahwa Ausubel mengemukan bahwa metode ekspositori adalah metode mengajar yang baik dan bermakna. Hal ini dikemukan berdasarkan hasil penelitiannya. Belajar menerima maupun menemukan sama-sama dapat berupa belajar menghafal atau bermakna. Misalnya dalam mempelajari konsep Pitagoras tentang segitiga siku-siku, mungkin bentuk akhir c2 = b2 +a2 sudah disajikan, tetapi jika siswa memahami rumus itu selalu dikaitkan dengan sisi-sisi sebuah segitiga siku-siku akan lebih bermakna.
 
Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika advance organizer (pengatur kemajuan belajar) didefinisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. Pengatur kemajuan belajar adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi dan mencakup semua inti pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa. Jadi proses belajar berlangsung secara deduktif (dari umum ke khusus). Advance organizer dapat memberikan 3 macam manfaat, yaitu :
  • Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari siswa.
  • Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa dengan saat ini dengan apa yang akan dipelajari siswa
  • Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah. Oleh karena itu guru dituntut memiliki pengetahuan terhadap isi mata pelajaran dengan sangat baik serta dituntut pula untuk memiliki logika berfikir yang baik.
 
Dimilikinya pengetahuan terhadap isi mata pelajaran dengan sangat baik menjadikan guru mampu menemukan informasi yang berciri sangat abstrak, umum, dan inklusif sehingga mampu mewadahi apa yang akan diajarkan. Logika berfikir guru yang baik akan menjadikan guru mampu untuk memilah-milah materi pelajaran dan merumuskannya dalam rumusan yang singkat, padat, serta mengurutkan materi demi materi itu ke dalam struktur urutan yang logis dan mudah dipahami. Secara umum, teori Ausubel dalam praktek adalah sebagai berikut :
  1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional
  2. Membantu kesiapan siswa (minat, kemampuan, struktur kognitif) baik melalui tes awal, interview, review, pertanyaan, dan lain-lain.
  3. Memilih materi pelajaran dan mengaturnya dalam bentuk penyajian konsepkonsep kunci
  4. Mengidentifikasi prinsip-prinsip yang harus dikuasai siswa dari materi tersebut.
  5. Menyajikan suatu pandangan secara menyeluruh tentang apa yang harus dipelajari
  6. Membuat dan menggunakan advance organizer, paling tidak dengan cara membuat rangkuman terhadap materi yang baru saja diberikan, dilengkapi dengan uraian singkat yang menunjukkan keterkaitan antara materi yang sudah diberikan dengan materi baru yang akan diberikan.
  7. Mengajar kepada siswa untuk memahami konsep dan prinsip-prinsip yang sudah ditentukan dengan memfokuskan pada hubungan yang terjalin antara konsepkonsep yang ada.
  8. Mengevaluasi proses dan hasil belajar.
 
4. Teori Gagne
Menurut Gagne dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh langsung oleh siswa, yaitu objek langsung dan objek tidak langsung. Objek tak langsung antara lain kemampuan menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap matematika dan tahu bagaimana semestinya belajar. Sedangkan objek lansung berupa fakta, keterampilan, konsep, dan aturan. Fakta adalah objek matematika yang tinggal menerimanya, seperti lambang bilangan, sudut, dan notasi-notasi matematika lainnya.
 
Kemampuan berupa memberikan jawaban dengan tepat dan cepat,misalnya melakukan pembagian bilangan yang cukup besar dengan bagi kurang, menjumlahkan pecahan, melukis sumbu sebuah ruas garis. Konsep adalah ilmu abstrak yang memungkinkan kita dapat mengelompokkan objek ke dalam contoh dan noncontoh misalkan konsep, bujur sangkar, bilangan prima, himpunan, dan fektor. Aturan adalah objek yang paling abstrak yang berupa sifat dan teorema.
 
Menurut Gagne, belajar dapat dikelompokkan menjadi delapan titik belajar yaitu: belajar isyarat, stimulus respon, rangkaian gerak, rangkaian verbal, membedakan, pembentukan konsep, pembentukan aturan, dan pemecahan masalah. Dalam pemecahan masalah biasanya ada 5 langkah yang harus dilakukan, yaitu :
  • Menyajikan masalah dalam bentuk yang lebih jelas.
  • Menyatakan masalah dalam bentuk yang lebih operasional.
  • Menyusun hipotesis hipotesis alternattif dan prosedur kerja yang diperkirakan baik.
  • Mengetes hipotesis dan melakukan kerja untuk memperoleh hasilnya. e. Mengecek kembali hasil yang sudah diperoleh.
 
5. Teori Pavlov : Classical Conditioning
Teori classical conditioning/pembiasaan klasikal berkembang berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan oleh Ivan Petrovitch Pavlo (1849 – 1936) seorang ilmuwan Rusia yang meraih nobel pada tahun 1909 dalam bidang fisiologi. Pavlo terkenal dengan teori belajar klasik. Ia melakukan percobaan terhadap seekor anjing, anjing itu dikurung dalam suatu kandang dalam waktu tertentu dan diberi makan.
 
Selanjutnya, setiap akan diberi makan Pavlov membunyikan bel, ia memperhatikan bahwa setiap dibunyikan berl pada waktu tertentu anjing itu mangeluarkan air liurnya, walaupun tidak diberi makanan. Pavlov mengemukakan konsep pembiasaan atau conditioning. Dalalm hubugannya dalam kegiatan belajar mengajar agar siswa belajar dengan baik maka harus dibiasakan. Misalnya, agar siswa mengerjakan soal peekerjaan rumah dengan baik, biasakanlah dengan memeriksanya, menjelaskannya, atau memberi nilai terhadap hasil pekerjaannya.

6. Teori Baruda
Baruda mengemukakan bahwa siswa belajar itu melalui meniru. Pengertian meniru di sini bukan berarti menyontek, tetapi meniru hal-hal yang dilakukan oleh orang lain, terutama guru. Jika tulisan guru baik, guru berbicara sopan santun, tingkah laku yang terpuji, menerangkan dengan jelas dan sistematis, maka siswa akan menirunya. Jika contoh yang dilihat kurang baik maka ia pun akan menirunya.

Aliran Kognitif
Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya teori belajar gestalt. Peletak dasar teori gestalt adalah Max Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving. Sumbangannya diikuti oleh Koffka (1886- 1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wolfgang Kohler (1887-1959) yang meneliti tentang insight pada simpanse.
 
Penelitian-penelitian ini menumbuhkan psikologi gestalt yang menekankan bahasan pada masalah konfigurasi, struktur, dan pemetaan dalam pengalaman. Konsep penting dalam psikologi gestalt adalah insight yaitu pengamatan atau pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian di dalam suatu situasi permasalahan. Insight ini sering dihubungkan dengan pernyataan aha. Dalam prakteknya, teori ini antara lain terwujud dalam pandangan Piaget mengenai tahap-tahap perkembangan, dalam pandangan Ausubel mengenai belajar bermakna, dan pandangan Jerome Bruner mengenai belajar penemuan secara bebas (free discovery learning).

Aliran Psikologi Kognitif Menurut Para Ahli

 
1. Piaget
Menurut Jean Piaget, proses belajar sesungguhnya terdiri dari 3 tahapan, yaitu asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi (penyeimbangan). Proses asimilasi adalah proses penyatuan atau pengintegrasian informasi baru ke struktur kognitif yang telah ada ke dalam benak siswa. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif pada situasi yang baru. Equilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Misalnya seorang siswa telah memiliki pengetahuan tentang baik dan buruk. Kemudian gurunya memberi pelajaran baru tentang perbuatan baik dan buruk menurut Pancasila. Maka proses penyesuaian materi baru terhadap materi pengetahuan yang sudah dimiliki siswa itu disebut asimilasi. Jika proses ini dibalik, yaitu pengetahuan si mahasiswa disesuaikan dengan materi baru, maka proses ini disebut sebagai akomodasi.

Selama proses asimilasi dan akomodasi berlangsung, diyakini ada perubahan struktur kognitif dalam diri siswa. Proses perubahan ini suatu saat berhenti. Untuk mencapai saat berhenti dibutuhkan proses equilibrasi (penyeimbangan). Jika proses equilibrasi ini berhasil dengan baik, maka terbentuklah struktur kognitif yang baru dalam diri siswa berupa penyatuan yang harmonis antara pengetahuan lama dengan pengetahuan baru. Seseorang yang mempunyai kemampuan equilibrasi yang baik akan mampu menata berbagai informasi ke dalam urutan yang baik, jernih, dan logis. Sedangkan seseorang yang tidak memiliki kemampuan equilibrasi yang baik akan cenderung memiliki alur fikir yang ruwet, tidak logis, dan berbelit-belit. Di samping itu, Piaget berpandangan bahwa proses belajar harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif yang dilalui siswa. Dalam hal ini Piaget membagi menjadi 4 tahap, yaitu :

Tahap sensori motor (0 tahun sampai 1,5 tahun atau 2 tahun) Pada tahap ini tingkah laku inteligen individu dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulasi sensorik. Anak belum mempunyai konsep tentang objek secara tetap, namun hanya mengetahui hal-hal yang ditangkap melalui inderanya.
Tahap praoperasional (2 atau 3 tahun sampai 7 atau 8 tahun) Pada tahap ini reaksi anak terhadap stimulus sudah berupa aktivitas internal. Anak telah memiliki penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolis, imitasi, serta bayangan dalam mental. Anak sudah mampu menirukan tingkah laku yang dilihatnya sehari atau sehari sebelumnya, serta dapat mengadakan antisipasi. Akan tetapi pada masa ini pola berfikir anak masih egosentrik, cara berfikirnya memusat (hanya mampu memusatkan pikiran pada 1 dimensi saja), dan berfikirnya tidak dapat dibalik.
 
Stadium Operasional Kongkrit (7 atau 8 tahun sampai 12 atau 14 tahun) Cara berfikir egosentris semakin berkurang dan anak sudah mampu berfikir multi dimensi dalam waktu seketika dan mampu menghubungkan beberapa dimensi itu. Di samping itu, anak sudah mampu memperhatikan aspek dinamis dalam berfikir, dan mampu berfikir secara reversible (dapat dibalik).
 
Stadium Operasional Formal Cara berfikir seseorang tidak terikat, sudah terlepas dari tempat dan waktu. Bila dihadapkan pada masalah seseorang sudah mampu memikirkan secara teoritik dan menganalisa dengan penyelesaian hipotetis yang mungkin ada. Disamping itu, individu juga sudah mampu melakukan matriks kombinasi atas berbagai kemungkinan pemecahan masalah dan kemudian melakukan pengujian hipotesis atas kemungkinan-kemungkinan jawaban tersebut.
 
Implikasi pandangan Piaget dalam praktek pembelajaran adalah bahwa guru hendaknya menyesuaikan proses pembelajaran yang dilakukan dengan tahapantahapan kognitif yang dimiliki anak didik. Karena tanpa penyesuaian proses pembelajaran dengan perkembangan kognitifnya, guru maupun siswa akan mendapatkan kesulitan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan. Misalnya mengajarkan konsep-konsep abstrak tentang Pancasila kepada siswa kelas dua SD, tanpa ada usaha untuk mengkongkretkan konsep-konsep tersebut tidak hanya percuma, akan tetapi justru semakin membingungkan siswa dalam memahami konsep yang diajarkan. Secara umum, pengaplikasian teori Piaget biasanya mengikuti pola sebagai berikut :
  • Menentukan tujuan-tujuan instruksional
  • Memilih materi pelajaran
  • Menentukan topik-topik yang mungkin dipelajari secara aktif oleh siswa
  • Menentukan dan merancang kegiatan kegiatan belajar yang cocok untuk topiktopik yang akan dipelajari siswa.(Kegiatan belajar ini biasanya berbentuk eksperimentasi, problem solving, role play, dan sebagainya)
  • Mempersiapkan berbagai pertanyaan yang dapat memacu kreativitas siswa untuk berdiskusi maupun bertanya
  • Mengevaluasi proses dan hasil belajar.
 
2. Bruner
Menurut Bruner proses belajar lebih ditentukan oleh cara kita mengatur materi pelajaran dan bukan ditentukan oleh umur seseorang seperti yang telah dikemukakan oleh Piaget. Adapun proses belajar terjadi melalui tahap-tahap :
  • Enaktif, berupa aktivitas siswa untuk memahami lingkungan melalui pengalaman langsung suatu realitas.
  • Ikonik, berupa upaya siswa melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal.
  • Simbolik, berupa pemahaman siswa terhadap gagasan-agasan abstrak berupa teori-teori, penafsiran, analisis, dan sebagainya terhadap realitas yang telah diamati atau dialami.
 
Dalam aplikasi praktisnya teori belajar ini sangat membebaskan siswa untuk belajar sendiri. Oleh karena itu teori belajar ini sering dianggap bersifat discovery (belajar dengan cara menemukan). Di samping itu, karena teori ini banyak menuntut pengulangan-pengulangan sehingga desain yang berulang-ulang tersebut disebut sebagai kurikulum spiral Bruner. Kurikulum spiral ini menuntut guru untuk memberi materi perkuliahan setahap demi setahap dari yang sederhana sampai yang kompleks di mana suatu materi yang sebelumnya sudah diberikan suatu saat muncul kembali secara terintegrasi dalam suatu materi baru yang lebih kompleks. Demikian seterusnya berulang-ulang sehingga tak terasa mahasiswa telah mempelajari suatu ilmu pengetahuan secara utuh. Secara umum, teori Bruner ini bila diaplikasikan biasanya mengikuti pola sebagai berikut :
  • Menentukan tujuan-tujuan instruksional
  • Memilih materi pelajaran
  • Menentukan topik-topik yang mungkin dipelajari secara induktif oleh siswa.
  • Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi, dan sebagainya yang dapat digunakan mahasiswa untuk belajar.
  • Mengatur topik-topik pelajaran sedemikian rupa sehingga urutan topik itu bergerak dari yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke kompleks, dari tahapan-tahapam enaktif, ikonik, sampai ke tahap simbolik dan seterusnya.
  • Mengevaluasi proses dan hasil belajar.
 
3. Teori Gestalt
Tokoh aliran ini adalah John Dewey, ia mengemukakan bahwa kegiatan belajar mengajar yang diselenggarakan oleh guru harus memperhatikan hal-hal berikut :
  • Penyajian konsep harus lebih mengutamakan pengertian
  • Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar harus memperhatikan kesiapan intelektual peserta didik
  • Mengatur suasana kelas agar peserta didik siap belajar.
 
Dalam penyajian pelajaran guru jangan memberikan konsep yang harus diterima begitu saja, melainkan harus lebih mementingkan pemahaman terhadap terbentuknya konsep tersebut daripada hasil akhir. Untuk hal ini guru bertindak sebagai pembimbing dan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan proses melalui metode induktif.

4. Teori Brownell
W. Brownel mengemukakan bahwa belajar matematika harus merupakan belajar bermakna dan belajar pengertian. Dia mengeaskan bahwa belajar pada hakikatnya merupakan suatu proses yang bermakna. Teori Brownel sesuai dengan teori belajar mengajar Gestal yang menyatakan bahwa latihan hafal atau yang dikenal dengan sebutan drill adalah sangat penting dalam kegiatan pengajaran. Cara ini ditetapkan setelah tertanamnya pengertian. Aritmatika atau berhitung yang diberikan di SD dulu lebih menitikberatkan hafalan dan mengasah otak. Aplikasi dari bahan

5. Teori Dienes
Zoltan P. Dienes adalah seorang matematikawan yang memusatkan perhatiannya pada cara-cara pengajaran terhadap anak-anak. Dasar teorinya bertumpu pada teori Piaget, dan pengembangannya diorientasikan pada anak- anak, sehingga sistem yang dikembangkannya itu menarik bagi anak yang mempelajari matematika. Dienes berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai pelajaran tentang struktur, klasifikasi tentang struktur,relasi-relasi dalam struktur dan mengkategorikan hubungan-hubungan di antara struktur- struktur.


Referensi

  • Jainuri, M. Psikologi Tingkah Laku VS Psikologi Kognitif. https://www.academia.edu/7216172/Psikologi_Tingkah_Laku_VS_Psikologi_Kognitif