Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Minggu, 10 Oktober 2021, 23:57 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:46:15Z
ArtikelPendidikanWawasan

Memahami Konsep Profesi Kependidikan

Memahami Konsep Profesi Kependidikan


Pengertian Profesi Kependidikan

 

Pengertian Profesi


Secara Etimologi, kata profesi dalam bahasa Inggris adalah “profession”, dalam bahasa Belanda “professie” yang merupakan kata yang berasal dari bahasa Latin “professio” yang bermakna pengakuan atau pernyataan. Kata profesi juga terkait secara generik dengan kata “okupasi” (Indonesia), accupation (Inggris), accupatio (Latin) yang bermakna kesibukan atau kegiatan atau pekerjaan atau mata pencaharian. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dinyatakan profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan dan sebagainya) tertentu.

Menurut Tilaar (2002:86) profesi merupakan pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan di dalam suatu hirarki birokrasi yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk jabatan tersebut serta pelayanan baku terhadap masyarakat. Hal senada dipaparkan Nata (2003:138) bahwa profesi adalah pernyataan atau pengakuan tentang bidang pekerjaan atau bidang pengabdian yang dipilih. Vollmer dan Mills sebagaimana dikutip Danim (2010:56) menyatakan profesi adalah suatu pekerjaan yang menuntut kemampuan intelektual khusus yang diperoleh melalui kegiatan belajarr dan pelatihan yang bertujuan untuk menguasai keterampilan atau keahlian dalam melayani atau memberikan advis kepada orang lain dengan memperoleh upah atau gaji dalam jumlah tertentu.

Menurut Mudlofir (2014:17) profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) dari para anggotanya, artinya, profesi tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Keahlian diperoleh melalui apa yang disebut profesionalisasi yang dilakukan sebelum seorang menjalani profesi itu maupun setelah menjalani suatu profesi. Danim (2012:102) menyatakan profesi dapat diartikan suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya dengan titik tekan pada pekerjaan mentak, bukan pekerjaan manual. Kemampuan mental yang dimaksudkan adalah ada persyaratan pengetahuan teoretis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis.

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dilihat bahwa profesi sebagai terminologi memiliki banyak makna, hanya saja jika disederhanakan profesi itu dapat dimaknai sebagai pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian, ketrampilan, kejujuran dan sebagainya, sedangkan profesional berkaitan dengan profesi, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya dan mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (Nasution dan Siahaan, 2009:46).

Ada tiga pilar pokok yang ditunjukkan untuk suatu profesi, yaitu pengetahuan, keahlian, dan persiapan akademik. Pengetahuan adalah segala fenomena yang diketahui yang disistematisasikan sedemikian rupa sehingga memiliki daya prediksi, daya kontrol, dan daya aplikasi tertentu. Pada tingkat yang lebih tinggi, pengetahuan bermakna kapasitas kognitif yang dimiliki oleh seseorang melalui proses belajar. Keahlian bermakna penguasaan substansi keilmuan, yang dapat dijadikan acuan dalam bertindak. Keahlian juga bermakna kepakaran dalam cabang ilmu tertentu untuk dibedakan dengan kepakaran lainnya. Persiapan akademik mengandung makna bahwa untuk mencapai derajat profesional atau memasuki jenis profesi tertentu, diperlukan persyaratan pendidikan khusus pada lembaga pendidikan formal, khususnya jenjang perguruan tinggi.

Dari kata profesi maka terdapat bentukan kata lainnya, seperti profesional, profesionalisme, profesionalitas dan profesionalisasi. Menurut McLeod dalam Syah (2010) profesional adalah kata sifat dari kata profesi yang berarti sangat mampu melakukan pekerjaan sedangkan profesional sebagai kata benda, profesional adalah orang yang melaksanakan sebuah profesi dengan menggunakan profisiensi sebagai mata pencaharian. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian atau kecakapan yang memenuhi mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen). Menurut Djam’an Satori, “profesional menunjuk pada dua hal. Pertama, orang yang menyandang suatu profesi, misalnya, “Dia seorang profesional”. Kedua, penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaannya yang sesuai dengan profesinya.

Sementara itu menurut Walter Jhonson (1959) prefesional (professionals) sebagai “seseorang yang menampilkan suatu tugas khusus yang mempunysai tingkat kesulitan lebih dari biasa dan mempersyaratkan waktu persiapan dan pendidikan cukup lama untuk menghasilkan pencapaian kmampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang berkadar tinggi.” Pengertian lain dari Uzer Usman (1992), profesional adalah “suatu pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang secara sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum.” Kata profesional itu sendiri berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian dan sebagai kata benda yang berarti orang yang mempunyai keahlian seperti guru, dokter, hakim, dan sebagainya. Dengan kata lain, pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain. Dengan bertitik tolak pada pengertian ini, maka pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal.

Kata lain terkait dengan kata profesi adalah “profesionalisme”. Menurut Arifin (1991:105) profesionalisme berarti pandangan bahwa suatu keahlian tertentu diperlukan dalam pekerjaan tertentu yang mana keahlian itu hanya diperoleh melalui pendidikan khusus atau latihan khusus. Selanjutnya Tilaar (2002:86) memaparkan profesionalisme bermakna bahwa seorang profesional menjalankan pekerjaannya sesuai dengan tuntutan profesi atau dengan kata lain memiliki kemampuan dan sikap sesuai dengan tuntutan profesinya. Profesionalisme menurut Nata (2003:140) adalah pandangan tentang bidang pekerjaan yaitu pandangan yang menganggaap bidang pekerjaan sebagai suatu pengabdian melalui keahlian tertetu dan yang menganggap keahlian itu sebagai suatu yang harus diperbaharui secara terus menerus dengan memanfaatkan kemajuan-kemajuan yang terdapat dalam ilmu pengetahuan.

Profesionalisme menurut Saud (2010:7) menunjuk kepada komitmen para angggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Sedangkan menurut Tafsir (1992:107) profesionalisme sebagai paham yang mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang profesional. Menurut Mudlofir (2014:17) profesionalisme menunjukkan kepada komitmen/teori/paham para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya.

Selanjutnya kata “profesionalitas” yaitu merujuk pada suatu sebutan terhadap kualitas sikap para anggota suatu profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang dimiliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya (Mudlofir, 2014:5). Menurut Saud (2010:7) profesionalitas mengacu kepada sikap para anggota profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki dalam rangka melakukan pekerjaannya. Kata berikutnya “profesionalisasi”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan profesionalisasi adalah proses membuat suatu badan organisasi agar menjadi profesional. Yamin dan Maisah (2010:30) menjelaskan profesionalisasi adalah proses yang mengakibatkan pekerjaan bergerak pada tingkat yang lebih tinggi atau lebih mudah.

Menurut Danim (2012:105) profesionalisasi merupakan proses peningkatan kualifikasi atau kemampuan para anggota penyandang suatu profesi untuk mencapai kriteria standar ideal dari penampilan atau perbuatan yang diinginkan oleh profesinya itu. Profesionalisasi menurut Mudlofir (2014:18) menunjuk pada proses peningkatan kualifikasi maupun kemampuan para anggota profesi dalam mencapai kriteria yang standar dalam penampilannya sebagai suatu anggota suatu profesi. Proses profesionalisasi merupakan proses yang life-long dan neverending. Menurut Nugroho Notosusanto, profesionalisasi merupakan upaya secara sungguh-sungguh untuk mewujudkan profesi (Suwardi, 2008:21). Tilaar (2002:86) memaknai profesionalisasi adalah menjadikan atau mengembangkan suatu bidang pekerjaan atau jabatan secara profesional. Hal ini berarti pekerjaan yang dilaksanakan berdasarkan kriteria-kriteria profesi yang terus menerus berkembang sehingga tingkat keahlian, tingkat tanggung jawab (etika profesi) serta perlindungan terhadap profesi terus menerus disempurnakan. Menurut Saud (2010:7) profesionalisasi menunjuk kepada profess peningkatan kualifikasi maupun kemampuan para anggotaa profesi dalam mencapai kriteria yang standar dalam penampilannya sebagai anggota profesi. Profesionalisasi pada dasarnya merupakan serangkaian proses pengembangan profesional (professional development) baik dilakukan melalui pendidikan/latihan prajabatan maupun dalam jabatan. Oleh karena itu, profesionalisasi merupakan proses secepat seseorang telah menyatakan dirinya sebagai warga suatu profesi.

Millerson (1973, pp. 1-2) menyarankan ada tiga metode alternatif yang digunakan untuk mengidentifikasi profesi, yaitu:
  1. Looking for a set of characteristic or traits assosiated with professions. (Mencari satu set karakteristik atau ciri assosiated dengan profesi.)
  2. Looking for evidence of professionalisation (the process through which occupation are said to become professions. (Mencari bukti profesionalisasi (proses dimana pendudukan dikatakan menjadi profesi)).
  3. Developing a model of professionalism based or certain sociological aspects of professional practice(Mengembangkan model profesionalisme berbasis atau tertentu aspek sosiologis praktek profesional)
 

Pengertian Kependidikan


Pendidik mempunyai dua arti, ialah arti yang luas dan arti yang sempit. Pendidik dalam arti yang luas adalah semua orang yang berkewajiban membina anak-anak. Secara alamiah semua anak, sebelum mereka dewasa menerima pembinaan dan orang-orang dewasa agar mereka dapat berkembang dan bertumbuh secara wajar. Sebab secara alamiah pula anak manusia membutuhkan pembimbingan seperti itu karena ia dibekali insting sedikit sekali untuk mempertahankan hidupnya. Dalam hal ini orang-orang yang berkewajiban membina anak secara alamiah adalah orangtua mereka masing-masing, warga masyarakat, dan tokoh-tokohnya.

Sementara itu, pendidik dalam arti sempit adalah orang-orang yang disiapkan dengan sengaja untuk menjadi guru atau dosen. Kedua jenis pendidik ini diberi pelajaran tentang pendidikan dalam waktu relatif lama agar mereka menguasai ilmu itu dan terampil melaksanakannya di lapangan. Pendidik ini tidak cukup belajar di perguruan tinggi saja sebelum diangkat jadi guru atau dosen, melainkan juga belajar dan diajar selama mereka bekerja, agar profesionalisasi mereka semankin meningkat. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional (PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 28 ayat 1). Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku (PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 28 Ayat 2). Di atas persyaratan tersebut di atas, seorang pendidik wajib memahami dan mengamalkan dengan sebaik-baiknya pengertian atau batasan tentang pendidikan yang menjadi wilayah kerja keprofesionalannya, yaitu: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara” (UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Butir 1).

Berdasarkan pengertian-pengertian dari profesi dan pendidik yang telah diungkapkan maka dapat disimpulkan bahwan profesi kependidikan adalah pekerjaan yang disiapkan dengan sengaja untuk menjadi guru atau dosen (pendidik) yang memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
 
 

Ciri-Ciri Profesi


Sanusi mengemukakan beberapa ciri profesi ditinjau dari beberapa segi:
  1. Segi fungsi dan signifikansi sosial; suatu profesi merupakan pekerjaan yang memiliki fungsi sosial yang penting.
  2. Segi keahlian dan keterampilan; untuk mewujudkan fungsi ini dituntut derajat keahlian dan keterampilan tertentu.
  3. Memperoleh keahlian dan keterampilan yang dilakukan secara rutin, serta bersifat pemecahan masalah atau menangani situasi kritis melalui teori dan metode ilmiah.
  4. Batang tubuh ilmu; artinya profesi didasarkan kepada suatu disiplin ilmu yang jelas, sistematis dan eksplisit.
  5. Masa pendidikan; upaya mempelajari dan menguasai batang tubuh ilmu dan keahlian/keterampilan tersebut membutuhkan mass latihan yang lama dan dilakukan di tingkat perguruan tinggi.
  6. Aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional; proses pendidikan tersebut merupakan wahana untuk sosialisasi nilai profesional di kalangan mahasiswa.
  7. Kode etik tertentu dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
  8. Wewenang/kekuasaan untuk memberi suatu judgement/pendapat/ putusan.
  9. Tanggung jawab profesional atau otonomi.
  10. Pengakuan dan imbalan; sebagai imbalan dari pendidikan dan latihan yang lama, dan seluruh jasa yang diberikan kepada masyarakat, maka seorang pekerja profesional mempunyai prestise yang tinggi oleh karena itu wajar mendapat imbalan yang layak.

Ciri-ciri profesional dikemukakan oleh Schein (Pidarta 2005) yang meliputi
  1. bekerja sepenuhnya dalam jam-jam kerja (full time),
  2. pilihan kerja didasarkan pada motivasi yang kuat,
  3. memiliki seperangkat pengetahuan ilmu dan keterampilan khusus yang diperoleh lewat pendidikan dan latihan yang lama,
  4. membuat keputusan sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan atau menangani klien,
  5. pekerja berorientasi kepada pelayanan bukun untuk kepentingan pribadi,
  6. pelayanan didasarkan pada kebutuhan obyektif klien,
  7. memiliki otonomi untuk bertindak dalam menyelesaikan persoalan klien,
  8. menjadi anggota organisasi profesional esudah memenuhi persyaratan atau kriteria tertentu,
  9. memiliki kekuatan dan status yang tinggi sebagai ekspert dalam spesialisasinya, dan
  10. keahliannya itu boleh di advertensikan untuk mencari klien.

Ciri profesi yang dikemukakan di atas adalah ciri umum, artinya ciri yang berlaku untuk semua jenis profesi seperti: dokter, guru, psikolog, pengacara hukum, dan sebagainya. Dengan adanya spesifikasi dalam setiap pekerjaan maka setiap profesi akan mempunyai ciri kekhususannya pula. Ciri khusus itulah yang membedakan ativitas yang dilakukan tenaga profesional yang satu dari pekerjaan profesional lainnya.

Guru Sebagai Jabatan Profesional


Para ahli pendidikan pada umumnya memasukkan jabatan guru sebagai pekerjaan profesional, yaitu pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak dapat memperoleh pekerjaan lain. Sebagaimana telah dikemukakan terdahulu berdasarkan persyaratan umum seperti disebut di atas, jabatan guru memenuhi kriteria yang dikemukakan, oleh karena itu jabatan guru digolongkan kepada jabatan profesional. Dimana kekhususan jabatan guru dari jabatan profesional lainnya, dapat di simak dari kompetensi keguruan itu.

Istilah kompetensi merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan kemampuan yang dimiliki seseorang. Menurut Purwadarminta dalam KBBI (1990), kompetensi adalah kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Kompetensi yang ada dalam Bahasa Inggris adalah competency atau competence merupakan kata benda, menurut William D. Powell dalam aplikasi Linguist Version 1.0 (1997) diartikan: 1) kecakapan, kemampuan, kompetensi 2) wewenang. Kata sifat dari competence adalah competent yang berarti cakap, mampu, dan tangkas. Jadi kompetensi guru dapat berarti suatu kewenangan guru dalam menentukan atau memutuskan suatu permasalahan yang ada dalam suatu lingkup pembelajaran atau juga dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam menguasai pekerjaan keguruan yang bersifat operasional dan manajerial. Dengan kompetensi keguruan dimaksudkan sebagai penguasaan kecakapan kerja atau keahlian yang dituntut selaras dengan bidang kerja keguruan. Dengan kecakapan dan keahlian itu, guru mempunyai wewenang dalam melakukan pelayanan keguruannya. Dalam bentuk nyata guru yang berkompetensi mampu bekerja dalam bidang pendidikan, secara efektif dan efisien.

Kompetensi keguruan menunjukkan kualitas serta kuantitas layanan pendidikan yang dilakukan oleh guru secara terstandar. Jauh sebelum ada kebijakan nasional, Guru sebagai jabatan dituntut memiliki tiga kompetensi: kompetensi personal,- kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Kompetensi personal, yaitu kecakapan pribadi dalam mengadakan komunikasi antar personal, yang bersifat psikologis kepada siswa-siswa dan teman sejawatnya. Dengan kompetensi ini, dari seorang guru dituntut keutuhan dan integritas pribadi, dimana di dalam komunikasinya dengan pribadi-pribadi lainnya ia tidak terombang ambing dibawa arus, tetapi tetap mantap dengan sikap yang tegas yang sudah dibentuk dengan didasari nilai-nilai luhur yang diyakininya. Kompetensi sosial, yaitu kemampuan berkomunikasi sosial baik dengan siswa, dengan sesama teman guru, kepada sekolah, maupun dengan masyarakat lugas. Kemampuan memberikan pelayanan sebaikbaiknya, berarti ia dapat mengutamakan nilai kemanusiaan dari pada nilai kebendaan (material). Juga termasuk dalamnya kemampuan untuk diri dengan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. Dan Kemampuan profesional, yaitu kemampuan (a) melaksanakan tugas, dan (b) mengenai batas-batas kemampuannya, serta kesiapan dan kemampuan menemukan sumber yang dapat membantu mengatasi keterbatasan pelaksanaan tugas tersebut. Pada gilirannya kemampuan melaksanakan tugas itu dapat dirinci menjadi penguasaan terhadap bahan ajar serta sistem penyampaiannya, disamping pemahaman mengenai rasional dari pelaksanaan tugas tersebut.

Dengan perkataan lain disamping mampu melaksanakan tugasnya dengan baik, guru yang profesional juga memahami alasan-alasan serta memperkirakan dampak jangka panjang tindakan yang diambilnya dalam rangka pelaksanaan tugasnya. Tanpa kesadaran penuh mengenai kemengapaan pelaksanaan tugas akan mensejajarkan pekerjaan guru sebagai pekerjaan tukang yang dalam melaksanakan tugasnya sebatas mengikuti petunjuk pelaksanaan yang telah disiapkan pihak lain. Dikaitkan dengan kebijakan nasional, pemerintah Republik Indonesia telah merumuskan empat jenis kompetensi guru yang profesional. Keempat kompetensi tersebut telah dicantumkan dalam Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang standar Pendidikan Nasional, dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (terlampir), yakni kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Dengan adanya peraturan pemerintah tersebut diharapkan guru di Indonesia dapat menjalankan tugas dan kewajibannya secara profesional.

 

Referensi

  • Wau, Yasaratodu,dkk.(2019). Profesi Kependidikan. Penerbit Unimed Press Universitas Negeri Medan. http://digilib.unimed.ac.id/35577/31/Prakata%20dan%20Text.pdf
  • Siregar, Nurliani. Profesi Kependidikan Pendidikan Profesi Guru. http://akademik.uhn.ac.id/portal/public_html/FKIP/Nurliani_Siregar/Profesi_Kependidikan.pdf
  • Ananda, Rusydi. (2018). PROFESI PENDIDIKAN DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (Telaah Terhadap Pendidik dan Tenaga Kependidikan). http://repository.uinsu.ac.id/3584/1/5.%20BUKU%20PROFESI%20PENDIDIKAN%20DAN%20KEPENDIDIKAN.pdf