Iklan

Asrizal Wahdan Wilsa
Minggu, 10 Oktober 2021, 22:11 WIB
Last Updated 2021-10-11T17:40:02Z
ArtikelPendidikanWawasan

Model-Model Pengembangan Bahan Ajar

Model-Model Pengembangan Bahan Ajar

Ada banyak model pengembangan bahan ajar yang selama ini digunakan. Dalam mengembangkan produk terdapat berbagai langkah-langkah. Langkah-langkah tersebut bukanlah hal baku yang harus diikuti, langkah yang diambil bisa disesuaikan dengan kebutuhan pengembang. berikut ini berbagai model pengembangan bahan ajar.
 

Model ADDIE


Salah satu model desain sistem pembelajaran yang memperlihatkan tahapan-tahapan dasar desain sistem pembelajaran yang sederhana dan mudah dipelajari adalah model ADDIE. ini memiliki lima fase atau tahap utama yaitu, (A)nalysis, (D)esain, (D)evelopment, (I)mplementation dan (E)valuation. Menurut Pribadi (2009) Kelima fase dalam model ADDIE perlu dilakukan secara sistemik dan sistematik, seperti bagan dibawah ini;


Model-Model Pengembangan Bahan Ajar
Gambar 1. Model Pengembangan ADDIE


Implementasi dari model desain sistem pembelajaran ADDIE ini dilakukan secara sistematik dan sistemik. Menurut Pribadi (2009) model pengembangan ini memiliki kekurangan pada tahap analisis, pengembang diharapkan mampu menganalisis dua komponen dari siswa terlebih dahulu dengan membagi analisis menjadi dua yaitu analisis kinerja dan alisis kebutuhan. Dua komponen analisis ini yang nantinya akan mempengaruhi lamanya proses menganalisis siswa sebelum tahap pembelajaran dilaksanakan. Dua komponen ini merupakan hal yang penting karena akan mempengaruhi tahap mendesain pembelajaran yang selanjutnya.

Model Baker and Schutz

 
Langkah-langkah dari model desain sistem pembelajaran yang dikemukakan oleh Baker dan Schultz. (Pribadi, 2009)
 
a) Perumusan Mula-mula dilakukan identifikasi tentang perlu tidaknya diproduksi suatu jenis produk tertentu. Dasar-dasar yang dapat digunakan untuk menentukan adalah :

Tingkat verbalitas pesan
Materi belajar (pesan) tersebut tidak verbal, tetapi sulit dimengerti apabila diajarkan tanpa metode yang tepat dan media yag sesuai.
 
Untuk kasus di Indonesia, adalah materi dari bidang studi yang jumlah gurunya masih langka, sedangkan peminatnya relative banyak
 
Materi belajar tersebut sangat penting peranannya bagi siswa yang telah selesai belajar, yang akan bekerja, maupun yang akan meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
 
Materi belajar tersebut layak untuk diproduksi, dilihat dari segi biaya, waktu, tenaga, dan ketersediaan bahan.
 
 
b) Tahap spesifikasi
Langkah Dalam langkah kedua, kegiatan yang dilakukan antara lain adalah penentuan tujuan intuksional dalam rincian spesifik dan operasional. Dengan demikian akan memudahkan proses pengembangan produk dan pengukuran hasil belajar.
 
c) Tahap ujicoba soal
Pada tahap ujicoba ini kegiatan yang dilakukan antara lain adalah diawali dengan penyusunan instrumen ujicoba soal. Soal tersebut sebaiknya dapat mengungkapkan kesahihan dan keterandalan tingkat respon minimum yang telah ditetapkan pada langkah sebelumnya (spesifikasi langkah intruksional). Hal ini dapat dilihat dari hasil ujicoba yang dilakukan.
 
d) Tahap pengembangan produk
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada tahap ini. Pertama, siapkanlah materi pelajaran yang kelak betul-betul akan menimbulkan banyak pengelaman baru bagi siswa yang belajar. Kedua, usahakan agar bagianbagian sajian intruksional dapat disajikan dalam satu angkaian belajar yang utuh, dengan demikian maka sajiannya akan terasa padat, lengkap, singkat, dan jelas. Ketiga, ciptakan strategi pengembangan produk yang luwes jangan kaku, karena dengan strategi pengembangan luwes maka prosesnya akan menyenangkan dan memungkinkan untuk menampung berbagai saran positif serta memungkinkan diselesaikan dalam tempo yang singkat.Keempat, apabila dalam proses belajar mengajarnya nantinya melibatkan guru, maka usahakan agar perilaku, sikap dan kehadiran guru disini dapat memperjelas pesan yang disampaikan dan mendukung eksistensi produk dalam setiap proses belajar mengajar. Kelima, apabila produk tersebut dibuat untuk digunakan dalam kelas, maka kembangkanlah produk tersebut sehingga dalam pemanfaatanya akan menimbulkan perilaku guru positif dan selalu mendukung kehadiran produk tersebut didalam kelas. Keenam, usahakan agar dapat mengadopsi teknik-teknik sajian yang digunakan dalam “belajar terprogram” dengan cara yang sebaik mungkin. Ketujuh, usahakan agar produk dapat menimbulkan daya tarik istimewa bagi siswa, kaena dengan daya tarik ini akan diciptakan suasana belajar yang kondusif.
 
e) Tahap ujicoba produk
Dalam ujicoba produk menurut Schultz (1971) usahakan agar jumlah responden tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Data yang diperoleh dari ujicoba, perlu disajikan dalam rumusan yang sederhana, singkat, dan mudah dimengerti.
 
f) Tahap revisi produk
Perbaikan terhadap program contoh dilakukan atas dasar data yang diperoleh dai ujicoba dan pengalaman yang didapat. Disamping itu bagi tim produser harus mau menerima usulan perbaikan secara objektif dan lapangkan dada demi meningkatkan mutu poduk itu sendiri, karena perbaikan itu sesungguhnya adalah sesuatu yang wajar terjadi dalam setiap produksi.
 
g) Tahap analisis untuk pemanfaatan
Analisis untuk pemanfaatan program harus dapat menyimpulkan sistem pengembangan poduk secara sistematis dan menyeluruh. Apabila produk yang dihasilkan mempunyai mutu yang lebih baik disbanding dengan produk sebelumnya, maka perlu diutarakan kelebihan dan kelemahannya secara jujur.
Model-Model Pengembangan Bahan Ajar
Gambar 2. Model Pengembangan Baker and Schutz


Model ASSURE

 
Smaldino, Russel, Heinich dan Molenda (2005) mengemukakan sebuah model desain pembelajaran yang diberi nama ASSURE. Model ASSURE lebih difokuskan pada perencanaan pembelajaran untuk digunakan dalam situasi pembelajaran di dalam kelas secara aktual. Adapun langkah-langkah penting yang perlu dilakukan dalam model sistem pembelajaran ASSURE meliputi beberapa aktivitas, yaitu;
  • Melakukan analisis karakteristik siswa (analyze learner)
  • Menetapkan tujuan pembelajaran (state objectives)
  • Memilih media, metode pembelajaran, dan bahan ajar (select methods, media, and materials)
  • Memanfaatkan bahan ajar (utilize material)
  • Melibatkan siswa dalam kegiatan pembelajaran (require learners participation), dan
  • Mengevaluasi dan merevisi program pembelajaran (evaluate and revise)
Model-Model Pengembangan Bahan Ajar
Gambar 3. Model Pengambanggan ASSURE


Model Kemp, Morrison dan Ross

 
Model pengembangan Kemp, Morrison dan Ross difokuskan pada pengembangan kurikulum, yang mengembangkan model berfokus pada perspektif siswa dibandingkan pada sisi materi. Komponen-komponen yag harus diperhatikan dalam pengembangan model ini adalah:
  • Mengidentifikasi masalah pembelajaran dan tujuan pembelajaran untuk mendesain program pembelajaran.
  • Menentukan kararakteristik pebelajar,
  • Mengidentifikasi materi pembelajaran dan menganalisis komponen-komponen yang berhubungan dengan tujuan pembelajaran.
  • Menentukan tujuan pembelajaran .
  • Kesesuaian materi dengan setiap unit pembelajaran.
  • Mendesain strategi pembelajaran yang dapat menunjang penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran.
  • Merencanakan metode penyampaian pembelajaran.
  • Mengembangkan instrumen evaluasi.
  • Memilih sumber yang menunjang aktifitas pembelajaran (Morrison, Ross & Kemp 2007)
 
Model Morrison, Ross, Kemp memiliki tiga elemen yang membedakan dari model lain. Pembelajaran dilihat dari sisi pandang pembelajar, model mengambil sisi pandang umum dalam hal pengembangan (komponen saling independen) dan desain pembelajaran dipresentasikan sebagai siklus berkelanjutan. Model ini memiliki beberapa kelebihan yaitu 1) Dinamis, dimana desain pembelajarannya dapa dimulai dari mana saja. Tak perlu berurutan, sebagaimana disimbolkan oleh suatu lingkaran yang tidak memiliki garis putus, 2) menarik karena bentuknya melingkar, sebagai variasi dari model lain yang bersifat naratif (uraian) atau skema. Kelemahan model ini adalah prosedur pengembangannya yang tidak sistematis.
 

Model Dick dan Carey


Langkah-langkah pengembangan model berbasis sistem salah satunya adalah model desain pembelajaran Dick & Carey, tahapan pengembangan terdiri dari sepuluh tahapan yaitu:
  • Mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum (idenfify instructional goal).
  • Melakukan analisis pembelajaran (conduct instructional analysis).
  • Mengidentifikasi perilaku dan karakteristik pemelajar (analyze learners and contexts).
  • Merumuskan tujuan pembelajaran khusus (write performance objectives,
  • Mengembangkan butir tes acuan patokan (develop assessment instruments.
  • Mengembangkan strategi pembelajaran (develop instructional stategy).
  • Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran (develop and select instructional materials).
  • Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif (design and conduct formative evaluation of instruction).
  • Merevisi kegiatan pembelajaran (revisi instruction).
  • Desain dan pelaksanaan evaluasi sumatif (design and conduct summative evaluation).

Model Dick dan Carey, menjelaskan secara detail proses pengembangan yang dapat diterapkan pada konteks area lebih luas. Model ini merupakan salah satu model yang paling dikenal sebagai model perancangan yang sistematis dan menjadi standar bagi model desain pembelajaran lainnya. (Carey, 2005) Model ini memiliki beberapa kelebihan yaitu;
  • Memiliki komponen yang relatif banyak sehingga model ini termasuk lengkap,
  • Memisahkan antara penilaian proses belajar dan penilaian terhadap program pembelajaran,
  • Merupakan prosedur pengembangan karena adanya alur umpan balik (feedback) dan komponen revisi.

Beberapa keterbatasan model ini antara lain adalah;
  • Terlalu rumit, sehingga sulit dilaksanakan oleh seorang pemelajar,
  • Memerlukan waktu yang relatif banyak untuk mengembangkan model ini,
  • Memerlukan upaya khusus untuk mengkaji model ini.
 

Model Rothwell dan Kazanas

Model pembelajaran lain yang juga berbasis sistem adalah model Rothwell dan Kazanas (1992) Model ini memiliki sepuluh tahapan dalam pengembangannya. Tahapantahapan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Melaksanakan analisis kebutuhan,
  2. Menelusuri karakteristik peserta didik,
  3. Menganalisis lingkungan bekerja,
  4. Melaksanakan analisis pekerjaan dan materi,
  5. Merumuskan tujuan kinerja (pembelajaran),
  6. Mengembangkan pengukuran kinerja,
  7. Menyusun urutan tujuan kinerja,
  8. Menentukan strategi pembelajaran,
  9. Mendesaian materi (bahan) pembelajaran,
  10. Mengevaluasi pembelajaran.
 
Ditinjau dari keberadaan komponennya, model Rothwell dan Kazanas ini memiliki kelebihan yaitu memiliki komponen atau sub sistem yang lengkap sehingga pembelajaran merupakan upaya optimal yang sengaja dirancang agar proses belajar berlangsung secara efektif. Disamping itu model ini cocok digunakan untuk mendesain proses belajar di suatu organisasi, dan dapat digunakan untuk program pelatihan. Selain memiliki kelebihan, model ini juga memiliki beberapa kelemahan yaitu terlalu rumit dan sulit dilaksanakan oleh seorang pemelajar. Model ini hanya bisa dilakukan oleh tim anli tertentu dan membutuhkan upaya khusus dalam mengkaji model ini. Disamping itu, memerlukan waktu yang relatif banyak dan faslitas yang sesuai dalam pelaksanaannya.

Model Rowntree

 
Model Rowntree adalah salah satu model pembelajaran yang berorientasi untuk menghasilkan suatu produk tertentu (product oriented). Model ini memiliki tiga tahapan pokok dimana masing-masing tahapan memiliki beberapa sub tahapan. Berikut tiga tahapan pokok dan sub tahapan dari model ini yaitu:
 
Tahap 1: Perencanaan tentang penjabaran pebelajar yang terdiri atas:
  • Rumuskan tujuan umum dan khusus,
  • Susun garis besar isi,
  • Tentukan media,
  • Rencanakan pendukung belajar,
  • Pertimbangkan bahan ajar yang ada.
 
Tahap 2: Pengembangan (persiapan penulisan) dengan mempertimbangkan sumber-sumber dan hambatannya:
  • Urutkan ide atau gagasan penulisan,
  • Susun garis besar isi,
  • Tentukan contoh-contoh terkait,
  • Tentukan gambar atau grafis,
  • Tentukan peralatan yang dibutuhkan,
  • Rumuskan bentuk fisik yang ada.
 
Tahap 3: Penulisan dan penyuntingan yaitu:
  • Mulailah membuat draft,
  • Lengkapi draft tersebut dan suntinglah,
  • Tulislah assesment belajar,
  • Ujicobakan dan perbaiki bahan belajar.
 
Model pembelajaran yang dikembangkan oleh Rowntree ini memiliki beberapa kelebihan yaitu kejelasan pelaksanaan seluruh kegiatan desian pembelajaran, terkonsentrasi atas produksi bahan ajar tertentu sehingga mudah diikuti setiap langkahnya serta model dan cara kerjanya relatif sederhana tanpa melibatkan komponen (supra) sistem. Disamping memiliki kelebihan, model ini juga memiliki kelemahan yaitu tidak menjelaskan tentang bagaimana proses belajar terjadi karena model ini hanya terkonsentrasi untuk menghasilkan produk tertentu. Model-model pembelajaran tersebut berbeda satu sama lainnya. Namun semuanya mengandung tiga tahap, yaitu tahap definisi, tahap analisis dan pengembangan sistem dan tahap evaluasi. Perbedasaan antara model satu dengan yang lain terletak pada empat factor, yaitu: tingkat penggunaan, penggunaan istilah, jumlah langkah pada setipa tahap, dan lengkap tidaknya konsep dan prinsip yang digunakan.

Model Hanafin dan Peck

 
Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada tiga fase yaitu fase Analisis keperluan, fase desain, dan fase pengembangan dan implementasi (Hannafin & Peck 1988). Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran berorientasi produk. Bagan di bawah ini menunjukkan tiga fase utama dalam model Hannafin dan Peck (1988).
 
a) Fase pertama dari model Hannafin dan Peck adalah analisis kebutuhan.
Fase ini diperlukan untuk mengidentifikasi kebutuhankebutuhan dalam mengembangkan suatu media pembelajaran termasuklah di dalamnya tujuan dan objektif media pembelajaran yang dibuat, pengetahuan dan kemahiran yang diperlukan oleh kelompok sasaran, peralatan dan keperluan media pembelajaran. Setelah semua keperluan diidentifikasi Hannafin dan Peck (1988) menekankan untuk menjalankan penilaian terhadap hasil itu sebelum meneruskan pembangunan ke fase desain.
 
b) Fase yang kedua dari model Hannafin dan Peck adalah fase desain.
Di dalam fase ini informasi dari fase analisis dipindahkan ke dalam bentuk dokumen yang akan menjadi tujuan pembuatan media pembelajaran. Hannafin dan Peck (1988) menyatakan fase desain bertujuan untuk mengidentifikasikan dan mendokumenkan kaedah yang paling baik untuk mencapai tujuan pembuatan mdia tersebut. Salah satu dokumen yang dihasilkan dalam fase ini ialah dokumen story board yang mengikut urutan aktivitas pengajaran berdasarkan keperluan pelajaran dan objektif media pembelajaran seperti yang diperoleh dalam fase analisis keperluan. Seperti halnya pada fase pertama, penilaian perlu dijalankan dalam fase ini sebelum dilanjutkan ke fase pengembangan dan implementasi.
 
c) Fase ketiga dari model Hannafin dan Peck adalah fase pengembangan dan implementasi.
Hannafin dan Peck (1988) mengatakan aktivitas yang dilakukan pada fase ini ialah penghasilan diagram alur, pengujian, serta penilaian formatif dan penilaian sumatif. Dokumen story board akan dijadikan landasan bagi pembuatan diagram alir yang dapat membantu proses pembuatan media pembelajaran. Untuk menilai kelancaran media yang dihasilkan seperti kesinambungan link, penilaian dan pengujian dilaksanakan pada fase ini. Hasil dari proses penilaian dan pengujian ini akan digunakan dalam proses pengubahsuaian untuk mencapai kualitas media yang dikehendaki.
 
Model Hannafin dan Peck (1988) menekankan proses penilaian dan pengulangan harus mengikutsertakan proses-proses pengujian dan penilaian media pembelajaran yang melibatkan ketiga fase secara berkesinambungan. Lebih lanjut Hannafin dan Peck (1988) menyebutkan dua jenis penilaian yaitu penilaian formatif dan penilaian sumatif. Penilaian formatif ialah penilaian yang dilakukan sepanjang proses pengembangan media sedangkan penilaian sumatif dilakukan setelah media telah selesai dikembangkan.

Model Pengembangan Interactive Multimedia (IMM)

Model pengembangan interactive multimedia (IMM) disisipkan pada tahapan keenam model pengembangan instruksional (MPI), yaitu pada saat mengembangkan bahan instruksional. Model IMM ini terdiri dari empat tahap pengembangan yaitu: 1. design 2. development 3. evaluation 4. implementation Interactive Multimedia (IMM) yang dikemukakan oleh Rob Phillips (1997:38). Pada model pengembangan ini Phillips memaparkan empat tahapan dari awal mula desain produk tersebut hingga kepada produk tersebut selesai.
 
1) Design (desain).
Pada tahapan ini pengembang mulai membuat proposal pengajuan yang di dalamnya berisi mengenai penjelasan media yang akan dibuat beserta hal-hal yang dibutuhkan dalam pengembangan media, hingga kepada dana yang akan dikeluarkan.
 
2) Development (pengembangan).
Pada tahapan ini membutuhkan tim dan mulai mengembangkan produk sesuai dengan proposal yang telah diajukan. Tahapan pengembangan dimulai dari mengembangkan acuan pengembangan produk yang disebut storyboard yang berisikan garis besar produk yang akan dibuat hingga kepada pembuatan produk yang mengacu kepada storyboard yang telah dibuat.
 
3) Evaluation (evaluasi).
Tahapan ini adalah tahap untuk menguji produk yang telah selesai dikembangkan. Produk tersebut di uji coba dan dilakukan perbaikan agar dapat sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Hasil dari tahapan evaluasi ini berupa revisi produk yang bersifat membangun untuk perbaikan produk selanjutnya yang berasal dari tim pengembang serta beberapa pendapat para ahli.
 
4) Implementation (Implementasi).
Tahapan ini merupakan tahapan paling akhir dalam model IMM. Setelah produk telah selesai di desain, dikembangkan,dan dievaluasi, produk yang telah matang dapat digunakan oleh siswa pada proses pembelajaran. Dengan begitu tujuan dari dikembangkannya sebuah produk pembelajaran pada tahapan ini telah tercapai.
Model-Model Pengembangan Bahan Ajar
Gambar 4. Model Pengembangan interactive multimedia
 

Model Sekuensial Linier ( Waterfall )

Model Sekuensial Linier sering disebut Model Air Terjun. Model waterfall mengusulkan sebuah pendekatan kepada perkembangan software yang sistematik dan sekuensial yang mulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh analisis, desain, kode, pengujian, dan pemeliharaan. Model ini melingkupi aktivitas – aktivitas sebagai berikut : rekayasa dan pemodelan sistem/informasi, analisis kebutuhan, desain, coding, pemeliharaan dan pengujian.
 
Setiap phase pada Waterfall dilakukan secara berurutan namun kurang dalam iterasi pada setiap level. Dalam pengembangan Sistem Informasi berbasis web, Waterfall memiliki kekakuan untuk ke iterasi sebelumnya. Dimana Sistem Informasi berbasis Web selalu berkembang baik teknologi ataupun lingkungannya (Lestarini, 2010).
 
Model Sekunsial Linier mengikuti aktivitas-aktivitas yaitu:
a. Rekayasa dan Pemodelan Sistem/Informasi
Karena perangkat lunak merupakan bagian dari suatu sistem maka langkah pertama dimulai dengan membangun syarat semua elemen sistem dan mengalokasikan ke perangkat lunak dengan memeperhatiakn hubungannya dengan manusia, perangkat keras dan database.
 
b. Analisis Kebutuhan Perangkat Lunak
Proses menganalisis dan pengumpulan kebutuhan sistem yang sesuai dengan domain informasi tingkah laku, unjuk kerja, dan antar muka (interface) yang diperlukan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut didokumentasikan dan dilihat lagi dengan pelanggan.
 
c. Desain
Proses desain akan menerjemahkan syarat kebutuhan ke sebuah perancangan perangkat lunak yang dapat diperkirakan sebelum dibuat coding. Proses ini berfokus pada : struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi interface, dan detail (algoritma) prosedural.
 
d. Pengkodeaan (Coding)
Pengkodean merupakan prses menerjemahkan desain ke dalam suatu bahasa yang bisa dimengerti oleh komputer.
 
e. Pengujian
Proses pengujian dilakukan pada logika internal untuk memastikan semua pernyataan sudah diuji. Pengujian eksternal fungsional untuk menemukan kesalahan-kesalahan dan memastikan bahwa input akan memberikan hasil yang aktual sesuai yang dibutuhkan.
 
f. Pemeliharaan
Perangkat lunak yang sudah disampaikan kepada pelanggan pasti akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut bisa karena mengalami kesalahan karena perangkat lunak harus menyesuaikan dengan lingkungan (peripheral atau sistem operasi baru) baru, atau karena pelanggan membutuhkan perkembangan fungsional atau unjuk kerja.

Model Borg dan Gall

 
Model Borg dan Gall (1983: 775) mengajukan serangkaian tahap yang harus ditempuh dalam pendekatan ini, yaitu “research and information collecting, planning, develop preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field testing, final product revision, and dissemination and implementation”. Secara konseptual, pendekatan penelitian dan pengembangan mencakup 10 langkah umum, yaitu

Research and information collecting; termasuk dalam langkah ini antara lain studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian;
  1. Planning; termasuk dalam langkah ini merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, dan jika mungkin/diperlukan melaksanakan studi kelayakan secara terbatas;
  2. Develop preliminary form of product, yaitu mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan. Termasuk dalam langkah ini adalah persiapan komponen pendukung, menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukan evaluasi terhadap kelayakan alat-alat pendukung;
  3. Preliminary field testing, yaitu melakukan ujicoba lapangan awal dalam skala terbatas. dengan melibatkan subjek sebanyak 6 – 12 subjek. Pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi atau angket;
  4. Main product revision, yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan berdasarkan hasil ujicoba awal. Perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satu kali, sesuai dengan hasil yang ditunjukkan dalam ujicoba terbatas, sehingga diperoleh draft produk (model) utama yang siap diujicoba lebih luas;
  5. Main field testing, uji coba utama yang melibatkan seluruh mahasiswa.
  6. Operational product revision, yaitu melakukan perbaikan/penyempurnaan terhadap hasil uji coba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi;
  7. Operational field testing, yaitu langkah uji validasi terhadap model operasional yang telah dihasilkan;
  8. Final product revision, yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan guna menghasilkan produk akhir (final);
  9. Dissemination and implementation, yaitu langkah menyebarluaskan produk/model yang dikembangkan
  10. Skema tersebut dirujuk dari the major steps in the R & D cycle Borg dan Gall. Pengadaptasiannya diwujudkan dalam bentuk perencanaan teknis sasaran dan jenis kegiatan yang akan dilakukan dalam tiap tahapnya. Sukmadinata (2010) menjelaskan ”Jika kesepuluh langkah penelitian dan pengembangan diikuti dengan benar, maka akan dapat menghasilkan suatu produk pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan”.